Panen Padi di Padang Rendah, Ini Upaya Tingkatkan Produksi

Editor: Makmun Hidayat

PADANG — Panen padi di daerah Kota Padang, Sumatera Barat, masih terbilang cukup rendah. Setidaknya tercatat ada 5 kali panen yang terjadi dalam kurun waktu 2 tahun lamanya.

Kepala Dinas Pertanian, Syahrial mengatakan untuk mewujudkan ketahanan pangan yang dimulai dari Kota Padang, pihaknya mendorong agar demplot padi di Kota Padang bisa panen 3 kali dalam setahun. Dengan demikian produksi padi dapat dikatakan jauh lebih baik dari 5 kali panen selama 5 kali dalam kurung waktu 2 tahun.

“Dari hitungan demplot padi kita di Padang ini, sebut saja untuk Kelompok Tani Setia Budi, Kelurahan Sungai Sapih, Kecamatan Kuranji, diperkirakan produksi panen padi di area mencapai jumlah 5,9 ton per panen,” katanya, Rabu (19/8/2020).

Ia menyebutkan diperkirakan umur padi sampai panen mencapai 110 hari. Artinya bisa dihitung untuk panen 3 kali adalah 330 hari. Jadi, untuk setahun berarti menyisakan waktu lebih kurang sebanyak 24 hari untuk melakukan pembibitan sampai panen serta pengerjaan lainnya.

“Nah jika itu kita lakukan dan kita tingkatkan dari kondisi sebelumnya, bisa meningkatkan pula jumlah produksi pagi di Kota Padang ini,” ujar dia.

Syahrial mengaku bahwa dalam rangka untuk ketahanan pangan ke depan maka Dinas Pangan dan Dinas Pertanian perlu melakukan inovasi-inovasi dan langkah-langkah konkret.

“Jika itu terwujud, maka nantinya di Kota Padang bisa kita berikan percontohan-percontohan terkait panen padi sawah sebanyak 3 kali dalam setahun. Insyaallah, semoga segala upaya yang kita lakukan berjalan maksimal tentunya,” ujar dia.

Sementara itu, Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah, menyambut baik adanya keinginan untuk meningkatkan jumlah produksi pagi. Apalagi kini kelompok tani di Kuranji itu, telah melakukan panen perdana penangkar padi sawah varietas Bujang Marantau untuk ketersediaan benih padi.

“Semoga penangkaran pada sawah ini ke depan lebih berkembang dan meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya,” ujar Mahyeldi, yang juga seorang alumni Fakultas Pertanian Unand.

Ia menyampaikan, pihaknya juga mendiskusikan beberapa hal yang perlu dibenahi ke depan seperti drainase untuk aliran air ke sawah. Begitu juga nantinya untuk kawasan berapa ratus hektare sawah, dengan peralatan mesin pertanian yang dikelola baik dari Bumdes, Bumnag atau BUMD semoga bisa mempercepat pengolahan tanah sawah.

“Jadi, bila panen padi dapat serentak dilakukan, maka pada satu hari saja bisa dilakukan panen dengan satu alat bisa untuk satu hektare luas sawah,” ungkapnya.

Menurutnya, bila diukur dengan adanya satu alat panen untuk menggarap 250 hektare saja dan itu bisa diselesaikan. Artinya ada 4 buah alat, maka dapat dipastikan lagi terjadi percepatan produksi padi.

“Inilah yang terus kita dorong, agar pertanian di Kota Padang terus meningkat dari waktu ke waktu,” pintanya.

Lihat juga...