Manfaatkan Lahan Pekarangan di Perkotaan, Penuhi Kebutuhan Pangan Mandiri

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Wakil Wali Kota Semarang,  Hevearita Gunaryanti, mengajak masyarakat untuk bisa mandiri dengan mendorong ketersediaan pangan bagi warga Kota Semarang melalui inovasi urban farming.

Urban farming merupakan konsep memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan dengan memanfaatkan lahan sempit yang ada di rumah atau lingkungan sekitar tempat tinggal.

Hal tersebut disampaikannya, di sela panen sayuran bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Sekar Wangi Kuningan Semarang, Kelurahan Kuningan, Semarang Utara, Minggu (23/8/2020).

“Lahan seluas apa pun dengan kondisi apa pun dapat diolah menjadi lahan yang produktif. Dengan begitu, maka harapannya masyarakat dapat menggunakan pekarangannya masing-masing sebagai lahan pertanian perkotaan. Targetnya selain melakukan penghijauan, warga dapat mengkonsumsi sayuran yang ditanamnya sendiri,” ujarnya.

Jika tidak ada lahan berupa tanah, masyarakat bisa menggunakan pertanian polybag, hidpronik hingga aquaponik. Hal tersebut, perlu didorong, dalam upaya untuk mendukung ketahanan pangan dari lingkungan masing-masing.

“Konsep urban farming ini bisa membantu warga di bidang ketahanan dan kemandirian pangan, terlebih saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, beragam sayuran yang ditanam KWT Sekar Wangi Kuningan Semarang bersama warga, berhasil dipanen. Mulai dari tomat, cabai, sawi, bayam hingga terong.

“Bentuk dukungan dalam urban farming ini, juga terus kita lakukan. Termasuk berupa pelatihan pertanian kepada warga, hingga bantuan bibit dan peralatan pertanian,” terangnya lagi.

Sementara, Ketua KWT Sekar Wangi Kuningan, Nurgiyanti, menjelaskan, dalam sebulan, pihaknya melakukan panen sayur mayur sebanyak dua kali. Beragam tanaman tersebut, ditanam di lahan kosong yang ada di wilayah RT 03/ RW X Kelurahan Kuningan.

“Pertanian ini dimulai dari keprihatinan kita, melihat tanah di lokasi yang ditumbuhi banyak rumput liar. Lalu tercetus, seandainya tanah ini dimanfaatkan menjadi lahan pertanian, yang bisa ditata menjadi lahan yang hijau, sekaligus bisa mendapatkan penghasilan,” paparnya.

Dari ide tersebut, kemudian disampaikan kepada pihak Kelurahan Kuningan hingga selanjutnya didampingi dari Dinas Pertanian Kota Semarang, hingga terbentuk KWT Sekar Wangi Kuningan. Kelompok tersebut beranggotakan para ibu di lingkungan tersebut.

“Sejak itu hingga sekarang, kita mengelola lahan tersebut, hingga sekarang. Sejauh ini, manfaatnya sudah kita rasakan. Hasil panen sayur mayur tersebut, kita jual ke masyarakat atau pedagang, yang hasilnya bisa dimanfaatkan oleh para anggota,” pungkasnya.

Di dalam perkembangannya, pihaknya juga menggandeng berbagai stake holder, untuk mengembangkan dan mendorong semangat urban farming. Termasuk para mahasiswa KKNT Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).

Lihat juga...