Bendungan Peninggalan Soeharto 3: Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri
Editor: Koko Triarko
JAKARTA, Cendana News – Bendungan atau Waduk Gajah Mungkur merupakan salah satu bendungan legendaris peninggalan Presiden Soeharto.
Waduk atau bendungan Gajah Mungkur ini berada 6 kilometer di sebelah selatan Kota Kabupaten Wonogiri di Jawa Tengah.
Waduk Gajah Mungkur dibangun dengan membendung sungai terpanjang di Pulau Jawa, yaitu Sungai Bengawan Solo.
Luas daerah tangkapan air mencapai 1.350 kilometer, dan menjadi penangkap air dari beberapa sungai besar lainnya di Jawa.
Beberapa sungai besar itu antara lain Sungai Kaduang, Sungai Tirtomoyo, Sungai Parangjoho, Sungai Temon, dan Sungai Posong.
Adapun luas genangan maksimum Waduk Gajah Mungkur mencapai 8.800 hektare, mencangkup 7 wilayah kecamatan.
Mulai pembangunan pada tahun 1976-1981 dan beroperasi pada tahun 1982, proyek raksasa ini merelokasi 67.516 jiwa penduduk di 51 desa di 6 kecamatan.
Mereka mengikuti program transmigrasi bedol desa pada tahun 1976 ke Pulau Sumatera.
Selain sebagai pengendali banjir, Waduk Gajah Mungkur juga berfungsi sebagai sumber irigasi lahan pertanian seluas 23.600 hektare di kabupaten Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, dan Sragen.
Di samping itu, Waduk Gajah Mungkur juga turut andil sebagai pemasok kebutuhan air minum warga Wonogiri dan sekitarnya.
Termasuk sebagai sumber penghasil tenaga listrik dengan daya mencapai 12,4 Mega Watt.
Sampai kini, Waduk Gajah Mungkur terkenal sebagai pusat penangkaran ikan dan salah satu objek wisata di Jawa Tengah.
Presiden Soeharto meresmikan Waduk Gajah Mungkur tersebut pada Selasa, 17 November 1981.