Tak Perlu Menunggu Kasus, Kemenkes Imbau Waspadai Virus Marburg

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Walaupun virus Marburg belum pernah teridentifikasi di Indonesia tapi kehati-hatian dan kewaspadaan terhadap virus tersebut penting dikedepankan. Itulah imbauan Kementerian Kesehatan dalam upaya menjaga potensi penyebaran virus Marburg ke Indonesia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ) Kemenkes, Dr. drh. Didik Budijanto, M.Kes, menjelaskan, walaupun kasus virus Marburg belum ada di Indonesia tapi tetap tidak boleh abai.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ) Kemenkes, Dr. drh. Didik Budijanto, M.Kes, saat dihubungi, Jumat (13/8/2021). Foto: Ranny Supusepa

“Sebaran kelelawar Pteropodidae cukup luas, termasuk di Indonesia yang memiliki beberapa spesies. Jadi tidak bisa kita abai atas potensi kemungkinan adanya virus tersebut. Perlu diterapkan universal precautions atau prinsip kehati-hatian secara umum dan meneruskan surveilans virus pada berbagai jenis kelelawar secara rutin,” kata Didik saat dihubungi, Jumat (13/8/2021).

Ia menjelaskan virus Marburg muncul pertama kali di Afrika Barat dan merupakan penyakit yang sangat menular, seperti kerabatnya yaitu virus Ebola.

“Wabah Marburg yang terakhir dicatat adalah di Angola tahun 2005. WHO merilis kasus pertamanya diidentifikasi di Kota Marburg Jerman pada wabah simultan. Dan tercatat juga di Beograd Serbia,” tuturnya.

Virus Marburg ini berasal dari kelelawar buah dan menyebar pada sesamanya. Transmisi pada manusia melalui cairan tubuh.

“Hal ini yang membedakan Marburg dengan Sars Cov2. Infeksi virus Marburg sifatnya fatal dengan gejala memiliki perbedaan tipis dengan gejala Malaria atau Tipus. Sehingga dibutuhkan pemeriksaan yang lebih spesifik,” tuturnya lagi.

Didik menyebutkan gejala yang timbul, biasanya dalam rentang 2 hingga 21 hari, berdasarkan literatur yang ada, adalah demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah hingga pendarahan yang terjadi pada beberapa bagian tubuh.

“Literatur menyebutkan pendarahan muncul pada hari kelima hingga hari ketujuh. Mulai muntah darah, feses berdarah, hidung keluar darah hingga lubang kemaluan berdarah. Kasus kematian muncul umumnya pada hari ke-8 atau ke-9 dari awal gejala muncul,” kata Didik menjelaskan.

Sejauh ini, lanjutnya, walaupun Marburg termasuk penyakit berbahaya, belum ada vaksin atau perawatan anti-virus untuk penyakit ini.

“Tindakan rehidrasi oral atau intravena bisa meningkatkan kelangsungan hidup pasien dan juga eksperimental obat antibodi monoklonal disebut membantu pasien dalam menghadapi penyakit ini,” urainya.

Ia menyebut ahli medis mendorong untuk meminum banyak air untuk menutupi dehidrasi tinggi yang terjadi dan meningkatkan peluang hidup pasien.

“Tingkat kematiannya 88 persen tapi menurun drastis jika dirawat dengan baik. Fatalitas virus ini sama dengan Ebola, karena memang dalam satu keluarga Philophilideae atau Philo Virus. Secara klinis serupa,” urainya lagi.

Informasi dari WHO memang menyatakan virus memiliki potensi meluas dan menyebar. Tapi sedang diupayakan untuk mengidentifikasi orang yang melakukan kontak dengan penderita virus Marburg.

“Langkah antisipasinya saat ini adalah itu. Inangnya memang kelelawar buah tapi hewan ini tidak sakit. Ia hanya pembawa kepada mamalia. Seperti monyet atau manusia. Di WHO tercatat penularan ini terjadi karena adanya konsumsi pada jenis kelelawar ini,” tuturnya.

Kewaspadaan pada kejadian virus ini memang harus dilakukan. Terutama karena ada beberapa kelompok masyarakat yang mengonsumsi kelelawar jenis ini di Indonesia.

“Kehati-hatian semua lintas sektor dan edukasi harus terus ditingkatkan. Dan juga harus dilakukan implementasi ONE HEALTH, yang mempertimbangkan interface antara kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan satwa liar yang harus di-lead  tiga kementerian, yaitu KLHK, Kementan, Kemenkes dan di-support  oleh 23 kementerian atau lembaga lainnya,” pungkasnya.

Lihat juga...