Wirotho Purwo, Tema Pagelaran Wayang Memperingati Hari Lahir HM.Soeharto

H. Begug Purnomosidi ketika menerima sertifikat MURI
CENDANANEWS (Wonogiri) — Memperingati hari lahir Presiden RI ke 2, Jenderal Besar HM.Soeharto, masyarakat Wonogiri yang dimotori mantan Bupati Wonogiri H.Begug Purnomosidi selengarakan pagelaran wayang kolaborasi oleh delapan dalang dalam tiga panggung sekaligus, dengan lakon (cerita) Wirotho Purwo, mengisahkan kembalinya Pandawa dari pengasingan dan persembunyian akibat kalah dadu, Menurut H. Begug Purnomosidi, ini menyimbulkan kemunculan keluarga Cendana dalam panggung politik nasional secara terbuka. 
Sembilan dalang yang berkolaborasi adalah H. Begug Purnomosidi (Mantan Bupati Wonogiri) atau lebih dikenal dengan sebutan Ki Bodroyono Begug Purnomosidi, Kanjeng Suro Agul-Agul, Widodo Wilis, Sigit Mursita, Eka Sunarsono, Putut Wijayanto, Jedor Sularno, H. Narto Guna Wiyono, I. Pujono Gumelar. 
Dikisahkan setelah Padawa Wanaprasta akibat kalah dalam peristiwa dadu selama dua belas tahun, kini Pandawa harus bersembunyi di keramaian dengan cara menyamar agar tidak diketahui oleh para Kurawa. Bima sebagai jagal, Puntadewa sebagai lurah pasar, Arjua sebagai guru tari, Nakula dan Sadewa sebagai juru tani dan penjaga ternak. 
Rupa Kenca, Kencaka dan Raja Mala yang menginginkan  tahta kerajaan Wiratha dengan berkedok “adi jago manusia” telah menyiapkan siasat jahatnya. Namun oleh Bima sebagai jago Wiratha, dikisahkan berhasil membunuh ketiganya. 
Tak hanya itu, amukan Praba Susarma dan Trigarta yang telah bersekongkol dengan Prabu Duryudana untuk mencari Pandawa berhasil membuat kalang kabut Wiratha dan membelenggu Prabu Matawapati. Namun Bilawa dapat menolongnya dan membunuh Susarma. Tapi amukan Kurawa dan senopati-senopati unggulannya (Bisma, Surna, Karna) tak mampu dihalau oleh Wadah Wiratha, yang akhirnya Wrehatnala maju ke medan laga dengan dikusiri oleh Raden Utara. Pusaka-pusaka Wrehatnala berhasil memukul mundur Wadya Astina. 
Walaupun mereka sebagai Senopati sesepuh Astina mengetahui bahwa Pandawa bersembunyi di Wiratha, namun hari ini telah selesai masa persembunyiannya sesuai perjanjian dulu. Dikisahkan bahwa sesuai perjanjian itu, Pandawa berhak sepenuhnya atas Astina dan Indra Prastha. 
Munculnya para Pandawa dalam pagelaran ini diartikan sebagai kemunculan kembali Putra-Putri Pak Harto. Setelah reformasi kurang lebih 17 tahun keluarga Pak Harto seakan-akan tersingkir dari bumi Nusantara yang Pak Harto besarkan. Akhir-akhir ini setelah silih berganti pimpinan negara, akhirnya terdengar sayup-sayup suara hati rakyat Nusantara “Isih penak jamanku to???. 
Tarian Bedoyo Tumuruning Katresnan karya H. Begug Purnomosidi
Reog yang ditampilkan di sela-sela pagelaran wayang
Beberapa tamu undangan
Antusias masyarakat Wonogiri mengikuti acara peringatan Hari Lahir Pak Harto
————————————————————-
Senin, 8 Juni 2015
Sumber : H. Begug Purnomosidi 
Foto : Cendana News
Editor : Sari Puspita Ayu
————————————————————-
Lihat juga...