![]() |
| Buku Merobek Sumatera |
CENDANANEWS (Padang) – Jurnalisme warga dan catatan sebuah perjalanan menjadi diskusi yang menarik. Apalagi jika itu menjadi buku yang bisa menjadi rujukan terkini tentang kebudayaan, yang ditulis renyah dan atraktif. Merobek Sumatra, buku dengan 11 artikel yang bercerita tentang kehidupan sosial, sejarah, mitos dan kesenjangan yang terjadi di “Pulau Andalas” tersebut.
Buku yang ditulis oleh Fatris MF ini, dibedah oleh tiga orang dari disiplin ilmu berbeda dan dihadiri oleh para penyair, sastrawan, budayawan dan praktisi kebudayaan Sumatera Barat (Sumbar) pada Kamis (28/5/2015) pagi.
“Tulisan ini telah dirangkum sejak 3 tahun silam, akhir tahun kemarin (2014) dikirim dan penerbit suka, maka diterbitkan,” ujar Fatris saat membeberkan proses kreatifnya di acara bedah buku Merobek Sumatra di lesehan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas (Unand).
Fatris berkisah tentang temuan-temuannya di berbagai daerah di sumatera. Sejatinya, tulisan yang ia kirim ke penerbit berjumlah 20 artikel perjalanan ke pelosok-pelosok Sumatera. Namun hanya sebelas tulisan yang diterbitkan, artikel tersebut berisikan catatan di Sumbar, Jambi, Aceh dan Kepulauan Riau.
“Saya kirimkan 20 tulisan, namun penerbit hanya mencantumkan 11 tulisan saja, mungkin ingin irit, awalnya artikel ini saya ajukan dengan judul apa kabar dari Sumatra, tapi diganti dengan judul Merobek Sumatra oleh penerbit, mungkin ingin cepat laku” kelakarnya.
Tulisan-tulisan Fatris, mencoba merobek pulau ini dengan cara yang berbeda. Ia menuliskan dengan sudut pandang yang berbeda.
“Mereka baru belajar memakai baju, pemilihan ketua suku yang masih tradisionil, sementara itu coca cola dan jeans sudah masuk,” lanjut Fatris.
Buku ini, dibedah oleh akademisi sejarah Unand, Dr. Muhammad Nur, M.S. Lalu oleh wartawan dan Koordinator Wilayah Sumatera Aliansi Jurnalis Independent (Korwil AJI), Hendra Makmur.
Menurut Hendra, buku Fatris ini membuat kompas Sumatera menujukkan arah yang berbeda. Namun sayang, beberapa artikelnya belum bisa disebut karya Jurnalism Traveler, karena pemenuhan tanggal dan waktu perjalanan tidak dicantumkan.
“Pejalan yang melempar kompas dan mencabik-cabik peta, dan bisa jadi karena itu pula setelah mencabik peta. Fatris menuangkannya ke dalan judul Merobek Sumatra. Namun sebagian besar tulisan tidak menjelaskan ‘kapan’ (When) waktu tulisan ini, sehingga 5W + 1H nya tidak lengkap. Terlepas dari itu, tulisan ini sangat menginspirasi dan menarik untuk digali lebih dalam,” ujar Hendra.


——————————————————-
Kamis, 28 Mei 2015
Jurnalis : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : Muslim Abdul Rahmad
Editor : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-