Kuliner di Banyumas Mulai Bangkit, Pedagang Tertib Gunakan Masker

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Secara perlahan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sektor makanan di Kabupaten Banyumas mulai bangkit. Terutama untuk UMKM yang lokasi berjualannya jauh dari pasar tradisional dan penjualnya menerapkan protokol kesehatan dengan tertib menggunakan masker.

“Sudah mulai ramai pembeli minggu ini, nasi rames dan nasi uduk jualan saya siang hari sudah habis,” kata Sugiarti, penjual nasi uduk di Kelurahan Bobosan, Kecamatan Purwokerto Utara, Selasa (4/8/2020).

Sugiarti menuturkan, ia sempat tidak berjualan satu minggu, saat Pasar Wage Purwokerto ditutup akibat puluhan pedagangnya terkonfirmasi positif Covid-19. Namun, secara berangsur kondisi sudah mulai ramai pembeli.

“Kuncinya untuk bangkit lagi, kita memperlihatkan kepada para pembeli, bahwa kita mentaati protokol kesehatan. Saya selaku penjual selalu menggunakan masker, begitu juga yang bagian menggoreng berbagai macam jenis gorengan, sehingga pembeli merasa aman,” tuturnya.

Sehari-hari Sugiarti berjualan nasi rames dan nasi uduk dengan berbagai jenis lauk-pauk. Mulai dari kering tempe, odeng buncis, balado terong, telur dadar, bandeng goreng dan sebagainya.

Warung makannya  menggunakan gerobak dorong di tepi jalan, selama ini selalu ramai pembeli karena masakannya terkenal enak. Ada dua jenis sambal yang disediakan, yaitu sambal terasi dan sambal kacang. Sehingga pembeli bisa memilih sesuai selera.

Dalam situasi normal, dua bakul nasi jualannya selalu habis, begitu juga dengan sayur dan lauk-pauknya. Namun, saat mulai pandemi, penjualan nasi uduknya menurun dratis, bahkan pernah dalam satu hari  2-3 orang yang membeli. Karena itu, ia menutup warungnya.

“Pernah tutup, tetapi kita tidak mempunyai penghasilan lain, jadi kembali buka walaupun awalnya masih sepi pembeli. Alhamdulillah sekarang berangsur sudah mulai ramai,” katanya.

Salah satu pembeli nasi uduk, Ifa mengatakan, ia langganan membeli nasi uduk di warung milik Sugiarti, selain masakannya enak, penjualnya juga tertib menggunakan masker dan disediakan tempat cuci tangan.

“Awalnya saya memang ragu untuk membeli makanan yang sudah matang, sehingga memilih masak sendiri. Tetapi setelah mulai masuk kerja, repot juga pagi-pagi harus masak, jadi terpaksa beli makanan. Namun, tetap selektif, terutama memilih yang penjualnya menggunakan masker,” katanya.

Selain warung nasi uduk Sugiarti, beberapa warung makan di Purwokerto Utara juga terlihat sudah mulai ramai pembeli. Seperti penjual ketoprak di pertigaan Bobosan, kemudian warung mie ayam, warung rujak dan lainnya. Secara perlahan, UMKM mulai bangkit, terutama UMKM yang menerapkan protokol kesehatan.

Lihat juga...