ESAI BUDAYA
OLEH YULIANTORO
Ada perjalanan-perjalanan yang tidak pernah selesai meski rutenya sudah lama ditutup waktu. Ia hanya berhenti sebentar di tikungan ingatan—seperti bus malam yang menepi di terminal kecil—lalu berjalan lagi setiap kali deru mesin, bau solar, atau denting pintu besi memanggil kenangan lama yang kita kira sudah padam.
Bagi banyak orang, bus hanyalah alat transportasi. Tapi bagiku, Sumber Kencono—yang sekarang dikenal sebagai Sugeng Rahayu—adalah saksi hidup dari sebuah masa ketika mimpi dibangun tanpa rumus, hanya dengan doa, keberanian, dan sedikit keberuntungan.
Dan Sabtu pagi, 15 November 2025, setelah lima belas tahun tidak menyentuh kursinya, aku kembali menapaki tangga bus itu. Perjalanan kecil yang terasa seperti menyalami diriku sendiri di masa muda.
Aku kembali pada tahun 1997, usia masih hijau, mental masih bolong-bolong seperti karcis bus yang disobek separuh. Suatu hari datang sepucuk surat panggilan kerja dari Solo—pendek, tegas, dan mengubah jalan hidupku.
Aku belum tahu perusahaan apa yang memanggilku. Aku tidak kenal bosnya. Dunia liputan pun masih gelap. Yang kutahu hanya satu: 1 Maret, aku harus datang mengikuti pelatihan jurnalistik di Stadion Manahan.
Karena pelatihan itu berlangsung sebulan penuh, aku otomatis menjadi penyebrang harian Jogja–Solo. Dari situlah persahabatanku dengan bus Sumber Kencono (SK) dimulai.
SK bukan sekadar angkutan. Ia seperti guru keras yang tak menerima alasan: disiplin, cepat, tepat waktu. Tahun 1997, tarifnya 450 rupiah. Kondektur tidak pernah menaikkan harga sesuka hati. Jadwal berangkat tetap berjalan meski kursi masih longgar. Jika bukan SK, aku naik Mira Eka—dua “pasukan cepat” masa mudaku.
Dan soal kecepatan? Ah, itu legenda. Ada malam-malam ketika Solo–Jogja ditembus hanya dalam 45 menit. Dari Kartasura ke Umbulharjo, bus melesat lebih dari 100 km/jam. Kadang aku belum sempat memejam, tahu-tahu sudah sampai Jogja. Masa itu adalah masa ketika waktu seperti patuh pada kemauan sopir SK.
Tapi tidak semua perjalanan penuh nostalgia manis. Ada satu malam yang masih membuat bulu kudukku meremang setiap kali mengingatnya.
Malam itu aku pulang setelah piket redaksi. Sudah lewat jam sembilan ketika aku naik SK di Kerten. Begitu duduk, instingku langsung siaga. Ada rombongan copet—sekitar sepuluhan orang—wajah yang sudah sangat kuhapal. Mereka sering muncul di trayek Solo–Jogja seperti bayangan yang menguasai gelap.
Tak lama, keributan mulai. Penumpang digerayangi satu per satu. Suasana panas oleh ketakutan, tapi sunyi seperti orang berdoa.
Hingga terdengar teriakan dari depan:
“Hai! Kamu copet ya?!”
Aku langsung kenal suara itu: “Lho, itu Bu Marni, tetanggaku dari Kotagede.
Tanpa pikir panjang, aku berdiri. Satu copet terdekat kutarik keras, kupiting kepalanya, kurentak lehernya sambil berteriak: “Semua dompet balikin! Tiga kali aku bilang! Kalau tidak, MATI temanmu ini!”
Bus sontak gempar. Copet itu mengerang, teman-temannya panik. Dan satu per satu, dompet para penumpang dikembalikan. Sekitar 20 orang malam itu menyelamatkan barang berharga mereka.
