Teh Rosella Gapoktan Wa Wua Mulai Digemari Pasar
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Sejak mulai dikembangkan dan dijual dalam jumlah yang lumayan besar, produksi teh rosella Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wa Wua Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai digemari pasar.
Teh rosella produksi Gapoktan Wa Wua pun mudah dijumpai dijual di gerai-gerai di Bandara Frans Seda Maumere, toko oleh-oleh di Kota Maumere serta disediakan di beberapa kafe yang berada di wilayah Kecamatan Kangae.
“Sekarang sudah mulai banyak yang membelinya semenjak kami kembangkan dengan mengemasnya secara baik,” kata Ignatius Iking, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Swadaya Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (4/8/2020).

Iking sapaannya mengaku, awalnya pihaknya kesulitan memasarkannya karena masyarakat belum terbiasa mengkonsumsi teh rosella. Apalagi kata dia, rasa tehnya pun agak sepat dan sedikit asam.
Namun pihaknya bersiasat dengan membagikannya secara gratis terlebih dahulu teh rosella yang belum dikemas kepada masyarakat di lingkungan Desa Langir agar bisa familiar.
“Awalnya kami hanya menitipkan di gerai-gerai yang ada di Bandara Frans Seda dan banyak wisatawan asing yang membelinya. Lama kelamaan kami mulai menjualnya di kafe-kafe dan minimarket yang ada di Kota Maumere,” ungkapnya.
Produk teh celup rosella yang sudah dikemas tersebut kata Iking, juga dititip ke Badan Usaha Milik desa (BUMDes) Langir untuk dijual dengan sistem bagi hasil. Perlahan-lahan penjualan teh rosella pun sebutnya, mulai mengalami peningkatan.
Kemasan isi 30 sachet ucapnya, dijual dengan harga Rp25 ribu sementara isi 12 sachet dijual 3 bungkus Rp10 ribu. Untuk kelopak bunga rosella, Gapoktan Wa Wua menjual dengan harga Rp15 ribu ukuran 50 gram.
“Saya mempunyai tekad. kita harus mengubah pola pikir masyarakat dari konsumsi produk dari luar daerah, lebih baik minum apa yang ada di sekitar kita dan bisa dikembangkan untuk menambah pendapatan keluarga,” ungkapnya.
Iking mengaku membagi bibit rosella kepada para petani untuk ditanam di kebun dan pekarangan rumah mereka. Setelah panen, rosella dari petani kata dia, dijual kepada dirinya dan Gapoktan Wa Wua untuk dikemas dan dijual.
Ia pun merasa bangga sudah banyak petani di Desa Langir yang menanam rosella sehingga bisa menambah pendapatan selain menanam jagung dan kacang-kacangan di areal kebun.
“Penjualan sudah lumayan dimana dalam sebulan bisa mendapatkan pemasukan jutaan rupiah. Sekarang ini kita sedang persiapkan untuk membuat kopi rosela dan kopi jahe rosella,” terangnya.
Pegiat pariwisata di Kabupaten Sikka, Wenefrida Efodia Susilowati mengakui, teh rosella memang selalu digemari wisatawan asing sehingga dirinya selalu menyediakannya di kafe miliknya.
Susi sapaannya mengaku bangga sudah banyak petani di Desa Langir yang menanam rosella apalagi Gapoktan Wa Wua sudah mengemasnya dengan baik sehingga bisa dibawa dan dijadikan oleh-oleh.
“Saya juga suka menanamnya di pekarangan rumah dan mengolahnya sendiri menjadi teh. Saya bangga Gapoktan Wa Wua sudah mengembangkannya dan mengemasnya sehingga bisa dijual ke pasar dan menambah pendapatan bagi para petani kita,” ujarnya.