
SEMARANG — Di kota – kota besar, contohnya seperti di Semarang, Jawa Tengah, semakin hari berbagai jenis kendaraan semakin banyak, namun laju pertumbuhannya tidak sesuai dengan kemampuan insfrastrukur jalan.
Akibatnya setiap tahun arus lalu lintas bukannya malah semakin lancar tapi semakin semrawut dan macet tak terhindarkan di mana – mana, hampir di semua wilayah perkotaan, baik kota ” Metropolitan ” maupun kota yang sedang berkembang.
Hal ini tentu merugikan banyak pihak, salah satunya orang yang ingin menyeberang jalan, beberapa tahun yang lalu, saat kendaraan bermotor tidak sebanyak sekarang, orang yang menyeberang jalan karena suatu keperluan, tak perlu repot seperti sekarang.
Jaman dulu, saat belum seramai sekarang, penyeberang tinggal tengok kanan – kiri, kalau sekiranya sudah lengang tak ada kendaraan, orang tinggal jalan saja dengan santai, tanpa takut ” was – was ” khawatir kemungkinan tertabrak kendaraan.
Lain dulu, lain pula sekarang, dengan semakin padatnya kendaraan yang jaraknya sangat rapat dan berhimpitan, bisa dikatakan hampir “Mustahil” warga masyarakat bisa menyeberang jalan dengan seenaknya seperti dulu.
Apalagi di jalan – jalan “Arteri” yang merupakan jalur utama yang paling banyak dilalui kendaraan, jangankan bisa menyeberang, memutar balik arah kendaraan saja, bukan main susahnya.
Untuk menghindari hal – hal yang tak diinginkan, pemerintah setempat sebenarnya telah lama membangun “Jembatan Penyeberangan” di berbagai tempat. Jembatan tersebut dibangun dengan tujuan untuk menjaga keselamatan para pejalan kaki yang lalu – lalang menyeberang jalan.
Dengan adanya fasilitas jembatan penyeberangan tersebut, sekarang warga masyarakat yang ingin menyeberang jalan “Dilarang Keras” melintas bukan pada tempat yang semestinya, kalau nekat risikonya tanggung sendiri, kemungkinan tertabrak lebih besar daripada selamatnya.
Kini jembatan penyeberangan maikin banyak diminati warga masyarakat setempat, sekarang mereka benar – benar merasakan manfaat dan kegunaannya. Warga merasa nyaman dengan salah satu fasilitas publik tersebut, walau terkadang agak kerepotan, karena meraka harus berjalan menaiki dan menuruni tangga yang tinggi.
Ruli, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Jatingaleh, Semarang atas, yang hampir tiap hari, dia beserta anak – anak memanfaatkan jembatan penyeberangan di kawasan Ksatrian Arhanud Jatingaleh.
Dia menambahkan, kalau tidak ada jembatan semacam ini, Ruli berserta anaknya tidak tahu lagi harus menyeberang lewat mana, kalau melihat kepadatan arus lalu lintas seperti sekarang ini.
Dia berharap kepada pemerintah setempat, agar memperbanyak lagi jembatan – jembatan penyeberangan seperti ini dimasa mendatang, selain aman dan nyaman.
“Jembatan ini multi fungsi, bisa dijadikan alternatif untuk tempat berteduh di saat musim penghujan tiba ” pungkasnya.


JUMAT, 14 Agustus 2015
Jurnalis : Eko Sulestyono
Foto : Eko Sulestyono
Foto : Eko Sulestyono
Editor : ME. Bijo Dirajo