Pascaerupsi Merapi, Aktivitas Penambagan dan Wisata Langsung Ditutup

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Cendana News, YOGYAKARTA – Otoritas Pemerintah Kabupaten Sleman langsung melakukan penutupan aktifitas pertambangan serta pariwisata di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) pasca terjadinya semburan awan panas Gunung Merapi Rabu tengah malam hingga Kamis dinihari, (9-10/03/2022).

Kapolda DIY Irjen Pol Asep Suhendar meminta agar aktivitas penambangan galian C serta pariwisata di wilayah KRB segera ditutup sebagai bentuk antisipasi bencana. Adapun wisata yang sudah ditutup saat ini antara lain Bungker Kaliadem di kalurahan Kepuharjo serta bukit Klangon, di Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan.

Sementara Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa mendampingi Kapolda DIY saat berkoordinasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Kapanewon Cangkringan di balai Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kamis siang mengatakan sejumlah warga sempat mengungsi akibat peristiwa erupsi gunung Merapi yang terjadi semalam. Meski begitu kondisi masyarakat dikatakan masih aman.

“Alhamdulillah masyarakat yang tadi malam sempat mengungsi di barak hari ini sudah kembali ke kediaman masing-masing,” ucap Danang.

Gunung Merapi
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa bersama Kapolda DIY Irjen Pol Asep Suhendar saat berkoordinasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Kapanewon Cangkringan di balai Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kamis siang. (Humas Sleman)

Danang berpesan agar masyarakat juga tetap waspada dan memantau perkembangan situasi Merapi. Terkhusus masyarakat lansia dan balita jika situasi malam Merapi mengkhawatirkan, Danang mengimbau untuk mencari tempat aman yakni di pengungsian barak terlebih dahulu.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap siaga, masyarakat yang tidak berkepentingan diharapkan jangan mendekat dan melakukan aktivitas di area KRB III,” ucap Danang.

Ia juga menyebut tim dari BPBD Sleman, SAR, serta para relawan sudah siap siaga dalam mengantisipasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sebagaimana diketahui Gunung Merapi kembali mengalami erupsi pada Rabu malam hingga Kamis dini hari. BPPTKG Yogyakarta mencatat terjadi luncuran awan panas guguran sejauh 5 kilometer ke arah tenggara. Jarak luncuran ini tercatat sebagai yang terjauh sejak gunung Merapi berstatus siaga (level III), November 2020 lalu.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida dalam jumpa pers daring, Kamis mengatakan meski masih belum melebihi radius potensi bahaya, terdapat potensi bahaya guguran lava dan awan panas meliputi Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol lima kilometer.

Sedangkan potensi lontaran vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau 3 kilometer dari puncak. Sementara potensi bahaya pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer. Kemudian Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh tujuh kilometer

Adapun pemicu rentetan guguran awan panas guguran semalam disebabkan karena runtuhnya kubah lava bagian tengah kawah karena tekanan magma. Kubah lava bagian tengah ini sendiri hingga saat ini masih terus bertambah, dengan volume sebesar 3,2 juta meter kubik.

Berdasarkan pengamatan seismograf, BPPTKG mencatat terjadi lima kali kejadian awan panas guguran pada 9 Maret tengah malam. Awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo max 75 mm dan durasi max 570 detik. Jarak luncur ±5 km ke arah tenggara. Arah angin ke barat laut.

BPPTKG juga mencatat kejadian hujan abu yang mengguyur sejumlah wilayah. Antara lain Desa Tlogolele di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali dan Desa Gantang, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Sementara pada 10 Maret 2020, BPPTKG mencatat 11 kali kejadian awan panas. Awan panas tercatat di seismogram dengan durasi maksimal 191 detik. Jarak luncur maksimal 2 kilometer ke arah tenggara atau Kali Gendol.

Peningkatan aktivitas seismik yang terpantau Rabu malam mulai melandai pada Kamis pukul 01.30. Yakni ditandai dengan terjadinya kegempaan yang didominasi oleh gempa-gempa guguran.

Lihat juga...