Hindari Infertilitas, Kenali Endometriosis Sejak Dini

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Endometriosis bukanlah penyakit yang membahayakan jiwa. Tapi mampu menyebabkan penurunan fertilitas pada penderitanya.

Menurut data, 50 persen dari penderita endometriosis mengalami gangguan fertilitas, berupa gangguan pada proses ovulasi, kualitas sel telur atau mengurangi cadangan sel telur. Karena itu sangat penting untuk mengetahui gejalanya sejak dini.

Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi, Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. M. Luky Satria Syahbana Marwali, SpOG -KFER, menjelaskan endometriosis adalah pertumbuhan dinding dalam lahir di luar tempat seharusnya tumbuh.

“Dinding dalam lahir ini bertumbuh dan saat haid, dinding dalam lahir ini akan luruh. Saat dinding dalam rahim ini tumbuh bukan ditempatnya maka akan disebut endometriosis. Kondisi ini bisa dikenali dari gejalanya yang paling khas yaitu rasa nyeri yang timbul saat haid berlangsung,” kata Luky dalam acara online kesehatan, Jumat (25/6/2021).

Gejala lain yang mengindikasikan adanya endometriosis, adalah merasakan nyeri saat buang air besar atau buang air kecil kala menstruasi. Atau jika sudah menikah, mengalami nyeri pada bagian dalam saat berhubungan badan.

“Jadi kalau menstruasi merasakan sakit yang berlebih, sebaiknya periksa. Jangan menganggap bahwa nyeri haid itu suatu hal yang biasa. Karena ada potensi rasa sakit tersebut merujuk pada endometriosis,” ujarnya.

Penyebabnya sendiri, hingga saat ini belum diketahui. Yang bisa ketahui hanyalah faktor risiko.

“Yaitu faktor genetik, dimana jika ibunya mengalami endometriosis maka kemungkinan besar anaknya juga akan mengalami, faktor lingkungan, faktor polusi dan faktor diet yang salah,” ujarnya lagi.

Luky menyebutkan endometriosis memang tidak mengancam jiwa. Hanya memang merasakan ketidaknyamanan akibat rasa sakit yang ditimbulkan.

“Endometriosis ini memiliki tiga tahapan, yakni ringan, sedang dan berat. Kalau ringan, yang muncul hanya bercak di lapisan dalam perut. Kalau sedang itu biasanya berbentuk kista kecil atau pelekatan yang tidak berat. Sementara tahap berat maka berbentuk kista berukuran besar dan mengalami pelekatan hebat hingga indung telur dan rahim. Bahkan tak jarang juga menyebar hingga usus,” urainya.

Tapi, rasa nyeri yang dirasakan tidak memiliki korelasi dengan tingkatan endometriosis.

“Ada yang tahapan ringan tapi sudah merasakan kesakitan hebat. Ada yang sebaliknya, sudah tahapan berat tapi orangnya tidak merasakan nyeri,” urainya lagi.

Spesialis Radiologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. R. Samuel W. Manangka, SpRad(K), menjelaskan dalam mendiagnosis endometriosis perlu dilakukan berbagai pemeriksaan.

“Yang pertama adalah menggunakan ultra sound, baik secara transvaginal maupun transabdominal yang dilakukan oleh obgyn,” kata dr. Samuel dalam kesempatan yang sama.

Kalau memang dari hasilnya terindikasi, tapi luasannya tidak terlihat jelas, maka langkah selanjutnya adalah tindakan MRI.

“Dengan melakukan MRI, maka akan didapatkan hasil detail jaringan lunak pada pelvis. Antara lain, melihat uterus, usus hingga kantung kencing. Selain itu, dengan berbagai macam sequens, bisa diperkirakan konsistensi jaringannya ke arah mana,” ujarnya.

Samuel juga menyebutkan tindakan MRI juga bisa memberikan mapping sebelum melakukan langkah berikutnya.

“Jadi kalau mau dilakukan laparaskopi atau operasi, MRI sudah memberikan gambaran. Sehingga, bisa dilakukan perencanaan tenaga ahli medis yang akan terlibat,” pungkasnya.