Pakar Ekonomi Syariah: Ibu Madrasah Pertama bagi Anak

Editor: Makmun Hidayat

Pakar ekonomi syariah, Adiwarman Karim pada webinar bertajuk 'Pentingnya Pendidikan Syariah Sejak Dini' di Jakarta, Jumat (26/6/2020) sore. -Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA — Pakar ekonomi syariah, Adiwarman Karim mengatakan, dalam mengasuh anak, tugas dan tanggung jawab ibu sangat besar. Karena bukan hanya mengasuh, tapi juga mendidik dengan kesabaran dan keiklasan.

Sehingga menurutnya, tidak heran kalau ada ungkapan ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

“Jadi peran ibu sangat penting, karena ibulah madrasah pertama bagi anak-anaknya, orang yang dikasihinya,” ujar Adiwarman pada webinar bertajuk ‘Pentingnya Pendidikan Syariah Sejak Dini’ di Jakarta, Jumat (26/6/2020) sore.

Dia menegaskan, ibu merupakan orang pertama yang mengenalkan norma-norma pada anak sebagai modal awal agar buah hatinya menjadi pribadi yang baik dan menjunjung nilai-nilai Islam dalam kehidupannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, berkata ‘Wahai Rasullah kepada siapa aku harus berbakti pertama kali? Rasulullah menjawab, ‘Ibumu! Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab lagi, ‘Ibumu!’ Kemudian dia bertanya lagi, kemudian siapa lagi? Rasulullah menjawab, Ibumu!’. Orang tersebut bertanya kembali, kemudian siapa lagi? Rasulullah menjawab, kemudian ‘ayahmu’.”

Atas dasar itu menurut Adiwarman, peranan ayah dan ibu sama pentingnya dalam keluarga, karena disebut semua oleh Rasullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Lebih lanjut dia menyampaikan, dalam memberikan pendidikan syariah sejak dini, maka yang harus kita ajarkan kepada anak-anak adalah adab, akhlak, tata krama dan nilai-nilai Islam.

Karena dalam hadist Rasullah shalallahu ‘alaihi wasallam, mengatakan tidak ada pemberian dari seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada berupa pendidikan adab, pendidikan tata krama, dan pendidikan ahlak.

“Ini yang penting. Nggak usah dulu ngajarin yang riba-riba, nggak usah. Tanamin dulu ke anak-anak akhlak, adab, dan nilai-nilai Islam serta nilai-nilai kejujuran,” tukasnya.

Kemudian, kita sebagai orangtua harus mengajarkan semua itu dengan cara-cara yang menyenangkan dan membahagiakan anak-anak.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, mengatakan sesungguhnya dalam surga itu ada rumah kebahagiaan.

“Nanti kalau kita meninggal masuk surga kita tahu di surga itu ada satu rumah, yaitu rumah kebahagiaan yang tidak bisa dimasuki oleh siapapun kecuali orang-orang yang membahagiakan anak-anaknya,” terang Adiwarman.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, memberikan tuntunan kepada orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan baik. Salah satu dalam kitab pendidikan anak dalam Islam, ada satu rumusan.

Pertama, ‘Bermain-mainlah dengan anak-anakmu pada 7 tahun pertama. Kedua, yaitu ajarkan disiplin pada 7 tahun kedua.

“Jadi pada 7 tahun kedua, kita sebagai orang tua harus mengajarkan disiplin pada anak-anak. Kalau nggak, jadi kacau balau sampai gede kehidupan mereka,” ujar Adiwarman.

Ketiga adalah, jadikanlah engkau teman baiknya pada 7 tahun ketiga. “Anak-anak mulai remaja, nggak bisa disuruh-suruh lagi, kita orang tuanya harus jadi teman baik mereka,” ucapnya.

Terakhir keempat, yakni ajarkanlah kemandirian pada anakmu pada 7 tahun yang keempat.

“Ini penting banget. Dan madrasah pertama bagi anak-anak adalah ibu, orang yang dikasihinya,” tutupnya.