Sektor Usaha Kuliner di Lamsel Tetap Bertahan Meski Sepi Pembeli

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Sektor usaha kuliner di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) tetap bertahan selama masa pandemi Covid-19. Namun imbas larangan mudik kendaraan, penumpang yang akan naik kapal berkurang signifikan.

Harni, salah satu pemilik usaha warung makan di jalan lintas sumatera (Jalinsum) menyebut normalnya penjualan akan meningkat saat arus balik lebaran. Memasuki arus balik lebaran Idul Fitri 1441 H hari keenam arus lalu lintas di Jalinsum justru lengang.

Dalam satu malam ia menyebut bisa mendapat omzet sekitar Rp1,5 juta. Namun semenjak masa pandemi Covid-19 ia hanya mendapatkan penghasilan maksimal Rp600.000. Jumlah nasi dan lauk ikan lele, ikan nila, daging ayam dan bebek mulai dikurangi. Ia memilih menyediakan stok terbatas dalam kondisi sepinya arus balik usai lebaran.

“Larangan mudik sekaligus syarat yang sulit untuk balik ke pulau Jawa membuat hanya sedikit orang memutuskan kembali bekerja menyebabkan sektor usaha kuliner kehilangan sekitar 70 persen peluang konsumen yang melintas di Jalinsum,” terang Harni saat ditemui Cendana News di warungnya, Sabtu malam (30/5/2020).

Pelanggan yang masih tetap membeli olahan kuliner miliknya merupakan pekerja sektor informal. Menjual kuliner pecel lele, ayam, bebek dengan harga perporsi mulai Rp15.000 tetap dipertahankannya.

Senada dengan Harni, pemilik usaha kuliner lain bernama Lilis mengaku tetap berjualan selama masa pandemi Covid-19. Sebelumnya ia libur satu bulan selama masa puasa ramadan namun kembali berjualan tiga hari usai Idul Fitri. Penurunan jumlah konsumen secara signifikan menjadikan usaha miliknya mencari cara agar tetap bertahan.

“Saya tetap berjualan karena memiliki pelanggan tetap karyawan toko waralaba, tukang ojek hingga pengemudi yang melintas,” terang Lilis.

Sejumlah warung makan yang memilih tutup menurutnya dominan karena omzet menurun. Strategi tetap berjualan dengan mendapatkan untung sedikit dilakukan olehnya.

Lilis mengaku bertahan dengan tetap berjualan untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Sebab sebagian pelanggan yang telah cocok dengan rasa sambal serta lauk miliknya akan selalu kembali. Pelanggan tetap dominan pengemudi kendaraan ekspedisi asal Sumatera akan mampir untuk makan sebelum naik ke kapal sembari menunggu pemesanan tiket online.

“Jeda waktu sekitar satu jam bisa digunakan untuk reservasi tiket online sembari makan malam,” terangnya.

Usaha kuliner yang mengalami pasang surut ikut dipengaruhi oleh sektor transportasi. Sebab keberadaan jalan tol trans Sumatera ikut membuat pelanggan berkurang. Kendaraan truk melintas via tol memberi dampak signifikan. Saat masa pandemi Covid-19 berkurangnya kendaraan pribadi ikut menurunkan omzet. Namun sejumlah pengemudi truk ekspedisi tetap menjadi pelanggan tetap.

Berkurangnya jumlah warung makan di wilayah jalur Jalinsum ikut memberi dampak bagi pengurus ekspedisi. Tanggamus, salah satu pengurus mengaku usaha kuliner yang tetap bertahan dominan di kawasan pelabuhan. Itupun terbatas pada sejumlah dermaga yang menjadi tempat melintas kendaraan ekspedisi.

“Warung makan di area terminal penumpang semua tutup karena penumpang pejalan kaki tidak bisa menyeberang,” cetusnya.

Selain di area dermaga sejumlah warung makan yang tetap bertahan ada di Kilometer 1 hingga 3 Bakauheni. Sistem pemesanan tiket yang telah bermigrasi ke online memberi waktu tunggu lama bagi pengemudi. Sebab sebelum memperoleh barcode tiket pengemudi bisa istirahat di sejumlah rumah makan yang buka selama 24 jam.

Hubungan simbiosis mutualisme antara pengurus jasa ekspedisi dan usaha kuliner cukup erat. Sebab sebagian pengurus ekspedisi memiliki relasi untuk menyediakan makanan bagi pengemudi. Relasi baik tersebut kerap diberikan dengan sistem deposit sehingga pengemudi bisa makan dan pembayaran dilakukan pengurus. Namun selama pandemi Covid-19 hanya sebagian warung makan bertahan jadi pilihan pengemudi dan pengurus ekspedisi.

Lihat juga...