Peluang Ekspor Produk UMKM Jateng Tetap Tinggi
Editor: Koko Triarko
SEMARANG – Di tengah pandemi Covid-19, dengan pasar dunia yang masih melesu, tidak menjadi penghalang bagi sejumlah produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan pertanian di Jawa Tengah untuk diekspor. Dari catatan Dinas Koperasi dan UKM Jateng, produk sarung goyor dan jamu herbal menjadi dua di antaranya.
“Meski pandemi Covid-19 tengah melanda dunia dan perekonomian melesu, namun jika kita jeli melihat pasar, peluang itu tetap ada. Termasuk untuk pasar internasional. Misalnya, produksi sarung goyor dan jamu herbal yang masih memiliki pasar ekspor di luar negeri,” papar Kepala Dinkop dan UKM Jateng, Ema Rachmawati, di Semarang, Minggu (26/7/2020).
Dipaparkan, pasar sarung goyor saat ini sudah mencapai Kongo Afrika, dengan Kabupaten Sragen hingga Pemalang sebagai sentra produksi. Termasuk, jamu herbal yang banyak diminati di Amerika Serikat.
“Sentra jamu herbal ada di Kabupaten Sukoharjo, dari yang mulanya sebulan hanya produksi dua ribu botol, kini mencapai 13 ribuan,” terangnya.
Menurutnya, para pelaku UMKM di Jateng harus bisa memanfaatkan peluang di masa pandemi untuk bisa bertahan.
“Ini membuktikan jika pasar ekspor masih terbuka. Untuk itu, kita dorong para pelaku UMKM untuk bergerak, aktif mencari pasar dan peluang,” tambahnya lagi.
Pihaknya juga mendorong pemanfaatan teknologi informasi atau pasar digital (e-commerce), untuk dapat memperluas pasar.
“Teman-teman UMKM harus bisa mengadopsi teknologi, untuk mendongkrak performa bisnisnya. Terutama memperluas jangkauan pasar. Produk yang dimiliki bisa diunggah melalui e-commerce yang ada, sehingga memudahkan buyer atau pembeli,” tambahnya.
Tidak hanya produk UMKM, hasil pertanian dan perkebunan di Jateng, untuk pasar ekspor juga masih tinggi. Hal tersebut, ditegaskan Kepala Balai Karantina Pertanian Semarang, Parlin R Sitanggang.
“Berdasarkan data Indonesia Quarantine Full Automation System (IQFast), ekspor produk perkebunan asal Jateng, pada semester awal 2020 mencapai 66,2 ton. Angka ini meningkat dibanding periode yang sama pada tahun lalu, yang mencatat angka 51 ton,” paparnya.
Dicontohkan, teh menjadi produk perkebunan yang cukup tinggi diekspor. Tahun ini, pihaknya sudah melakukan periksa fisik sebelum diekspor, dengan jumlah mencapai 31,3 ton.
“Produk teh ini dihasilkan oleh beberapa perkebunan teh di Jateng, seperti Perkebunan Teh Pagilaran Kabupaten Batang, Perkebunan Teh Kaligua, Kabupaten Brebes, serta perkebunan teh lainnya,” terangnya.
Sementara untuk hasil pertanian, Parlin mencontohkan produk sawi putih yang mampu menembus pasar di Taiwan dan Malaysia. Ekspor komoditas tersebut, juga telah melalui serangkaian tindakan karantina dan pemenuhan persyaratan negara tujuan.
“Bebas dari serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) menjadi salah satu persyaratan. Kita juga mendukung akselerasi ekspor, dengan melakukan sertifikasi fitosanitari sebagai jaminannya. Untuk itu, kita dorong agar kabupaten kota di Jateng, bisa melakukan ekspor produk pertanian, perkebunan dan olahan pertanian mereka. Peluang masih tetap terbuka di tengah pandemi Covid-19,” pungkasnya.