BATAN Lakukan Pengembangan Pemanfaatan UV-C
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Penelitian pengembangan disinfektan berbasis UV-C diharapkan bisa membantu proses pencegahan paparan virus maupun bakteri yang berpotensi merugikan. Salah satunya yang melakukan penelitian terkait ini adalah Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
Kepala Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir BATAN, Kristedjo Kurnianto, menyatakan, pembuatan bilik radiasi UV C didasarkan pada literatur atau referensi penelitian yang menunjukkan efektivitas UV-C dalam mendeaktivasi bakteri dan virus.

“Kami menginisiasi pembuatan alat ini sejak akhir Maret 2020, ketika PSBB mulai diberlakukan,” kata Kristedjo saat dihubungi, Selasa (23/6/2020).
Ia menjelaskan Sinar Ultra Violet dengan panjang gelombang 100-280 nm yang dikategorikan sebagai UV-C, merupakan kelompok sinar ultra violet dengan panjang gelombang lebih pendek dibanding UV-B (280-315 nm) dan UV-A (315-400 nm).
“Sinar UV-C atau sering disebut UV Germicidal sudah ditemukan sejak akhir era 1800-an dan sudah banyak digunakan sebagai disinfektan di bidang kesehatan. Salah satu yang paling banyak digunakan dalam sterilisasi air mineral dan disinfektan alat-alat kedokteran,” paparnya.
Sinar UV-C, menurutnya, paling sering dihasilkan dari lampu tabung (TL) yang didesain khusus menggunakan merkuri dengan tekanan sedang atau rendah sehingga menghasilkan sinar UV dengan puncak gelombang 254 nm yang diserap dan menghancurkan DNA.
“Sebenarnya UV-C ini bukan hal baru, hanya pemanfaatanya harus dipahami dengan baik sehingga tidak menimbulkan bahaya bagi operator dan penggunaannya efektif. UV-C daya tembusnya sangat rendah bahkan tidak mampu menembus kaca bening. Jadi UV-C hanya efektif mendisinfektan permukaan saja,” ujarnya.
Kristedjo menegaskan UV-C pada spektrum yang agak lebar jika terkena kulit atau mata manusia akan berbahaya karena bisa menimbulkan kanker dan katarak.
“Itu sebabnya pemanfaatannya harus memperhatikan aspek keselamatan. Saat ini di Jepang dan Amerika sedang dikembangkan Lampu far UV-C dengan panjang gelombang 222 nm yang diyakini efektif mendeaktivasi virus tanpa merusak kulit dan mata manusia. Diproduksi tidak menggunakan lampu yang mengandung merkuri tapi dalam bentuk semacam LED yang berbahan campuran Aluminium Galium Nitride (Al-GaN),” urainya lebih lanjut.
Ia menyatakan prinsip penggunaan UV-C bukanlah hal yang baru. Tetapi PRFN BATAN akan terus mengembangkannya.
“Ke depan kami hendak memastikan purwarupa kami efektif dengan menghitung dan mengukur dosimetri UV dan juga mengkombinasikan dengan penggunaan gas ozon untuk deaktivasi bukan hanya virus. Tapi juga superbug (kuman yang resisten terhadap obat antimikroba seperti antibiotik dan antijamur) yang sebenarnya juga jadi concern dunia kesehatan saat ini,” pungkasnya.
Di alam sendiri, Peneliti Atmosfer Deni Septiadi menyatakan, UV-C merupakan jenis UV yang paling dihindari karena daya rusaknya paling besar terhadap kulit.

“Namun demikian, untungnya radiasi UV C ini difilter di lapisan Stratosfer oleh lapisan ozon sehingga tidak sampai ke permukaan,” ujarnya saat dihubungi terpisah.
Ia menyatakan sampai sekarang belum ada penelitian spesifik akan UV C terhadap Covid 19.
“Selama ini beberapa rumah sakit menggunakannya sebagai disinfektan untuk membunuh virus dan mikroba serta mensterilkan ruangan atau peralatan. Tapi kalau saya lihat sifatnya terhadap kulit, pemakaian atau paparan UV langsung ke manusia dengan tujuan membunuh virus malah berbahaya, karena bisa menyebabkan kanker atau risiko paling kecil adalah iritasi kulit,” ujarnya.
Ia menjelaskan dibandingkan UV A, dan B, UV C ini penetrasinya ke kulit lebih dalam sehingga berbahaya.
“Kalau di alam, UV C tidak sampai ke permukaan. Hanya UV A dan B saja. Nah UV A dan B ini energi dan penetrasinya tidak sebesar UV C sehingga tidak membunuh virus secara cepat. Jadi ketika kita berjemur di panas pagi sebenarnya hanya menerima UV A dan B,” ujarnya.
Oleh karena itu, Deni menyebutkan UV-C hanya digunakan untuk disinfektan ruangan atau peralatan medis untuk sterilisasi. Bukan ke tubuh manusia.
“Sepengetahuan saya Amerika saat ini masih menentukan standar dosis atau mutu UVC ini agar aman penggunaannya,” pungkasnya.