Sumbersari, Dusun Kecil dengan Keberagaman Seni

CENDANANEWS– Dusun Sumbersari merupakan salah satu dari beberapa dusun yang ada di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan Provinsi Lampung yang terdiri dari Dusun Jatirejo, Dusun Banyumas, Dusun Pasuruan, Dusun Jati Sari. Letaknya di kaki Gunung Rajabasa dan memiliki area persawahan dan perkebunan yang masih dikerjakan dengan cara tradisional. Luas dusun ini pun tak lebih dari 100 hektar.
Meski sebuah dusun kecil namun ada sisi menarik yang Cendananews lihat saat berada di dusun ini. Warga yang terdiri dari sekitar ratusan Kepala Keluarga ini rata rata berprofesi sebagai petani, beberapa merupakan pekerja swasta dan pegawai negeri sipil. Dusun ini dikelilingi oleh persawahan sehingga nyaris seperti pulau yang berada di tengah hamparan air saat musim menggarap sawah.
Tapi siapa sangka, setiap Minggu dan Rabu malam akan terdengar suara musik gamelan yang mengalun lembut dari sebuah sanggar seni. Bunyi gamelan tersebut merupakan sesuatu yang lazim di setiap dua malam tadi sebab beberapa warga berlatih musik gamelan. Sanggar milik Paguyuban Keluarga Yogyakarta (PKY) merupakan perkumpulan warga dari Yogyakarta yang tinggal di beberapa wilayah di Kecamatan Penengahan. PKY sendiri sudah dibentuk sejak beberapa tahun lalu dan masih tetap eksis hingga sekarang.
Musik gamelan tersebut biasanya akan ditampilkan dalam acara acara khusus yang biasanya menampilkan campur sari sehingga dalam seminggu tak mengherankan ada beberapa warga pelestarai tradisi musik gamelan masih berlatih. Tidak hanya kaum tua, bahkan anak anak usia Sekolah Dasar pun memiliki jadwal berlatih setiap hari Minggu.
“Saya berlatih musik gamelan bersama teman teman setiap hari Minggu agar nanti bisa bermain gamelan,” ujar Esti kepada Cendananews.com Jumat (6/3/2015).
Kesenian musik gamelan yang ditekuni oleh warga yang berasal dari Yogyakarta merupakan salah satu kesenian yang ada di desa tersebut. Gamelan diminati tak hanya oleh kaum tua tapi sejak dini anak anak pun memiliki minat yang kuat akan kesenian tradisional.
Menjelang Selasa malam dan Kamis malam, alunan musik yang terdengar pun berbeda. Kali ini yang terdengar adalah alunan musik kesenian kuda kepang dengan ciri khas gendang serta musik tradisional lainnya. Rupanya para pemain kesenian kuda kepang jenis “Pegon” sedang berlatih. Rata rata pemain kuda kepang tersebut adalah anak anak muda yang menyukai kuda kepang alias jaranan atau jathilan tersebut.
“Kami sudah berdiri sejak tahun 2003 dan jenis kuda kepang kami berasal dari Jawa Timur yang dikenal dengan nama pegon dan diberi nama kelompok Sari Budhoyo,” ujar Stevanus Sukoco, salah satu pemuda yang merupakan anggota kelompok kesenian kuda kepang tersebut.
Menurut Sukoco, Pegon yang dimainkannya merupakan kesenian tradisional asal Jawa Timur yang masih tetap dilestarikan. Musik musik yang digunakan pun masih tetap menggunakan alat tradisional. Tak jarang kelompok kuda kepang Sari Budhoyo miliknya diundang dalam perhelatan kesenian untuk hiburan saat ada pesta pernikahan bahkan hingga ke lain daerah.
Sari Budhoyo hanyalah salah satu kelompok dari kelompok kesenian Kuda kepang di dusun Sumbersari. Kelompok kesenian kuda kepang lainnya pun terbentuk di Sumbersari dengan nama Tresno Turonggo. Kelompok kuda kepang ini memadukan musik tradisional dengan alat musik organ yang saat ditampilkan akan menampilkan musik musik tradisional yang dipadukan dengan musik gamelan kuda kepang.
“Kesenian kuda kepang merupakan kesenian yang disukai semua generasi sehingga tetap lestari maka kami terus berlatih untuk menjaga kekompakan,” ujar Sukoco.
Sebuah kelompok kesenian gamelan, dua kelompok kesenian tradisional Kuda Kepang agaknya tak membuat pemuda pemuda di dusun kecil ini berhenti berkreasi. Beberapa pemuda yang menyukai musik modern pun membentuk kelompok musik elektone atau yang dikenal dengan grup musik organ diberi nama “Ragil”.
Salah serorang pendiri yakni Prawoto serta Sulis merupakan kaum muda yang dengan semangat berlatih setiap Sabu malam. Musik ini pun digemari oleh kalangan tertentu saat ada kegiatan pernikahan ataupun kegiatan hiburan lain.
“Awalnya untuk menyalurkan hobi menyanyi namun lama kelamaan kesenian ini dibentuk grup sehingga terbentuk kelompok musik elektone,” ujar Sulis.
Lengkap sudah beberapa jenis kesenian yang ada di dusun kecil ini. Kekayaan kesenian tradisional yang dalam berlatih pun memiliki waktu dalam satu pekan yang tak bertabrakan sehingga para pecinta kesenian bisa membagi waktu untuk saling melihat.
Jadi, jika ingin mendengar atau membutuhkan hiburan dalam acara acara pernikahan atau kegiatan lain, dusun ini pun menyediakan tiga pilihan kesenian berbea: kuda kepang, musik elektone atau gamelan campur sari.
Kegiatan positif yang membuat para pemuda menyalurkan hobinya dengan cara bijaksana. Kegiatan yang melestarikan beberapa kesenian dibandingkan melakukan kegiatan kegiatan lain yang tak bermanfaat. Meski demikian dukungan dari pemerintah untuk kelompok kelompok kesenian yang timbul dari inisiatif warga ini masih dirasa kurang. Tapi tetap diacungi jempol para pemuda di dusun ini terus berkreasi dengan kesenian kesenian tradisional tersebut.

———————————————————-
Jumat, 6 Maret 2015
Jurnalis : Henk Widi
Editor   : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-

Lihat juga...