Insentif NaKes RS Rujukan COVID-19 di Sulsel Masih Belum Cair
MAKASSAR – Sejumlah Rumah Sakit (RS) rujukan utama, yang memberikan pelayanan pasien COVID-19 di Sulawesi Selatan (Sulsel), masih menunggu pencairan insentif bagi Tenaga Kesehatan (Nakes) yang telah melayani pasien COVID-19.
Rumah sakit yang dimaksud adalah, Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Dadi Makassar dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Rakyat Provinsi Sulawesi Selatan. Direktur Utama RSKD Dadi, dr Arman Bausat menyampaikan, pihaknya telah mengajukan pencairan insentif nakes sejak tiga pekan lalu. Namun, hingga saat ini dana tersebut belum kunjung cair. “Sudah diajukan semua. Diverifikasi di Jakarta. Semua kita sudah ajukan ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sesuai petunjuk teknis yang turun. saya sampaikan ke teman-teman tunggu saja dan anggap saja kalau itu menabung,” ujarnya, Sabtu (11/7/2020).
dr Arman menyebut, pengajuan insentif yang telah dikirim ke Kemenkes berbeda-beda jumlahnya untuk setiap nakes di setiap bulannya. Hal itu dikarenakan, insentif Kemenkes hanya dikhususkan bagi nakes yang melakukan kontak langsung dengan pasien corona. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan, jasa medik bagi pelayanan pasien COVID-19, cuma diperuntukkan bagi nakes (dokter dan perawat) dan nakes lainnya (petugas lab atau analis kesehatan dan radiografer).
Adapun rincian total nakes yang bertugas melayani pasien COVID-19 di RSKD Dadi setiap bulannya, mulai April ada 102 nakes, Mei ada 166 nakes dan Juni sekira 180 nakes. 14 orang di antaranya adalah dokter spesialis, dan 12 orang dokter umum. dr Arman menyebut, perbedaan atau peningkatan jumlah nakes yang bertugas sesuai dengan jumlah pasien. Bertambahnya pasien COVID-19, secara otomatis disertai dengan penambahan jumlah nakes yang bertugas. “Ada rasio pasien dengan tenaga yang merawat. Kita baru buka pelayanan untuk COVID-19 itu pada April, Mei bertambah lagi, Juni sudah sekitar 180-an, mereka inilah yang berhak mendapat jasa,” ujarnya.
Jasa medik bagi nakes disebut dr Arman berbeda-beda. Persentase insentif tersebut disesuaikan dengan jasa setiap nakes, yang bertugas melayani pasien corona. “Persentase dapatnya berbeda, misalnya untuk dokter spesialis yang masuk setiap hari masuk, maka terima 15 juta. Ada yang lima hari, pasti jumlahnya lebih sedikit. Contoh lain untuk dokter ahli jiwa, ada empat orang masuk tim penanganan corona, tetapi baru dua orang yang bertugas melayani pasien, tentu hanya dua orang ini yang akan dibayarkan jasanya,” tutur dr Arman.
Direktur Utama RSUD Sayang Rakyat, dr Siti Haeriah Buhari mengemukakan, pihaknya telah pula mengusulkan pencairan insentif nakes kepada Kemenkes. Insentif nakes jumlahnya beragam, sesuai dengan masa kerja 22 hari selama sebulan, untuk dokter ahli sebanyak Rp15 juta, dokter umum 10 juta dan nakes lainnya Rp7,5 juta. “Insentif ini khusus untuk nakes yang kontak dengan COVID-19. Dokter, dokter spesialis, nakes lainnya, kemudian pegawai yang lain, rekam medik di gedung, pemusaran jenazah, insentifnya beda, tergantung kerjanya,” katanya.
RSUD Sayang Rakyat menugaskan 84 orang nakes, yang keseluruhan telah merawat pasien corona. Jumlah itu belum termasuk dokter paru sebanyak 10 orang, dokter penyakit dalam dua orang dan dokter anastasi tiga orang. Hingga sekarang, RSUD Sayang Rakyat telah merawat pasien hampir 200 orang, dengan 90 orang lebih telah dinyatakan sembuh, sementara 27 orang lainnya telah meninggal dunia. (Ant)