Kesadaran Masyarakat Maumere Soal Dampak Perubahan Iklim, Minim

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Kabupaten Sikka pada awal tahun 2020 mengalami kejadian luar biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD). Per tanggal 16 Maret 2020 data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan setidaknya terdapat 1.292 kasus atau 38 persen di seluruh NTT dan 5 persen nasional.

Korban meninggal kasus DBD di Sikka mencapai 14 orang. Oleh kementerian kesehatan RI dijelaskan bahwa kejadian ini dipicu oleh permasalahan pengelolaan sampah yang tidak baik.

“Akar persoalan yang dihadapi antara lain juga karena kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang dampak perubahan iklim dan drainase serta lingkungan yang tidak bersih,” kata Bernardus Lewonama Hayon, aktivis PAPHA Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Sabtu (22/8/2020).

Staf Perkumpulan Aktivis Peduli Hak Anak (PAPHA) Kabupaten Sikka, NTT, Bernardus Lewonama Hayon saat ditemui di kantornya, Sabtu (22/8/2020). Foto: Ebed de Rosary

Bernardus mengatakan, hal–hal praktis tentang bagaimana mengurangi persoalan air bersih dan sampah plastik juga belum dipahami dengan baik oleh masyarakat. Apalagi persoalan perubahan iklim dan dampaknya secara luas.

Ia mengatakan, ditemukan botol–botol, gelas dan tempat bekas minuman dibuang begitu saja oleh masyarakat, drainase yang buruk dan lingkungan yang memang tidak bersih.

“Rencana pembangunan juga belum mengarusutamakan adaptasi perubahan iklim, maka turut mempengaruhi persoalan kekeringan. Apalagi banjir sampah mengakibatkan KLB DBD dan rawan pangan,” ungkapnya.

Bernardus memaparkan, tanggal 27 September 2017, Bupati Sikka pernah mengeluarkan pernyataan rawan pangan akibat bencana kekeringan dan badai di 33 Desa yang kemudian menjadi 50 desa  tersebar di 11 kecamatan.

Selain itu katanya, tahun 2019, BMKG Stasiun Klimatologi Kupang melaporkan 9 kabupaten mengalami kekeringan ekstrem termasuk Kabupaten Sikka. Bahkan kecamatan Magepanda merupakan wilayah dimana mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori kekeringan ekstrem (>60 hari).

“Kami ingin masyarakat memahami pentingnya upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Maka kami melakukan sosialisasi kepada pemerintah dan kaum muda sekaligus membuat komitmen bersama untuk mendukung upaya  adaptasi perubahan iklim oleh kaum muda,” ungkapnya.

Bernardus menyebutkan, PAPHA ingin memberikan pemahaman kepada pemerintah desa dan kelurahan, anak, kaum muda dan stake holder lainnya tentang perubahan iklim dan adaptasinya.

Juga kata dia, memberikan pemahaman tentang  upaya yang dapat dilakukan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim tersebut. Serta program peningkatan kapasitas kaum muda tentang adaptasi perubahan iklim untuk masa depan yang lebih baik.

“Kami membuat komitmen bersama semua pihak di desa dan kelurahan untuk mendukung upaya  adaptasi perubahan iklim yang dilaksanakan oleh kaum muda,” tuturnya.

Sementara itu, mantan ketua DPRD Sikka yang juga pegiat lingkungan, Rafael Raga, mengatakan, pihaknya mendukung upaya yang dilakukan kaum muda untuk mengurangi dampak perubahan iklim dengan melakukan penanaman pohon.

Selain mendorong penananam pohon di hutan dan sekitar mata air, dirinya pun selalu mendorong masyarakat menanam pohon di lahan tidur dan di kebun warga. Selain berfungsi sebagai penghijauan, kayunya pun bisa memiliki nilai ekonomis.

“Saya selalu menanam pohon termasuk saat bertugas di dewan saya menghijaukan areal kantor DPRD Sikka. Sejak dahulu kami selalu mendorong petani menanam mahoni dan jati sebagai tanaman investasi di masa tua. Selain juga bisa menghijaukan wilayah sekitar,” ungkapnya.

Lihat juga...