Pak Tua ini Menyambung Hidup di Malang dengan Berjualan “Sule”

MALANG – Selain dapat diolah menjadi bahan makanan seperti tahu dan tempe, kedelai juga dapat di olah menjadi susu kedelai. Selain sebagai sumber protein, susu kedelai juga baik untuk kesehatan tulang. Hal ini yang menjadikan susu kedelai banyak dicari dan digemari oleh sebagian besar masyarakat.
Pak Manto (74) penjual susu kedelai “Sule” saat ditemui di tempat berjualannya di dalam kawasan Universitas Brawijaya (UB), terlihat dengan sabar dan ramah sedang melayani setiap pembeli yang datang. Dengan suara yang halus dan senyumnya yang terus mengembang, Pak Manto juga tidak segan menawarkan susu kedelainya kepada setiap mahasiswa yang lewat.
Pria kelahiran Banyuwangi yang sudah 35 tahun tinggal di Malang ini sudah mulai memproduksi dan menjual susu kedelai sejak 3,5 tahun yang lalu. 
“Awalnya, dulu dengan menggunakan sepeda saya tidak hanya berjualan di UB namun juga berjualan di Univesitas Negeri Malang (UM). Namun karena faktor tenaga dan usia yang sudah tidak muda lagi akhirnya saya memutuskan hanya berjualan di sekitar UB. Dengan harga Rp. 2.500,- per gelasnya, Alhamdulillah setiap hari susu kedelai yang dia jual selalu habis,” ceritanya memulai obrolannya dengan CND.
Di luar bulan puasa, dirinya biasa berjualan mulai pukul 08.00-14.00 wib. Tetapi pada dalam bulan puasa seperti sekarang, dia biasanya mulai berjualan pukul 14.30 wib sampai dengan 17.00 wib, ucapnya.
Dengan dibantu istrinya, Pak Manto setiap hari bisa menghabiskan 4,5 Kg kedelai untuk dijadikan 300 gelas susu kedelai setiap harinya. Untuk membuat susu kedelai membutuhkan waktu yang cukup lama karena kedelai masih harus direndam dengan air selama kurang lebih enam jam agar kedelai bisa menjadi lunak ketika di giling. 
“Setelah direndam, kedelai kemudian digiling menggunakan alat penggiling yang sekaligus bisa langsung memisahkan antara ampas dengan sari kedelai,” jelasnya.
Pak Manto mengaku alat penggiling kedelainya dia peroleh dari bantuan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UB). Selain alat penggiling, dia juga mendapat bantuan mesin Press untuk menutup gelas plastik untuk susu kedelainya.
Pria ramah dan murah senyum ini juga menjamin, susu kedelai buatannya murni dari kedelai dan tidak mengandung bahan pengawet maupun bahan-bahan berbahaya yang tidak dianjurkan oleh pemerintah. Dia hanya mencampurkan sedikit perasa khusus minuman seperti rasa melon, strawbery dan mocca. Dirinya berani menjamin, karena produk susu kedelainya sudah melalui serangkaian tes jaminan mutu dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP UB).
“Saya tidak berani menambahkan bahan yang aneh-aneh. Kasihan, karena selain mahasiswa, susu kedelainya juga di sukai anak-anak kecil termasuk cucunya,” ucapnya.
Karena tidak menggunakan bahan pengawet, susu kedelai buatannya hanya bertahan satu hari jika tidak disimpan di dalam lemari pendingin. Namun jika disimpan di dalam lemari pendingin, susu kedelainya bisa bertahan sampai tiga hari, terang Manto.
Selain berkeliling menggunakan sepedah dari satu fakultas ke fakultas yang lain, Manto juga mengaku menitipkan susu kedelainya ke kantin-kantin fakultas yang ada di UB. Dirinya juga menerima pesanan bagi yang berminat dengan susu kedelai buatannya.
Bapak dari tiga orang anak yang semuanya sudah berkeluarga ini mengaku penghasilan yang dia dapat dari berjualan susu kedelai ini meskipun tidak seberapa, namun dirinya tetap bersyukur karena bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Alhamdulillah, penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari”, ujarnya.

——————————————————-
KAMIS, 25 Juni 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...