Waspadai ‘Happy Hypoxsia’ pada Pasien Covid-19
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MALANG – Kekurangan oksigen dalam darah secara tiba-tiba atau biasa disebut happy hypoxsia merupakan kondisi yang saat ini tengah diwaspadai pada pasien covid-19. Sebab dalam kasus happy hypoxsia, penderita tidak mengalami gejala apa pun termasuk tidak merasakan gejala sesak nafas.
Bahkan penderitanya bisa beraktivitas seperti biasa, tapi kemudian tubuhnya mengalami kekurangan oksigen secara tiba-tiba. Kurangnya kebutuhan oksigen di dalam tubuh inilah yang diindikasikan karena disebabkan adanya paparan virus dari Covid-19 yang masuk ke dalam tubuh seseorang.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Malang, dr. Husnul Muarif, menyebutkan, ada tiga faktor yang menyebabkan seseorang yang sebelumnya sudah terpapar oleh virus covid-19 tapi tidak ada gejala dapat mengalami happy hypoxsia, yakni faktor imunitas, usia dan penyakit penyerta.
“Karena adanya 3 faktor tersebut, menyebabkan perkembangan virus meningkat dalam waktu singkat. Akibatnya, virus yang seharusnya masih berada di atas itu langsung turun ke bawah sampai pada cabang paru-paru atau saluran nafas paling kecil alveolus sehingga terjadi penyumbatan yang menyebabkan happy hypoxsia atau kekurangan oksigen,” jelasnya, Jumat (18/9/2020).
Tapi, lanjutnya, jika imunitas seseorang dalam kondisi baik dan tidak ada penyakit penyerta, maka kemungkinan munculnya happy hypoxsia sangat kecil.
Oleh karenanya, bagi masyarakat yang memiliki penyakit penyerta dianjurkan untuk menerapkan pola Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sekaligus memiliki pembagian waktu yang jelas kapan mereka harus istirahat, kapan beraktivitas dan kapan waktunya mereka untuk makan.
“Harus ada pembagian yang jelas antara waktu istirahat, waktu aktivitas dan waktu makan. Ini dibuat untuk mengatur stamina atau gizi di dalam tubuhnya supaya seimbang sehingga imunitas tubuh menjadi lebih kuat. Jadi tidak lagi seperti kebiasaan sebelumnya,” tandasnya.
Sementara itu, pria yang juga menjabat sebagai Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Malang tersebut mengatakan, klaster keluarga saat ini menjadi salah satu klaster penyebaran Covid-19 yang harus diwaspadai. Di kota Malang sendiri, tercatat ada 10 klaster keluarga dengan 35 kasus yang tersebar merata di lima kecamatan.
Dijelaskan Husnul, klaster keluarga artinya di dalam keluarga tersebut ada satu orang yang positif, kemudian karena tidak disiplin dengan protokol kesehatan, dia justru menularkan kepada anggota keluarga lainnya yang berada di rumah tersebut.
“Klaster keluarga sesuai dengan penyebarannya ada di Blimbing, Kedungkandang, Lowokwaru, Sukun dan Klojen, semua ada,” sebutnya.
Menurutnya, klaster keluarga ini muncul karena belum disiplinnya keluarga dalam menjalankan protokol kesehatan. Sebab bagaimanapun juga, kalau ada satu orang di dalam satu keluarga sudah terkonfirmasi Covid-19, maka anggota keluarga yang lainnya harus disiplin melaksanakan protokol kesehatan.
“Kemarin sudah ada arahan dari ketua gugus tugas bahwa semua yang terkonfirmasi, dialihkan ke safe house sehingga tidak ada lagi isolasi mandiri di rumah,” ungkapnya.