Pesona Ritaebang, Pantai Pasir Putih yang Belum Dijamah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LARANTUKA — Ritaebang, salah satu kelurahan di luar Kota Larantuka ibukota Kabupaten Flores Timur yang berada di ujung barat Pulau Solor yang menyimpan banyak keunikan. Daerah ini terkenal dengan pantai pasir putihnya yang membentang panjang sekitar 4 kilometer sejak timur hingga ke ujung barat Pulau Solor di sisi utara, dengan butiran pasir putihnya yang halus.

Mantan Lurah Ritaebang Kecamatan Solor Barat Kabupaten Flores Timur, NTT, Urbanus Werang saat ditemui, Minggu (5/7/2020). Foto : Ebed de Rosary

“Pemerintah sudah mulai menata pantai ini namun belum banyak pengunjung dari luar daerah yang datang,” kata Urbanus Werang, mantan lurah Ritaebang saat ditanyai, Minggu (5/7/2020).

Urbanus mengaku, pantai Ritaebang sudah lebih bersih karena ada kelompok anak muda yang selalu menjaga dan membersihkan sampah.

Selain itu tambahnya, ada kelompok anak muda yang juga melakukan penanaman bakau di pesisir pantai Riangsunge. Bakau-bakau tersebut pun mulai tumbuh besar karena selalu dijaga dan dirawat.

“Pantai ini selalu menjadi tempat bagi penyu untuk bertelur sehingga ada sebuah kelompok yang melakukan penetasan dan pelepasan tukik. Dirinya berharap kelompok Pedang Wutun tersebut mendapatkan bantuan dana dari pemerintah,” ungkapnya.

Urbanus menambahkan, pemerintah sudah mulai membangun beberapa Lopo atau rumah sederhana sebagai tempat beristirahat dan MCK. Memang perlu ada promosi agar pantai ini ramai dikunjungi wisatawan.

Agustinus Niron Kapospol Riangsunge bersama Babinsa Solor Barat Sertu Melky Monega mengumpulkan anak muda dan membentuk Kelompok Tani penggerak Wisata (Tanpa) untuk mengelola pantai ini di 2018.

Sebelah barat pantai Riangsunge di ujung barat pulau Solor sebut Agustinus, terdapat selat Lewotobi yang di tengahnya terdapat dua pulau kecil yang dinamakan pulau Kambing. Sementara di depannya kata dia, terlihat pulau Konga dan gunung api kembar Lewotobi.

Menurutnya, perairan di depan Raingsunge hingga ke Ritaebang merupakan hunian penyu dimana pantai ini pun sering dijadikan tempat bertelur oleh penyu sisik, penyu hijau maupun penyu Belimbing.

“Sering terlihat hiu paus sebab perairan di teluk ini banyak terdapat plankton. Banyak wisatawan yang mengaku sering melihat penyu saat diving di perairan ini,” ungkapnya.

Nelayan di Ritaebang maupun desa-desa di kecamatan Ilebura di Pulau Flores yang berada persis di depan ujung barat pulau Solor kata Agustinus, pukatnya sering terjaring penyu dan hiu paus.

Dirinya pun bersama anggota kelompok Tanpa dan anak-anak sekolah selalu melakukan penanaman mangrove sejak tahun 2017. Penanaman dilakukan sebutnya, untuk menggatikan bakau yang dulunya sering ditebang masyarakat dan yang sudah tua.

“Pohon pandan laut dan bakau yang ada di pesisir pantai ini kami larang untuk ditebang agar bisa menjadi peneduh bagi wisatawan selama bertamasya di pantai ini,” pungkasnya.

Lihat juga...