Dengan Pendampingan, Suku Anak Dalam Bisa Hidup Menetap

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Diterapkannya Program Pemukiman Kembali oleh pemerintah, berhasil dilalui dengan baik oleh Suku Anak Dalam. Terkenal dengan budaya berburu dan kehidupan nomaden, generasi muda Suku Anak Dalam kini mulai bertransisi menjadi kehidupan menetap, bersekolah dan mulai berbudi daya kambing dan ikan.

Pendamping Suku Anak Dalam Pundi Sumatra, Dewi Armayani, menceritakan pendampingan dimulai sejak 2013, sebelum Suku Anak Dalam mulai menetap.

“Baru pada Februari 2014, mereka mendapatkan hunian dari Dinas Sosial Kabupaten Bungo. Dan, kini dua anak Suku Anak Dalam sudah memasuki jenjang kuliah dan masyarakat sudah mengembangkan perekonomian, bukan hanya dari hasil berburu,” kata Arma dalam talkshow online rangkaian kegiatan Komunitas Salihara, yang diikuti oleh Cendana News, Minggu (31/1/2021).

Arma menceritakan, di awal masa pendampingan, yang dituju adalah anak-anak Suku Anak Dalam dengan program pendidikan.

“Target pada anak-anak ini bukannya tanpa alasan. Karena mereka masih terbuka dengan siapa saja, dan mudah menerima orang baru. Dan saat anak-anak itu terlihat gembira dengan kita para pendamping, maka orang tuanya akan lebih mudah untuk dijangkau,” ucapnya.

Ia menyebutkan, karakter Suku Anak Dalam adalah datar. Sehingga tidak bisa diketahui di awal pendampingan apakah mereka suka atau tidak dengan kehadiran para pendamping.

“Mereka itu datar saja. Kita tidak bisa tahu perasaan mereka. Nah, anak-anak kan lebih ekspresif,” ucapnya lagi.

Arma menyebutkan, bahwa program pendampingan yang dilakukan bukan bertujuan untuk mengubah budaya mereka. Tapi, bagaimana komunitas Suku Anak Dalam bisa bertahan di tengah kecepatan teknologi dan perkembangan ekonomi.

“Mereka itu kan mata pencahariannya berburu. Kalau dulu, memang bisa. Sehari di hutan, pulangnya sudah bisa membawa sesuatu untuk keluarga. Kalau sekarang, dengan makin tergerusnya hutan oleh industri, terkadang tiga hari di hutan juga tidak dapat apa-apa. Karena itu, kita mendampingi mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak, anak-anak bersekolah dan para ibu memulai kegiatan berternak kambing dan memelihara ikan. Sementara kaum bapak, masih ada yang tetap berburu, walaupun sudah bukan menjadi tumpuan utama penghasilan,” paparnya.

Mendatangkan narasumber untuk mengembangkan keterampilan menganyam yang menjadi keahlian Suku Anak Dalam, juga dilakukan.

“Sehingga hasil anyaman mereka bisa berdaya saing dan bernilai secara ekonomi,” ujar Arma.

Dari sisi teknologi, Arma menyebutkan, Suku Anak Dalam juga memiliki televisi dan handphone.

“Melalui teknologi elektronik itulah, mereka mulai mengenal alat kecantikan. Ada yang bonding-an juga, kok. Bahkan, anak-anak dan remaja memiliki sosial media sendiri,” ungkapnya.

Untuk menjaga agar generasi muda Suku Anak Dalam tetap positif dalam riuhnya teknologi internet, Arma menyebutkan pendampingan juga dilakukan dalam hal teknologi.

“Kita mengajarkan mereka membuat video pendek dengan handphone. Nanti mereka mengunggah sendiri di sosmed mereka. Sehingga mereka tetap dalam jalur positif bersosial media,” tuturnya.

Saat ini, hampir enam tahun pendampingan, Arma menyebutkan Suku Anak Dalam sudah tidak nomaden lagi serta memiliki KTP dan KK.

“Sudah dua orang yang memasuki jenjang kuliah di Jambi. Menurut dosen mereka, kedua anak itu bisa mengikuti program perkuliahan dengan sangat baik. Dan, masyarakat dari desa lain juga sudah menerima kehadiran Suku Anak Dalam, yang dulu mereka tolak karena pola hidupnya yang dianggap tidak bersih dan tidak sehat. Secara ekonomi, pun Suku Anak Dalam sudah tidak bergantung pada hasil berburu,” pungkasnya.

Lihat juga...