Akses Pelayaran Kembali Dibuka, Pendapatan Pedagang di Adonara Membaik

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LARANTUKA — Penutupan akses pelayaran angkutan kapal penumpang menuju Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakibatkan kapal laut dari Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur yang hendak berlayar ke Lembata berhenti beroperasi sejak tanggal 6 Mei sampai 17 Mei 2021.

Penjual aneka makanan dan minuman di depan Dermaga Waiwerang,Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT, Mici Soraya saat ditemui di tempat usahanya, Rabu (14/4/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Pendapatan kami turun drastis karena kapal penumpang tidak diperkenankan bersandar di dermaga Lewoleba, Kabupaten Lembata sehingga tidak ada aktivitas pelayaran,” kata Mici Soraya, pedagang di Pelabuhan Waiwerang, Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT saat dihubungi, Selasa (18/5/2021).

Mici menyebutkan, sejak tanggal 8 Mei 2021 usai lebaran dirinya mau berjualan tetapi kapal laut belum berlayar dari dermaga di Kota Larantuka menuju Lewoleba, Kabupaten Lembata pulang pergi menyinggahi dermaga Waiwerang.

Ia mengakui, mulai berjualan kembali sejak Senin (10/5/2021) namun itu pun dagangannya terutama makanan tidak laku terjual sehingga dirinya pun terpaksa mengurangi porsi makanan yang dijual.

“Biasanya dalam sehari warung makan saya bisa memperoleh pendapatan hingga Rp500 ribu. Karena kapal laut tidak berlayar membuat pendapatan saya berkurang hingga Rp200 ribu,” ungkapnya.

Mici mengaku mulai menambah porsi makanan yang dijual sejak kemarin, Senin (17/5/2021) ketika akses pelayaran dibuka kembali namun pendapatan yang diperolehnya pun masih Rp300 ribu perhari.

Ia berharap agar pemerintah tidak menutup lagi akses pelayaran antar kabupaten dan memperketat pemeriksaan di pos penjagaan di pelabuhan, sehingga kapal tetap berlayar mengangkut penumpang.

“Lumayan, hari ini pendapatan sudah mulai bagus kembali dan sudah mulai normal karena kapal sudah mulai bersandar di Dermaga Waiwerang dan penumpang sudah mulai banyak lagi,” ucapnya.

Keluhan senada disampaikan pemilik Kantin Isabela, Elisabeth Kelang di Eputobi, Desa Lewoingu, Kecamatan Titehena yang tempat usahanya berada di pinggir jalan negara Trans Flores, Larantuka-Maumere.

Elisabeth mengakui, biasanya dalam seminggu bisa memperoleh pemasukan minimal Rp1,5 juta namun sejak adanya penutupan pintu masuk jalan darat di perbatasan Kabupaten Flores Timur dan Sikka, pendapatannya menurun drastis.

“Selama seminggu lebih penutupan pintu masuk di perbatasan antar kabupaten tanggal 6 Mei hingga 17 Mei 2018 pendapata yang saya peroleh menurun hingga Rp500 ribu selama seminggu,” ucapnya.

Elisabeth mengaku selama pandemi Covid-19 usahanya rata-rata sebulan memperoleh keuntungan minimal Rp3 juta namun sejak adanya penutupan akses jalan darat antar kabupaten dipastikan keuntungannya berkurang.

“Paling bulan ini saya hanya mengalami keuntungan cuma Rp2 juta hingga Rp2,5 juta karena pengendara yang melintasi jalan negara dari Kota Larantuka menuju Kota Maumere atau sebaliknya berkurang drastis,” ujarnya.

Lihat juga...