
LAMPUNG — Ratusan pemilik jasa ekspedisi tujuan Pulau Jawa ke Pulau Sumatera dan sebaliknya memilih perjalanan malam hari untuk pengangkutan berbagai jenis barang. Pilihan perjalanan di malam hari tersebut dilakukan memperhitungkan berbagai faktor seiring dengan semakin anjloknya nilai tukar rupiah yang berdampak pada lesunya sektor usaha ekspedisi.
Menurut salah satu pemilik jasa ekspedisi “Predator” Lukman Hakim, usaha ekspedisi berkaitan erat dengan ketahanan kendaraan serta merawat armada untuk proses pengangkutan baik barang kebutuhan pokok (sembako) maupun kebutuhan lain. Salah satu hal mendasar yang dipertahankan oleh para pemilik jasa ekspedisi diantaranya kondisi kendaraan sehingga jasa ekspedisi memilih waktu.
“Perjalanan ekspedisi yang dilakukan memiliki dua ritme yang pertama ekspedisi yang membutuhkan ketepatan waktu serta ekspedisi yang penting sampai ke tujuan dengan tetap dibatasi waktu juga,”ungkap Lukman Hakim kepada Cendana News, Selasa (01/09/2015).
Pada kendaraan kendaraan ekspedisi yang membawa barang barang cepat membusuk, Lukman mengungkapkan akan lebih memperhitungkan ketepatan waktu sehingga meski siang hari pun tetap harus berangkat. Sementara jika hanya membawa angkutan berupa kayu, batu, atau bahan yang tak mudah membusuk maka akan lebih memilih untuk melakukan perjalanan malam hari.
Lukman mengaku ia memiliki sekitar 10 armada truk ukuran sedang yang rata rata mengirim barang barang hasil bumi dari Pulau Sumatera yang akan dikirim ke Pulau Jawa diantaranya: jengkol, jeruk, kelapa, sayur sayuran. Para sopir yang dimintanya mengantar barang biasanya sudah bersiap sejak sore hari dan mulai berangkat dalam perjalanan menjelang malam hari. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 6 hingga 8 jam dari Lampung ke Tangerang dan pinggiran Jakarta diperhitungkan dengan menyesuaikan lamanya perjalanan di kapal laut Selat Sunda.
Keuntungan dari perjalanan malam hari tersebut menurut Lukman, perjalanan malam hari tersebut dilakukan untuk efesiensi biaya operasional yang diasumsikan dengan banyak faktor. Dari sisi operasional kendaraan perjalanan malam hari akan menjaga kondisi mesin, kondisi onderdil, kondisi ban yang pada siang hari lebih mudah mengalami “aus” terutama saat kondisi aspal sedang panas. Dalam kondisi harga harga sparepart kendaraan yang mahal saat ini efesiensi untuk pengiriman barang sangat diperlukan.
“Kami harus melakukan perhitungan terkait biaya operasional sekaligus berapa yang kami dapat karena kami berbisnis untuk mencari untung bukan untuk rugi,”ungkap Lukman.
Senada dengan Lukman, pemilik jasa ekspedisi lain Adi, mengaku kendaraan miliknya setiap tiga hari sekali hanya melakukan pengiriman komoditas pisang dari wilayah Lampung menuju Jakarta. Adi mengungkapkan setiap melakukan perjalanan untuk mengirim sekitar 300 hingga 500 tandan pisang ke Tangerang sudah dipersiapkan sekitar pukul 16:00 WIB sehingga bisa berangkat ke Tangerang saat menjelang maghrib.
“Kalau perjalanan agak santai kami bisa sampai di Tangerang dini hari apalagi menyeberang menggunakan kapal yang bagus dan tidak lama mengapung di laut,”ungkap Adi.
Ia mengaku selain membawa komoditas pisang terkadang membawa sayur mayur sehingga harus lebih cepat dikirim dan menghindari perjalanan siang hari. Perjalanan malam hari dirasa lebih efesien dengan sopir cadangan yang akan menggantikan kemudi saat diperlukan.
Jasa ekspedisi di Jalan Lintas Sumatera pada sore hingga malam hari bahkan terlihat mendominasi jalan. Truk truk yang memilih “konvoi” demi keamanan juga jika terjadi insiden kerusakan; pecah ban, mogok sehingga konvoi hingga 4 kendaraan masing masing pengemudi dan kernet bisa saling bantu.
Fenomena pemilihan perjalanan malam hari tersebut dibenarkan oleh Sekretaris DPC Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Bakauheni, Warsa. Ia mengungkapkan pengaruh kenaikan dollar membuat pemilik jasa ekspedisi akan melakukan “penghematan” dengan melakukan langkah langkah diantaranya melakukan perjalanan malam hari.
Ia mengungkapkan berdasarkan data presentase truk yang naik kapal pada malam hari akan lebih tinggi dibandingkan siang hari dan mengalami kenaikan dari 10 hingga 15 persen. Pola tersebut dimaklumi oleh Warsa selaku sekretaris Gapasdap sebagai sebuah “trik” pemilik jasa ekspedisi.
“Tak mengherankan banyak truk yang pada siang hari beristirahat di beberapa rumah makan baik dari arah Jambi, Bengkulu, Palembang dan akan bergerak ke Pelabuhan Bakauheni pada sore menjelang malam hari,”ungkap Warsa.
Langkah tersebut dari cara pandang sederhana menurut Warsa bisa dijelaskan dengan perhitungan perjalanan malam hari relatif sepi karena aktifitas pengguna kendaraan di Jalinsum lebih sepi terutama masyarakat yang bekerja di siang hari. Selain kelancaran, tingkat keawetan sparepart mobil juga lebih bisa dihemat, dan dari faktor faktor efesiensi lainnya sopir lebih memilih perjalanan malam hari karena secara fisik tidak cepat membuat lelah saat perjalanan mengirim barang.
Sesampainya di Pulau Jawa yang biasanya mengirim barang barang komoditas pertanian, sekembalinya ke Pulau Sumatera truk ekspedisi tersebut tetap mencari “muatan” untuk dikirim ke Pulau Sumatera. Muatan tersebut menjadi wajib sebab dengan berangkat mengirim barang namun pulang tak membawa muatan justru akan membuat rugi kendaraan dari sisi operasional.
Jasa ekspedisi juga tak boleh dilihat sebelah mata, sebab berdasarkan pengalaman ungkap Warsa, kondisi perairan di Selat Sunda saat cuaca buruk bisa “melumpuhkan” distribusi barang. Akibatnya banyak sayur mayur terpaksa membusuk dan belum bisa dikirim karena kapal tak beroperasi dan mengakibatkan kemacetan panjang. Namun semenjak kapal kapal di Selat Sunda ditingkatkan kapasitasnya menjadi di atas 5000 GT pelayaran lebih lancar dan jasa ekspedisi tak perlu kuatir akan tertunda distribusinya.
Sementara itu dari pantauan Cendana News para pemilik jasa ekspedisi kini memiliki dua pilihan untuk menyeberang dari Pulau Sumatera dan sebaliknya baik menggunakan kapal Roll on Roll Off (Roro) di PT ASDP Bakauheni maupun menggunakan kapal Landing Craft Tank (LCT) di PT Bandar Bakau Jaya di Muara Piluk Bakauheni.

SELASA, 1 SEPTEMBER 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo