CPI : Panel Surya, Peluang Menuju Ekonomi Hijau

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Associate Director Climate Policy Initiative (CPI), Tiza Mafira mengatakan, banyak peluang ekonomi yang dapat dijalankan dalam rangka menuju ekonomi hijau. Apalagi Indonesia menargetkan pemanfaatan energi terbarukan mencapai 23 persen pada 2025.

Tiza menyebutkan, salah satu yang selaras dengan target nett zero emission adalah energi panel surya. Namun, pada sektor energi terbarukan banyak persepsi keliru yang menilai harga energi ini lebih mahal daripada batubara dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) untuk kebutuhan elektrifikasi bagi masyarakat.

Menurutnya, perkembangan energi panel surya di luar negeri terbukti sangat komersil dan kompetitif. Seharusnya masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan listrik diusahakan aksesnya ke energi terbarukan yang harganya terjangkau.

“Panel surya ini salah satu peluang energi yang bisa kita tangkap untuk menuju ekonomi hijau. Ini sumber energi paling murah sepanjang sejarah perabadan manusia,” ujar Tiza, pada diskusi virtual tentang perubahan iklim yang diikuti Cendana News, Rabu (18/8/2021).

Lebih lanjut disampaikan, energi panel surya ini lebih murah daripada batubara, minyak bumi, gas, dan pembangkit listrik tenaga sampah. Bahkan diproyeksi tren harganya akan terus menurun. Sedangkan batubara dan minyak bumi selalu fluktuatif cenderung naik.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara yang masih memberikan subsidi listrik yang didominasi PLTU batubara. Diharapkan dapat beralih ke sumber energi yang lebih murah seperti panel surya.

“Bayangkan kalau Indonesia beralih ke panel surya, maka dimasa mendatang beban biaya yang harus dikeluarkan pemerintah Indonesia juga akan ikut turun,” tukasnya.

Selain itu, jelasnya lagi, teknologi panel surya bisa dipasang secara masif terkoneksi dengan tranmisi. Sehingga mampu mengelektrifikasi daerah yang luas, dan juga dapat dipasang secara terdesentralisasi.

“Jadi istilahnya, listrik yang demoktratisasi tidak harus terkoneksi dengan hight transisi,” imbuhnya.

Pemakaian sumber energi panel surya ini menurutnya, memungkinkan elektrifikasi pulau-pulau terpencil di Indonesia, yang saat ini masih tergantung pada kiriman diesel untuk menyalakan genset.

“Inilah ketahanan energi yang sesungguhnya, panel surya yakni teknologi zero emmission. Dimana energi itu murah, sehat, terdesentralisasi dan demokratisasi mampu menjangkau seluruh masyarakat bahkan yang terpencil,” ungkapnya.

Saat ini sebutnya, kapasitas PLTU sudah sangat overload di Jawa dan Bali. Sehingga keinginan pemerintah untuk membangun elektrifikasi seharusnya dengan memanfaatkan energi terbarukan bukan PLTU.

Kebutuhan terbesar saat ini untuk listrik berada di pulau terluar Indonesia, seperti di bagian timur. Maka seharusnya kebutuhan ini bisa dimanfaatkan untuk mencoba energi terbarukan dan menambah kesempatan masyarakat yang selama ini tidak ada pilihan.

“Jadi ya harusnya didorong saja untuk energi terbarukan. Kalau PLN mau bangun PLTU baru untuk apa, karena sudah overload di Jawa- Bali,” pungkasnya.

Lihat juga...