Konservasi Bambu, Ekosistem dan Ekonomi Warga Lamsel Terjaga

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kebutuhan akan bambu di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) dipenuhi dari sejumlah sentra bambu. Wilayah Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang jadi penghasil bambu yang ditanam pada sejumlah daerah aliran sungai (DAS). Kodrat Sumardi, warga Dusun Gunung Goci menyebut ada beberapa jenis bambu yang ditanam sejak puluhan tahun silam.

Jenis bambu yang ditanam meliputi bambu duri (Bambusa blumeana), bambu tali (Gigantochloa apus), bambu hitam (Gigantochloa atroviolacea), bambu tamiang (Schizostachyum blumei). Selain bambu ia menanam jenis kayu bayur elang, medang, jati dan kemiri. Semua jenis tanaman tersebut sengaja ditanam akibat tingginya kebutuhan untuk bangunan.

Warga asal Yogyakarta yang pernah tinggal di dekat Kali Progo itu menyebut memanfaatkan DAS untuk menanam bambu. Sejak tahun 1980 ia menancapkan beberapa batang bambu yang kini menjadi sejumlah rumpun. Tanpa proses perawatan yang sulit ia berhasil memiliki puluhan rumpun bambu. Kebutuhan membuat geribik, pagar rumah diperoleh dari hasil kebun.

“Hasil menanam bambu sangat dibutuhkan dalam berbagai kehidupan harian petani untuk ajir tanaman, pagar kebun, penyangga pohon pisang hingga sebagian dijual untuk kebutuhan nelayan membuat bagan congkel dan tonggak untuk budidaya rumput laut,” terang Kodrat Sumardi saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (29/7/2020).

Kesadaran akan fungsi ekologis bambu menurut Kodrat dilakukan imbas sejumlah lahan kritis di wilayah tersebut. Kawasan yang masuk hutan produksi gunung Taman menurutnya digarap oleh masyarakat sejak puluhan tahun silam. Meski digarap ia menyebut menjaga kelestarian lahan dibutuhkan agar kondisi tanah tetap stabil.

Tanaman bambu dan berbagai jenis pohon disebutnya efektif mencegah longsor. Konservasi bambu pada kawasan tersebut sekaligus menjadi habitat dari sejumlah reptil jenis ular sanca, berbagai jenis burung dan monyet. Hasil panen bambu yang sebagian dibeli untuk produk turunan berupa perabot rumah tangga, bahan bangunan memberi hasil bagi petani dan cegah longsor lahan.

“Menanam bambu memiliki manfaat yang berlipat karena menjaga ekosistem sekaligus sumber ekonomi,” cetusnya.

Peremajaan tanaman bambu diakuinya cukup mudah. Saat musim kemarau melanda tanaman hanya meranggas. Bahkan ketika dibakar tanaman bambu masih bisa bertunas. Penambahan tunas bambu memberi sumber bahan pangan dari rebung yang dihasilkan. Rebung akan diolah menjadi bahan sayuran alternatif menjadi sumber penghasilan bagi istrinya.

Sobri, salah satu pengguna bambu hitam memilih membeli dari wilayah Ruguk. Potensi tanaman bambu di aliran sungai gajah mati menjadi pelindung vegetasi bambu dan tanaman lain. Bambu yang dibeli menjadi bahan pembuatan tiang untuk perahu bagan congkel. Sebagian digunakan untuk pembuatan para para media pengeringan ikan asin dan teri.

Sobri, salah satu warga Desa Ruguk Kecamatan Ketapang Lampung Selatan memanen bambu hitam untuk kebutuhan pembuatan bagan congkel, Rabu (29/7/2020) – Foto: Henk Widi

“Jenis bambu hitam dipilih yang sudah cukup tua karena lebih awet dan sekali menebang dibutuhkan sekitar ratusan batang,” terang Sobri.

Satu batang bambu hitam menurutnya dibeli seharga Rp4.000 dan dipotong ukuran 5 hingga 6 meter. Selain kebutuhan untuk nelayan permintaan bambu menurut Sobri meningkat jelang perayaan HUT Kemerdekaan RI.

Bambu jenis tali dan tamiang kerap digunakan untuk tiang pengibaran bendera dan umbul-umbul. Dibeli dari petani seharga Rp2.000 per batang permintaan diperoleh dari penjual bendera untuk dijual kembali.

Rumpun bambu yang telah ditebang menurut Sobri justru akan tumbuh lebih baik. Usai ditebang tunas bambu selanjutnya akan memiliki batang yang lurus. Penambahan rumpun dari tunas akan memperluas jangkauan tanaman bambu. Pergeseran rumpun bambu selama puluhan tahun bisa mencapai puluhan meter dari titik awal tumbuh.

Wahyudi Kurniawan, menyebut penanaman bambu jadi salah satu solusi pelestarian lingkungan. Kepala UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) XIII Gunung Rajabasa-Way Pisang-Bukit Serampok itu menyebut fungsi ekologis bambu cukup banyak. Pada sejumlah wilayah bambu jadi habitat burung manyar yang mulai langka dan berbagai jenis satwa.

Wahyudi Kurniawan, Kepala UPT KPHL XIII Gunung Rajabasa-Way Pisang-Bukit Serampok Dinas Kehutanan Provinsi Lampung saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (29/7/2020) – Foto: Henk Widi

“Tanaman bambu yang jauh dari permukiman warga bisa menjadi habitat yang disukai satwa, selain itu pencegah longsor,” cetusnya.

Kawasan hutan produksi, hutan kemasyarakatan sangat tepat menjadi lokasi penanaman bambu. Bibit bambu disebutnya bisa diperoleh dari persemaian permanen Karangsari.

Selain itu sejumlah bambu dipergunakan untuk kebutuhan ekonomis masyarakat. Proses penanaman murah, mudah dengan hasil tinggi jadi pilihan warga menanam bambu untuk menjaga ekosistem di wilayah yang rawan longsor.

Lihat juga...