Harga Anjlok, Pengepul dan Petani Karet di Lebak Mengeluh
LEBAK – Sejumlah pengepul dan petani di Kabupaten Lebak, Banten, mengeluhkan anjloknya harga karet. Hal tersebut sudah dirasakan sejak penyebaran pandemi virus corona atau COVID-19 terjadi.
Para pengepul dan petani karet saat ini merasakan dampak merosotnya pendapatan. “Sebelum pandemi COVID-19, harga karet berbentuk lump diterima perusahaan pabrik karet Rp9.000 per-Kg, namun kini hanya Rp5.000 per-Kg,” kata Cenglih (60), seorang pengepul karet di jalan raya Rangkasbitung-Leuwidamar Kabupaten Lebak, Rabu (13/5/2020).
Merosotnya pendapatan itu membuat para pengepul hanya mampu bertahan hidup. Selain itu, mereka juga kesulitan mendapatkan permodalan, karena mereka perusahaan yang menampung karet tidak membayar tunai.
Kebanyakan perusahaan tersebut mengutang ke pengepul, sedangkan pengepul ke petani membayar tunai tanpa diutang. Pengepul mendatangi petani di sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak dan Jasinga, Kabupaten Bogor. “Kami dalam kondisi pandemi COVID-19 itu masih bertahan masuk kategori hebat, karena bisa menghidupi petani,” tandasnya.
Menurutnya, mereka sudah beraktivitas puluhan tahun sebagai pengepul karet. Dan kali ini adalah kali pertama merosotnya pendapatan, hingga menimbulkan kesulitan keuangan. Karena pandemi Corona, perusahaan harus sampai mengutang.
Saat ini, Cengli menampung karet dari petani hingga lima ton. Namun kini, dia hanya mampu menampung 2,5 ton per-hari. Dan jika menjual 2,5 ton dengan harga Rp5.000 per-Kg, maka jika diakumulasikan pendapatan perhati sebesar Rp12.500 juta. “Saya kira pendapatan sebesar itu tidak menguntungkan, dan habis untuk biaya angkutan. Sebelum pademi COVID-19 bisa menjual lima ton per-hari atau menghasilkan Rp25 juta, dan bisa meraup keuntungan,” tandasnya.
Pengepul lain, H Sukatma (55) mengatakan, selama ini usaha karet sudah tidak bisa dijadikan andalan untuk menopang ekonomi keluarga. Hal itu dikarenakan, pendapatan merosot hingga 70 persen.
Omzet itu sangat memukul para pengepul karet, karena kebanyakan perusahaan pabrik karet saat ini sedang dalam kondisi krisis keuangan. Perusahaan tidak mampu membayar tunai, sementara pengepul membeli dari petani secara tunai. “Kami saat ini hanya bisa menjual karet ke perusahaan pabrik karet Rp10 juta dan jika dihitung cukup biaya angkutan juga ditambah perusahaan pabrik karet mengutang,” tandasnya.
Cecep (55), seorang petani karet di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak mengaku, sejak dua bulan terakhir ini harga karet anjlok dari Rp9.000 per-kg menjadi Rp3.400 per-kg. Hal itu sangat berdampak terhadap pendapatan petani.
Saat ini, petani karet di wilayahnya banyak yang memberhentikan tenaga pengambil getah karet. Hal itu dipicu harga karet di pasaran yang anjlok hingga 80 persen, dari harga sebelumnya Rp9.000 per-kg. “Kami merugi dengan turunnya harga itu, karena tidak sebanding dengan biaya produksi,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar mengatakan, saat ini petani karet tidak bersemangat untuk mengembangkan usaha mereka. Termasuk tidak bersemangat untuk melakukan peremajaan, karena harga karet di pasaran anjlok.
Berdasarkan data, jumlah areal perkebunan karet di Kabupaten Lebak mencapai 11.200 hektare. Kegiatannya dapat menyerap tenaga kerja lokal sekira 250.000 orang. “Kami mendorong agar petani tetap melakukan peremajaan dengan benih berkualitas, sehingga bersaing harga di pasaran,” pungkasnya. (Ant)