![]() |
| Bank Sampah di Jl. Manyar Tegal kota Surabaya |
SURABAYA—Surabaya sebagai kota metropolitan kedua setelah Jakarta memiliki masalah tersendiri mengenai sampah. Baik sampah rumah tangga, maupun limbah domestik atau saluran pembuangan bekas cuci dan mandi warga.
Perihal kesadaran menjaga kebersihan, Menurut Wawan Some selaku Koordinator Komunitas Nol Sampah (KNS), masyarakat Surabaya sudah semakin sadar menjaga kebersihan lingkungan, terutama dalam menangani sampah.
“Masyarakat di kampung-kampung misalnya membuat program bank sampah. Bank sampah sendiri merupakan kegiatan spontan dan solidaritas warga dalam menangani sampah,” Jelasnya saat ditemui Cendana News. Rabu (9/9).
Ia menambahkan, Pemerintah Kota Surabaya memiliki pelayanan terbaik mengenai pengambilan sampah dari warga. Hanya saja layanan ini belum mampu menjangkau semua wilayah, baru sebagian kecil yang dilayani.
“Cuma sebagian kecil, jadi bisa dibenahi sedikit demi sedikit. Secara keseluruhan sudah sangat bagus, Pemkot Surabaya mampu mengambil sampah dari warga itu sudah luar biasa. Di kota lain belum ada yang seperti ini,” Tandasnya.
Sebanyak 86% sampah di Surabaya sudah teratasi dengan baik, sampah-sampah tersebut diangkut untuk kemudian dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hal positif lain dalam pengelolaan sampah di Surabaya, sampah yang ada di TPA diolah menjadi sumber bahan baku listrik. Pengelolaan sampah ini dilaksanakan oleh pihak swasta yang dipercaya oleh Pemkot.
Terkait Bank Sampah yang dikelola swadaya oleh masyarakat perlu adanya inovasi guna meningkatkan nilai jual dari hasil bank sampah ini. “Inovasi yang bisa dilakukan adalah melakukan pemisahan antara sampah kertas dan plastik. Selanjutnya, sampah plastik bisa dicacah (dihancurkan) untuk kemudian dijual untuk bahan dasar pembuatan perlengkapan rumah tangga berbahan plastik daur ulang,” Imbuhnya.
Wawan menjelaskan perbedaan nilai jual antara sampah kertas koran dan HVS. Apabila kedua jenis kertas ini dicampur, harga jualnya rendah karena pembeli/pengepul akan membeli dengan harga kertas koran. Harga jual akan menjadi tinggi apabila kertas HVS dijual terpisah.
Selain sampah kertas, ia juga menjelaskan perihal sampah plastik di Surabaya. Pada tahun 1988, Wawan menyampaikan sampah plastik hanya 5%, sedangkan pada tahun 2015, sampah plastik sudah mencapai 17% dari total keseluruhan sampah. Dengan adanya peningkatan jumlah sampah plastik, tentunya diperlukan inovasi mengingat sampah plastik adalah jenis sampah yang tidak bisa mengurai oleh bakteri pembusuk. Sehingga, solusi satu-satunya adalah melakukan daur ulang.
Awal dari proses daur ulang tersebut adalah dengan menghancurkan sampah plastik, yang kemudian bisa dijual ke pabrik pembuat perlengkapan rumah tangga seperti ember, baskom atau bak mandi.
Apabila sampah plastik tidak dicacah/hancurkan, skema penjualannya adalah bank sampah – pengepul perorangan-pengepul besar-pabrik. Tetapi jika masyarakat “nasabah” bank sampah memiliki alat penghancur/pencacah sendiri maka skemanya menjadi lebih sederhana yaitu dari bank sampah bisa langsung ke pabrik, hal ini jelas mempengaruhi harga jual, dan menambah keuntungan bagi bank sampah” Jelasnya.
Masalah lain yang perlu diselesaikan yaitu masalah ‘grey water’ yang ada di Surabaya. Grey water ini akibat limbah domestik (limbah air cuci pakaian, air bekas mandi, dll) yang dialirkan ke sungai. Pengamat Tata Kota Surabaya, Prof. Dr. Ir. Johan Silas mengungkapkan masalah grey water ini hanya berada di kawasan marginal.
“Sebanyak 146 Ha yang bermasalah dengan grey water dari total 35 ribu Ha kota Surabaya, ini sudah dibawah 1%,” Ungkapnya.
Masyarakat yang berada di kawasan marginal ini biasanya memberikan alasan kekurangan lahan untuk pembuangan limbahnya.
“Ini perlu sosialisasi dan solusi terkait masalah lahan. Selain itu kawasan marginal biasanya diisi oleh pendatang. Sehingga kebiasaan di daerah asalnya yang mungkin terbiasa membuang sampah atau limbah sembarangan masih berlanjut hingga di Surabaya,” Tegasnya.
Johan menambahkan, limbah domestik yang dialirkan ke sungai kemudian mengalir ke laut, laut sebenarnya bisa mengolah limbah tersebut melalui proses yang lebih dikenal dengan porifikasi alami, tetapi jika sampah dan limbah dari 3 juta penduduk maka laut tidak bisa mengolahnya, ketika laut tak lagi mampu mengolah maka kerang, ikan dan alga akan mati. Pencemaran laut pun terjadi.
“Pemkot Surabaya jika tidak mampu menangani seharusnya masyarakat dilibatkan secara aktif, tentunya dengan dorongan dan dukungan dari pemerintah dan swasta. Sumber dana bisa didapatkan dari LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), perusahaan swasta juga CSR (Corporate Social Responsibility),” Tegasnya.
Sosialisasi terhadap permasalahan lingkungan harus terus digalakan demi terciptanya lingkungan yang bersih, nyaman dan aman. Masyarakat juga perlu dilibatkan secara aktif selain adanya peran dari pemerintah dan swasta. Kesadaran masyarakat Surabaya yang semakin bertambah akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan merupakan salah satu modal besar bahwa masalah sampah di Surabaya akan bisa teratasi dengan baik sehingga lingkungan di kota Arek Suroboyo ini tetap sehat.
RABU, 9 SEPTEMBER 2015
Jurnalis : Charolin Pebrianti
Foto : Charolin Pebrianti
Editor : Sari Puspita Ayu