Rumah Kalkun Pringsewu Siap Kembangkan Edu Agrowisata

LAMPUNG — Rumah Kalkun atau yang dikenal dengan Mitra Alam dan merupakan peternakan ayam kalkun di kabupaten pringsewu sudah dikenal lama. Bahkan peternakan kalkun yang berada di Jalan Betara Desa sukoharjo I, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung berjarak kurang lebih 50 km dari kota Bandar Lampung ini sering dikunjungi berbagai kalangan untuk berbagai aktifitas. 
Aktifitas yang sering dilakukan diantaranya menikmati keindahan lokasi peternakan yang berada diantara embung menyerupai danau, menikmati kuliner berbahan baku ayam kalkun, serta untuk belajar beternak dari pusat pelatihan pertanian dan perdesaan swadaya (P4S) yang dikelola oleh Ir. Bambang Cahyo Murad selaku pemilik Rumah Kalkun.
Sebagai pusat pelatihan pertanian dan perdesaan swadaya, di rumah kalkun ini memiliki populasi yang relatif banyak. Populasi saat pada bulan September ini kurang lebih mencapai sekitar 600 ekor dan sebelumnya bahkan pernah mencapai 1000 ekor (dari anakan s.d induk). Ayam Kalkun yang memiliki nama ilmiah Melleagris Galopavo ini bahkan dijual dalam dalam bentuk hidup / bibit, sudah dipotong / karkas dan siap saji(kalkun guling/panggang, sate steak dll).
Kedatangan Cendana News ke peternakan kalkun tersebut disambut dengan ramah oleh sang pemilik yang akrab dipanggil Bambang tersebut. Sebuah embung menyerupai danau menyambut pengunjung yang ingin menikmati suasana hening, serta mendengar suara kalkun yang banyak terdapat di lokasi ini. Jembatan terbuat dari bambu menjadi penghubung ke lokasi utama yang juga kediaman pribadi Bambang sekeluarga sehingga menyerupai sebuah pulau yang berada di pinggir danau lengkap dengan saung saung serta rumah menyerupai villa.
“Tamu yang berkunjung ke tempat kami tak hanya dari sekitar Lampung tetapi ada juga yang berasal dari luar negeri diantaranya Belanda serta negara lain,”ungkap Bambang yang merupakan insinyur lulusan Institut Pertanian Bogor tersebut kepada Cendana News, Sabtu (12/9/2015).
Bambang Cahyo Murad mengaku saat ini ternak kalkun miliknya di peternakan hanya sekitar kurang dari 600 ekor dengan variasi usia: dari anakan sampai yang sudah siap panen/potong. Ia mengaku sebagai kelompok P4S Mitra Alam sebagian kalkun juga dipelihara oleh kelompok yang tersebar di beberapa kepala keluarga. Beberapa bangunan kandang terbuat dari kayu, bambu beratapkan genteng berada disela sela pohon mangga, kelengkeng, pisang dan kelapa serta kako yang tumbuh subur meskipun musim kemarau.
Saat berada di lokasi tersebut, Cendana News berkesempatan melihat dari dekat cara peternakan ayam Kalkun oleh sekretaris P4S Mitra Alam yakni Maria Tyasti yang mengajak ke lokasi kandang mulai dari penentasan telur kalkun hingga kalkun dewasa serta cara pemeliharaan kalkun yang ada di rumah kalkun tersebut. 
“Proses peternakan kalkun dimulai dari penetasan dengan mesin penetas, kalkun umur beberapa minggu dan kalkun yang sudah berusia beberapa bulan dipisah dalam kandang yang berbeda. Di sini juga menjadi lokasi indukan untuk bibit kalkun,”ungkap Maria Tyas sambil menunjukkan kandang kandang berisi kalkun berbeda usia.
Unggas berbulu menyerupai burung Merak tersebut dipelihara dalam kandang kandang dengan perlakuan khusus, makanan yang dijaga kebersihannya dan bahkan dibuat sendiri oleh pemilik ternak kalkun dengan formula organik. Beberapa tanaman sebagai bahan baku makanan organik pun ditanam disekitar kandang diantaranya tanaman ginseng serta tanaman lain sebagai sumber protein alami. 
