Budi Daya Ulat Hongkong, Minim Perawatan, Mudah, Menguntungkan

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Budi daya ulat hongkong merupakan salah satu usaha yang menjanjikan. Selain tidak membutuhkan modal yang besar, budi daya pakan burung kicauan ini juga cukup mudah dilakukan di lahan sempit sekali pun. 

Agus Dwinanto (26), pembudidaya ulat hongkong di dusun Nglotak, Kaliagung, Sentolo, Kulon Progo, mengaku membudidayakan ulat hongkong sejak setahun terakhir, tepatnya awal 2020. Memanfaatkan lahan berukuran 2 x 3 meter di sekitar rumahnya, ia membudidayakan ulat hongkong dengan sistem rak bersusun.

“Ulat hongkong mudah dibudidayakan, karena minim perawatan. Selain itu kebutuhan makannya juga sangat minim. Bahkan, kita bisa memanfaatkan sisa buah atau sayuran yang tidak terpakai. Sehingga biaya operasionalnya cukup rendah,” katanya.

Pembudidaya ulat hongkong, Agus Dwinanto (26), warga dusun Nglotak, Kaliagung, Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta, saat ditemui Selasa (18/5/2021). -Foto: Jatmika H Kusmargana

Sebagai kandang budi daya, Agus memanfaatkan kotak kayu triplek berukuran 60 x 80 cm, yang disusun dalam rak sedemikian rupa. Satu kotak budi daya biasanya berisi sekitar 1-2 liter ulat hongkong dalam satu siklus hidupnya. Masa panen ulat hongkong mulai dari menetas hingga panen cukup singkat, yakni 1-2 bulan saja.

“Sistem budi daya ulat hongkong ini biasanya dilakukan berjenjang. Sehingga kita bisa rutin panen setiap 5-7 hari sekali. Yakni, dengan tahapan proses budi daya mulai dari peneluran, penetasan dan pembesaran,” katanya.

Sebelum bisa masuk ke proses peneluran, pembudidaya harus menyiapkan ulat dewasa menjadi kepompong. Biasanya butuh waktu sekitar 2-3 bulan. Setelah 3 hari, kepompong akan berubah menjadi kumbang muda berwarna putih.

“Tanda kumbang siap bertelur adalah saat ia sudah berwarna hitam. Saat sudah seperti itu, tinggal dikawinkan kumbang dengan sistem koloni,” katanya.

Hal yang perlu disiapkan untuk proses perkawinan sekaligus peneluran ini, menurutnya adalah kotak budi daya yang telah diisi polar brand. Selain berfungsi sebagai media, polar juga berfungsi sebagai pakan kumbang itu sendiri. Untuk pakan tambahan, bisa memasukkan buah seperti jipang segar.

“Setiap 5-7 hari sekali, ganti media dengan cara diayak atau disaring. Perawatannya cukup dengan disemprot 3 kali sehari. Setelah 4 kali pergantian media, biasanya akan langsung muncul ulat berukuran kecil. Tinggal saring, lalu pindahkan ke tempat pembesaran,” katanya.

Dalam proses pembesaran ini, ulat hongkong hanya perlu diberi pakan berupa sayur atau buah-buahan, tanpa polar brand. Baik itu buah pepaya, jipang, waluh, kol, dan sebagainya. Untuk menekan biaya pakan, pembudidaya bisa memanfaatkan limbah pasar buah atau limbah rumah tangga.

“Untuk pemanenan bisa dilakukan sesuai pesanan. Mulai dari usia 1 bulan, 1,5 bulan atau usia dewasa sekitar 2 bulan. Nilai jualnya bervariasi, mulai dari Rp34ribu sampai Rp40ribu per kilogram. Paling mahal adalah ulat usia 1 bulan serta usia dewasa 2 bulan. Yakni mencapai Rp40ribu per kilogram,” ungkapnya.

Memiliki sekitar 30 pelanggan yang mayoritas merupakan pembudidaya burung murai batu, Agus mengaku bisa memproduksi serta menjual 60 kilogram ulat hongkong setiap minggunya. Dengan kata lain, omzet usaha Agus mencapai Rp2juta lebih per minggu.

“Selain membudidayakan sendiri ulat hongkong, saya juga memiliki sejumlah petani yang rutin menyetor hasil panen ke saya. Karena jika hanya memanfaatkan hasil budi daya sendiri, tidak akan cukup untuk memenuhi permintaan pasar,” pungkas pemuda yang juga memiliki usaha budi daya jangkrik serta burung murai batu ini.

Lihat juga...