![]() |
| Pasar Manggis |
DENPASAR – Atas persetujuan Bupati Karangasem, Wayan Geredek, pada tahun 2011, setelah melakukan pembebasan tanah perkebunan kelapa dan pisang penduduk seluas dua hektar, dibangun Pasar Seni Manggis di Desa Pakraman Manggis, Karangasem. Proyek pengentasan kemiskinan dengan memberdayakan penduduk desa Manggis ini menelan biaya APBD Karangasem sebesar 1,5 Milyar rupiah.
Pasar Seni yang letaknya berhadapan dengan Setra (kuburan) ini dimaksudkan untuk melayani wisatawan-wisatawan kapal pesiar yang berlabuh di Pelabuhan Tanah Ampo, Manggis, Karangasem. Namun apa daya, Pembangunan Pelabuhan tersebut juga berkendala besar sehingga tidak ada kapal pesiar yang datang.
Awal tahun 2013 di gelontorkan lagi dana segar APBD Karangasem sebesar 800 juta rupiah untuk merenovasi Pasar Seni menjadi Pasar Tradisional Desa Manggis. Akhirnya diresmikan kembali akhir desember 2013. Namun, seakan tidak belajar dari pengalaman awal, maka pasar ini akhirnya Mangkrak ditinggalkan pedagang sejak bulan Juli 2014 sampai sekarang.
Penduduk sekitar sangat menyayangkan mangkraknya Pasar dengan eksterior Bali nan megah tersebut yang sekarang hanya menjadi lapangan rumput ilalang tak berpenghuni.
Wayan, seorang petani yang kami temui di Setra (kuburan) didepan lokasi Pasar Manggis mengatakan, lebih baik saat masih jadi Kebun Kelapa dan Pisang.
“Desa ini bisa memberikan sumbangsih komoditas Pisang dan Kelapa yang cukup besar,” kata Wayan singkat.
Alasan pedagang meninggalkan kios-kios dagangan didalam pasar adalah karena sepi pembeli. Disamping itu terlalu banyaknya perubahan-perubahan dari Pasar Seni menjadi Pasar Tradisional seakan meninggalkan kesan bahwa Pemerintah Daerah Karangasem tidak memiliki visi dan misi yang jelas dalam membangun pasar tersebut.
Pedagang-pedagang di relokasi oleh aparatur desa ke lahan trotoar di samping Pasar Manggis. Dari sekitar dua puluh pedagang, sekarang hanya tersisa delapan pedagang aktif. Ibu Iluh, pedagang Minuman dan makanan khas Bali Serombotan ini merupakan pedagang paling senior yang sudah berdagang sejak Pasar pertama kali diresmikan.
“Jika pasar diaktifkan kembali, saya mau pindah lagi kesana, tapi harus serius penanganannya, karena kita ingin berdagang menyambung hidup bukannya kelinci percobaan,” ujar Iluh agak kesal.
Komentar agak tenang datang dari tetangga Ibu Iluh yaitu Ibu Putu, pedagang minuman dan nasi campur Bali. ” saya juga mau pindah lagi kesana, mau bagaimana lagi? saya mengikuti apa kata perangkat desa saja,” tutur Ibu Putu dengan keluguannya.



——————————————————-
Kamis, 11 Juni 2015
Jurnalis : Miechell Koagouw
Fotografer : Miechell Koagouw
Editor : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-