Puluhan kandang yang berisi kalkun tersebut kini menjadi sebuah pusat pelatihan kalkun baik kalangan peternak yang ingin beternak kalkun, pelajar serta mahasiswa yang ingin belajar budidaya kalkun serta penikmat kuliner yang ingin merasakan kuliner kalkun. Tyas mengaku kalkun busa diolah menjadi produk olahan diantaranya kalkun guling, kalkun panggang, steak, sate, soto, nugget, rolade, bakso, goreng tepung, soto, rendang bahkan nasi goreng kalkun pun menjadi sangat istimewa.
Sebagai langkah pengembangan, Bambang mengaku Rumah Kalkun bekerjasama dengan beberapa pemilik restoran, rumah makan, cafe serta usaha katering di wilayah Lampung yang menyajikan menu olahan daging kalkun. Sementara bagi yang ingin menikmati olahan daging kalkun di Rumah Kalkun pengunjung bisa menikmatinya di dangau sambil menikmati embung yang juga menjadi lokasi pemancingan berbagai jenis ikan emas, nila, patin, lele.
Bambang bahkan sudah menyiapkan visi ke depan menjadikan rumah kalkun sebagai rumah edukasi untuk masyarakat serta pihak yang ingin belajar beternak kalkun. Selain itu sasaran bagi para pelajar membuat Bambang terus menata Rumah kalkun untuk menjadi lokasi Edu-Agrowisata. Sebuah konsep yang sedang berjalan dan terus dilakukan pembenahan.
“Kami tidak hanya beternak kalkun semata tapi konsep Edu Agrowisata akan menjadi daya tarik untuk berkunjung ke lokasi ini baik dari kalangan pelajar, mahasiswa serta masyarakat umum,”ungkap Bambang.
Konsep edu-agro wisata tersebut bahkan diamini oleh sang puteri, Maria Tyas yang merupakan mahasiswi jurusan Bahasa Inggris di sebuah universitas negeri di Lampung yang didukung sang ayah untuk membuat rumah kalkun sekaligus sebagai kampung Inggris. Kampung Inggris tersebut merupakan konsep dimana mengenalkan alam dan lingkungan bagi pelajar menggunakan bahasa inggris sehingga pengenalan akan bahasa Inggris lebih menarik dan mudah diikuti.
“Kami juga sudah siapkan camping zone atau lokasi berkemah di tempat ini sehingga bagi yang hobi camping bisa memanfaatkan view bagus ini untuk berkemah dengan tenda tenda unik yang akan kami siapkan,”ungkap Bambang.
Camping zone yang berada diantara pohon mangga, pohon jambu Jamaica tersebut pun telah dicoba oleh CND untuk merasakan tidur dialam bebas dengan menggunakan tenda. View embung yang menjadi lokasi rumah kalkun semakin menarik minat pengunjung yang ingin berada di lokasi tersebut.
Bambang berharap edukasi yang dikemas dengan agro wisata akan semakin mengenalkan Kalkun bukan sekedar sebagai unggas yang memiliki nilai seni namun memiliki nilai ekonomis. Saat ini saja kata Bambang untuk daging ayam kalkun siap masak di jual sekitar Rp70 ribu/kg, sedangkan untuk harga ayam kalkun hidup di jual antara Rp50—55 ribu/kg bahkan untuk jenis tertentu berdasarkan umur bisa mencapai Rp150ribu perekor.
Sejauh ini pemasaran daging kalkun memang masih dalam kalangan terbatas, yaitu masih melayani pesanan di hotel-hotel atau masyarakat menengah keatas. Namun demikian kedepan akan terus di upayakan menembus pangsa pasar untuk kalangan biasa. Bambang mengakui selama ini memang belum ada rumah makan khusus yang menggunakan daging kalkun baik di Pringsewu ataupun di Bandarlampung.
Bambang mengakui jika dilihat dari prospek budi daya ternak kalkun sesungguhnya adalah peluang usaha yang sangat bagus karena ternak hewan ini masih sangat jarang di masyarakat. Menurutnya, ternak ayam kalkun selama ini memang hanya dijadikan sebagai unggas hiasan, namun belum dimanfaatkan dagingnya sebagai bahan pangan. 
Sebagai pusat pelatihan pertanian dan perdesaan swadaya (P4S) Bambang ke depan ingin menjadikan lokasi tersebut bukan sekedar sebagai peternakan namun bisa menjadi tempat edukasi. Konsep Edu Agrowisata yang diharapkan memberi nilai positif bagi pengunjung dari berbagai kalangan dan setelah meninggalkan rumah kalkun bisa mendapatkan ilmu untuk bidang pertanian maupun peternakan.

SABTU, 12 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...