Pameran Nusarupa#2 SAUDARA, Jajaran Alumni FSRD ISI Yogyakarta Angkatan 1991

YOGYAKARTA – Pameran Nusarupa#2 bertema SAUDARA digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan, Yogyakarta pada Sabtu 8 Maret 2025 pembukaan pada jam 16.00 WIB  hingga 7 April 2025.

Poster pameran, jajaran nama-nama perupa yang berpameran. Foto: Ist

 

Dalam rilis yang diterima Dwipa News, Jumat, 7 Maret 2025, pameran tersebut menampilkan karya jajaran alumni FSRD ISI Yogyakarta Angkatan 1991.

NUSA RUPA sendiri digagas oleh komunitas angkatan tahun 1991 FSRD ISI Yogyakarta, di mana para anggotanya dahulu berasal dari berbagai macam disiplin ilmu (seni murni, desain, kriya) dan sekarang beraktivitas pada beragam media kreasi.

Bahkan tidak saja di lingkup seni, desain & kriya namun sudah jauh melebar ke berbagai bidang.

Setelah sukses dengan pameran Nusarupa#1 tahun 2016 yang bertajuk HOME di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, maka tahun 2025 ini diselenggarakan kembali pameran Nusarupa#2 di Bale Banjar Sangkring.

Tema tahun 2016, HOME, dimaknai sebagai tempat kita semua, para alumni FSRD ISI Yogyakarta angkatan 91, berasal dan menjalani proses belajar serta proses menempa diri menjadi makhluk sosial, terutama di kampus ASRI Gampingan.

Kali ini, pameran Nusarupa#2 mengangkat tema SAUDARA.

Saudara dalam arti sempit, adalah hubungan antara anggota keluarga, baik laki-laki maupun perempuan, dan juga yang lebih muda atau lebih tua.

Dalam pengertian yang lebih luas, saudara juga dapat diartikan sebagai sanak atau kerabat, yaitu orang yang dekat atau bertalian secara kekeluargaan dengan individu.

Dalam kaitan sebagai teman sejak zaman perkuliahan  satu angkatan (tahun 1991) di FSRD ISI Yogyakarta, maka istilah saudara/persaudaraan menjadikan ikatan kebersamaan sesama teman menjadi lebih kuat.

Kita adalah sedulur. Makna sedulur/saudara memberi implikasi yang sangat luas. Persaudaraan lebih dari sekedar pertemananan.

Dalam konteks yang lain, persaudaraan dapat pula dimaknai sebagai orang yang menghirup udara yang sama.

Ikatan persaudaraan dalam hal ini berarti individu yang disatukan karena memiliki kebutuhan dasar yang sama, yaitu udara/oksigen untuk bernafas.

Karya yang dipamerkan

Meskipun mengusung sebuah tema untuk membingkai pameran, namun karya yang dipamerkan tidak melulu menerjemahkan tema saudara secara sempit.

Saudara bisa banyak diartikan (bahkan disimbolkan) menjadi berbagai hal, bukan hanya aktivitas secara realistis dalam bentuk figur atau objek, tetapi elemen dasar dalam seni rupa (garis, bidang dan warna) juga diolah untuk menjadi sebuah komposisi selayaknya ‘percakapan’ dalam konteks persaudaraan.

Secara visual, karya yang dipamerkan membentang luas dari karya konvensional hingga karya multimedia bahkan beririsan dengan bidang lain di luar seni.

Hal ini merupakan sebuah proses yang dijalani oleh masing-masing seniman yang banyak mengalami proses kreativitas yang berbeda-beda, sehingga output yang kini dihasilkan pun sangat beragam.

Jika ditarik ke belakang, ketika tahun 1991 mulai kuliah, program studi yang dahulu ditempuh di FSRD ISI Yogyakarta saat itu terdiri dari Seni Lukis, Seni Patung, Seni Grafis, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, Kriya Kayu, Kriya Kulit dan Kriya Logam.

Maka karya yang dipamerkan kali ini tidak sepenuhnya terikat lagi dengan studi yang ditempuh.

Beberapa seniman malah sudah membuat karya lintas bidang studi, bahkan mencakup bidang otomotif, bidang astrofisika, dan kuliner.

Tentu tidak mudah menyatukan berbagai jenis karya dengan berbagai karakter senimannya dalam sebuah event pameran.

Namun ada satu hal yang tetap dirasakan sebagai sebuah ikatan kuat, yaitu RASA PERSAUDARAAN.

Spirit inilah yang secara konsisten menjadi energi yang menguatkan hingga hari ini.

Dalam konteks sejarah Indonesia, kita mengenal istilah saudara se-bangsa dan se-tanah air yang dahulu sering didengungkan oleh Bung Karno.

Beliau menganggap hidup di tanah dan air yang sama, atau berasal dari tanah dan air yang sama, maka, sebagai sebuah bangsa kita bersaudara.

Kini, di tengah kondisi dan situasi negara yang tersegmentasi, terpolarisasi bahkan adu domba, upaya untuk menyerukan kesadaran tentang persaudaraan menjadi hal yang sangat krusial.

Semangat sebagai saudara hendaknya terus digelorakan, termasuk melalui karya seni dan program penyerta lainnya dalam event pameran. ***

Lihat juga...