Selama Tiga Hari Beroperasi, Daop 5 Tolak 79 Penumpang
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
PURWOKERTO — Pengoperasian kereta api (KA) mengedepankan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, sehingga selama tiga hari beroperasi, sudah ada 79 calon penumpang yang ditolak. Alasan penolakan penumpang tersebut karena tidak membawa hasil rapid test.

Manager Humas Daop 5 Purwokerto, Supriyanto mengatakan, paling banyak penumpang yang ditolak yaitu pada hari ini, Minggu (14/6/2020), total ada 65 orang calon penumpang. Sebagian besar merupakan calon penumpang KA Serayu yang mencapai 57 orang.
“Pengoperasian KA selama new normal ini, para penumpang tetap harus membawa hasil rapid test yang menyatakan tidak reaktif, sehingga bagi yang tidak disertai, terpaksa ditolak. Ini sudah protap kami,” jelasnya.
Dari data Daop 5 Purwokerto, pada hari Minggu ini, ada tiga KA yang menolak penumpang, yaitu KA Ranggajati ada 6 calon penumpang yang ditolak, KA Kahuripan ada 2 calon penumpang yang ditolak dan KA Serayu ada 57 calon penumpang yang ditolak.
Sementara pada hari sebelumnya, Sabtu (I3/6/2020), ada 12 calon penumpang yang ditolak. Yaitu 4 calon penumpang KA Ranggajati dan 8 orang calon penumpang KA Serayu. Pada hari pertama pengoperasian KA, Jumat (12/6/2020), ada dua penumpang yang ditolak, yaitu 1 orang calon penumpang KA Ranggajati dan 1 calon penumpang KA Kahuripan.
Sedangkan untuk jumlah penumpang yang naik dari wilayah Daop 5 Purwokerto selama tiga hari, total ada 108 orang penumpang. Penumpang naik terbanyak pada hari ini, yaitu ada 60 orang, kemudian pada hari Sabtu ada 35 orang penumpang yang naik dan pada hari Jumat ada 13 orang yang naik.
“Hari Jumat, pengoperasian KA Serayu hari pertama dan mendadak, baru diumumkan pada malam hari dan diberangkatkan pagi hari, sehingga belum ada penumpang yang naik,” kata Supriyanto.
Lebih lanjut Supriyanto mengatakan, secara perlahan, perjalanan KA mulai ramai penumpang. Seluruh KA yang berangkat maupun yang melewati wilayah Daop 5 Purwokerto, secara keseluruhan ada penumpang yang naik. Dan setiap hari jumlahnya bertambah.
Salah satu penumpang yang ditolak, Rani mengatakan, ia tidak tahu jika naik KA reguler tetap harus membawa hasil rapid test. Menurut sepengetahuannya, pemberlakuan hasil rapid test hanya untuk naik Kereta Api Luar Biasa (KLB) yang dioperasikan beberapa waktu lalu.
“Saya kira untuk KA reguler tidak harus membawa hasil rapid test, jadi gagal berangkat,” kata Rani yang semula hendak naik KA Serayu.