Kampung Budaya ‘KK 26’ di Situbondo yang Unik
Editor: Makmun Hidayat
Situbondo — Kampung Budaya KK 26 di Desa Olean, Situbondo, Jawa Timur, memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya , sampai saat ini kampung tersebut hanya berisi 26 kepala keluarga.
Ketua Adat, Syaiful Arif mengatakan, sejak zaman dahulu, secara turun temurun kepala keluarga yang terdapat di desa tersebut hanya berjumlah 26 KK, tidak pernah bisa bertambah jumlahnya, dan tidak akan pernah berkurang dari jumlah 26 KK yang ada.
“Luas lahan wilayah pekarangan di desa sini sekitar 500 meter persegi. Bisa dibilang kecil untuk suatu pekarangan desa, namun bisa juga sangat luas untuk desa KK 26 ini. Karena dengan luas pekarangan wilayah yang ada, hanya diisi dengan 26 kepala keluarga saja,” ujar Syaiful Arif kepada Cendana News, di wilayah Desa Olean, Kecamatan/Kabupaten Situbondo, Minggu(16/5/2021).
Arif menambahkan, sebanyak 26 KK yang terdapat di daerahnya, secara otomatis apabila KK yang terdapat melebihi jumlah tersebut, tanpa sebab salah satu dari keluarga yang terdapat di desa tersebut akan pergi ke desa lain, kadang pula dari salah satu KK juga ada yang meninggal.

“Pengalaman yang pernah saya alami sendiri pada waktu itu, anak kandung saya setelah menikah tiba-tiba pamitan ke saya ingin merantau ke desa lain. Sedangkan di sini sudah saya sediakan rumah,” ucapnya.
Selain berdasarkan pengalaman yang dialami sendiri, ia menyebutkan, setiap kali ada salah satu anak dari kepala keluarga yang menikah dan menetap di desa tersebut, secara data akan bertambah jumlah KK menjadi 27, namun keesokan harinya, ada salah satu keluarga yang tiba-tiba pergi dan tinggal di daerah lain.
“Walaupun saya dan warga yang ada di sini mengetahui tentang mitos KK26 yang hanya dapat ditempati tidak bisa lebih dari jumlah 26 KK, tidak ada rasa khawatir. Misalnya siapa yang akan pergi dari desa sini dan kadang juga ada yang meninggal. Namun sampai saat ini, jumlah KK yang ada tetap berjumlah 26 tidak kurang dan tidak pernah lebih,” ungkapnya.
Arif menambahkan, selama ini warga asli di KK 26 hampir rata-rata didominasi oleh warga yang berjenis kelamin perempuan. Sedangkan untuk warga yang berjenis kelamin laki-laki hampir berada di daerah lain.
Salah satu warga, Mbah Sadili, salah satu keturunan asli di KK 26 mengatakan, selama berpuluh puluh tahun jumlah kepala keluarga yang ada tidak lebih dan tidak berkurang hanya sebanyak 26 KK.
“Seperti anak saya yang tiga-tiganya adalah laki-laki saat ini berada di desa lain. Sedangkan untuk jumlah bangunan rumah sendiri tidak ada batasan berapa rumah. Hanya saja rumah yang saya sediakan untuk anak saya nantinya bisa tinggal bersama saya, yang ada malah rumah tersebut kosong karena tidak ada yang menempati,” ucapnya.
Mbah Sadili mengatakan, bagi warga luar yang datang diimbau untuk tidak sembarang saat berkunjung. Karena beberapa kejadian yang ada, akunya, sering kali ada yang mengganggu dirinya.
“Beberapa tahun yang lalu ada salah satu pengunjung ke sini rombongan. Dari beberapa rombongan yang ada ramai-ramai sendiri. Sudah dianjurkan untuk tidak bikin gaduh, tapi tetap saja masih ramai. Seketika telinganya ada yang jewer sampai warna merah. Saat itu orang yang bersangkutan diam,” ungkapnya.