Aku meminta sopir mengarahkan bus ke kantor polisi Prambanan. Namun sopir ketakutan—malam terlalu sepi. Akhirnya kawanan itu diturunkan di Gondang, Klaten.
Aku hanya bisa menarik napas panjang. Setidaknya malam itu, ketakutan tidak menang sepenuhnya.
Beberapa minggu kemudian, perusahaan mengambil langkah tegas. Mereka menggandeng Paskhas. Laki-laki berambut cepak, berbaju preman, bertubuh tegap, naik di titik-titik rawan.
Suatu malam mereka menggeledah penuh satu armada dan meringkus beberapa copet. Sejak itu, trayek SK berubah: cepat, disiplin, dan aman.
Waktu bergerak terus. Tahun-tahun berlalu. Dan Sumber Kencono—bus yang mengantar masa mudaku—ikut berubah.
PO ini sebenarnya sudah berdiri sejak 1981. Namun pada periode 2009–2011, SK diterpa banyak kecelakaan hingga masyarakat menjulukinya “Sumber Bencono”.
Untuk memperbaiki citra, manajemen akhirnya melakukan re-branding sekitar 2012–2013.
Nama Sumber Kencono diganti menjadi Sugeng Rahayu yang berarti “selamat, sejahtera”, dan sebagian armada lainnya bernama Sumber Selamat.
Nama boleh berubah, tetapi rute, roh, dan para awak busnya tetap berjalan dengan semangat yang sama: melayani perjalanan lintas kota.
Dan hari ini, setelah lima belas tahun tidak pernah naik SK—atau Sugeng Rahayu—aku kembali duduk di kursinya. Anehnya, bukan sekadar perjalanan yang terasa kembali hidup, tapi juga diriku yang dulu pernah bermimpi dengan polos dan keras kepala.
Di kursi belakang, seorang pemuda rambut cepak menyapaku.
“Pak, ke Solo juga?”
“Iya. Ada reuni teman-teman Solopos.”
“Wah, saya baru ditugaskan patroli di jalur ini, Pak. Katanya dulu jalur ini rawan. Sekarang aman. Dulu pernah ada cerita, ada penumpang yang berani melawan sepuluh copet. Legenda, katanya. Kalau saya ketemu orangnya, ingin saya salami.”
Aku tersenyum, menatap jendela, membiarkan lampu-lampu kota berlari di kaca.
“Kadang legenda itu cuma soal waktu dan keberuntungan,” jawabku pelan.
Pemuda itu tidak bertanya lagi. Mungkin tidak tahu bahwa “legenda” itu duduk di depannya. Dan aku tidak merasa perlu mengaku. Beberapa cerita memang lebih indah jika dibiarkan hidup sebagai cerita.
Saat Sugeng Rahayu memasuki Solo dan Gedung Manahan muncul di kejauhan, aku merasa seperti menepuk bahu versi diriku sendiri di tahun 1997.
Nama bus itu sudah berubah. Warnanya berubah. Manajemennya berubah. Tapi perasaan yang dititipkannya tidak pernah berubah: keberanian, ketakutan, mimpi kecil, dan perjumpaan yang membentuk diri kita.
Dan setelah lima belas tahun tidak menaikinya, ternyata kembali naik Sugeng Rahayu—dulu Sumber Kencono—adalah caraku kembali menghubungkan Jogja, Solo, dan masa mudaku sendiri.
Aku turun pelan, menatap bodi bus yang kini tampil dengan nama berbeda, dan berbisik: “Terima kasih sudah membawaku kembali. Rute boleh berubah, tapi perjalanan tidak.”
Perjalanan baru menunggu. Hidup berjalan lagi. Dan perjalanan-perjalanan lama? Mereka tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya menunggu kita naik ke bus yang sama—sekali lagi. ***
Yuliantoro, penulis tinggal di Bantul, Yogyakarta