Bisnis Bonsai Menggeliat di Denpasar Selama Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

DENPASAR — Bisnis tanaman Bonsai mulai menggeliat di Bali khususnya di Kota Denpasar. Diketahui, banyaknya masyarakat yang mulai menggemari bukan tanpa alasan, melainkan karena demi menghilangkan kebosanan selama pandemi.

Hal tersebut dianggap potensi bagi Komarudin, salah seorang penjual bonsai di Kota Denpasar misalnya. Menurutnya, setiap hari ada saja yang mencari dan membeli di tempatnya.

Berbagai jenis yang dijual di tempatnya, seperti jenis bonsai Serut, Malaka, Adenium, Kawista, Kesambi, dan jenis Mimba. Bahkan, ada jenis Laban (Labana) yang disinyalir bisa menjadi salah satu obat herbal pengobatan Covid19 berdasarkan uji laboratorium di kampus Universitas Indonesia.

“Bonsai ini dapat saya cari di wilayah selatan (bukit kawasan Kuta Selatan) dengan gratis. Disana terbilang cukup banyak untuk memperoleh beberapa jenis yang saya jual,” ujarnya saat ditemui di rumahnya di Jalan Pulau Galang, Denpasar Selatan, Selasa, (21/7/7/2020).

Komar sapaan akrabnya menambahkan, rata-rata tanaman yang dijual masih berupa bongkelan alias belum berbentuk. Bongkelan memerlukan proses selama kurang lebih antara dua hingga empat bulan hingga menjadi tunas bonsai. Meskipun begitu, masih saja ada orang yang mencari untuk membeli tanaman mungil ini. Meskipun, resiko tidak tumbuh menjadi tunas akan diperolehnya.

Disampaikan, sebelum ditanam didalam pot, bongkelan bonsai tersebut terlebih dahulu dibuatkan pot sebagai media tanam sesuai jenis. Kemudian, siapkan tanah yang sudah dicampur dengan pupuk kompos. Baru kemudian bongkelan ditanam di pot yang sudah menjadi media tanamnya.

“Ya itu bukan tanggung jawab kami, artinya si pembeli tersebut berada yakin untuk merawat bongkelan bonsai tersebut. Padahal, tidak sembarangan menjadikan bongkelan hingga menjadi tunas. Diperlukan waktu dua hingga empat bulan lamanya,” imbuhnya.

Untuk harganya, bongkelan yang dijual bervariasi, mulai dari harga Rp. 100 hingga. hingga Rp. 700. Tergantung dari jenis. Sementara, jenis yang paling mahal yaitu jenis bonsai Serut. Karena, jenis ini sulit dicari.

“Selain jenis Serut, bonsai Kawista terbilang cukup mahal. Harga hampir sama, antara Rp. 100 hingga. hingga Rp. 700. Dan itu belum termasuk harga pot bunganya,” tegas pria asal Malang ini.

Merawat tanaman bonsai terbilang cukup populer di Bali. Bahkan, masyarakat luas Kota Denpasar seperti Buleleng, Jembrana dan Bangli mencari atau membelinya. Seperti yang dikatakan oleh Jusuf, salah seorang kolektor sekaligus pedagang tanaman bonsai di Denpasar.

Dirinya mengaku mendapat berkah tersendiri dari bisnis ini selama pandemi. Ratusan ribu rupiah per hari dia bisa didapatkan dari hasil berjualan. Jusuf menyatakan, untuk mencari bonsai terbilang susah-susah gampang. Artinya, bongkelan yang dicari rata-rata terletak di sekitar tebing yang curam. Jika tidak hati-hati, bisa membahayakan diri. Untuk harga jual bongkelan bonsai Laban, dijualnya seharga Rp. 1.500.

“TSekarang yang paling banyak dicari bonsai jenis Laban. Karena bisa jadi obat Covid19 katanya. Saya kemarin baru dapat satu bongkelan,” tandasnya.

Lihat juga...