Atasi Kekurangan Air dengan Teknologi Superbodi ala Unsoed
Editor: Makmun Hidayat
BANYUMAS – Musim tanam kedua ini, para petani di Kabupaten Banyumas akan dihadapkan pada musim kemarau. Karenanya untuk mengatasi minimnya ketersediaan air, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto menerapkan teknologi superbodi.
Dosen Fakultas Pertanian Unsoed, Dyah Susanti menjelaskan, teknologi superbodi yaitu dengan cara memasukan benih tanaman lain di tengah bonggol tanaman padi. Benih tanaman yang dimasukan yaitu biji palawija seperti jahe, kacang hijau, kedelai dan sejenisnya.
“Benih tanaman palawija ini akan menjaga akar tanaman padi dari rekahan tanah akibat musim kemarau, sekaligus mempertahankan sisa bonggol atau pangkal batang tanaman padi sehabis dipanen supaya tetap lembab,” terangnya, Senin (4/5/2020).

Lebih lanjut Dyah menuturkan, benih palawija juga berfungsi sebagai cadangan bahan organik untuk tanaman padi, sehingga pertumbuhan padi bisa maksimal di musim kemarau. Teknologi superbodi tersebut digali dari kearifan lokal petani di beberapa daerah, yang disempurnakan dengan pengaturan jarak tanam sejak pertanaman padi sebelumnya, serta penggunaan varietas unggul.
“Keberadaan dan aktivitas mikroorganisme yang dibawa benih palawija tersebut, akan meningkatkan kesuburan dan kualitas tanah bagi pertumbuhan tanaman,” kata Dyah.
Sementara itu, penggagas teknologi superbodi, Prof. Ir Totok Agung mengatakan, teknologi ini mulai diterapkan di Desa Wlahar Wetan, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Desa tersebut merupakan salah satu desa binaan Fakultas Pertanian Unsoed yang setiap tahun selalu terdampak kemarau cukup parah.
“Lahan pertanian di Desa Wlahar Wetan ini berdampingan dengan Sungai Serayu, tetapi selalu mengalami kekeringan cukup parah. Kita sudah memulai pembinaan dengan memberikan bibit padi Inpago Unsoed 1 yang tahan terhadap kekeringan dan sekarang kita sempurnakan dengan teknologi superbodi,” jelasnya.
Selain itu, Fakultas Pertanian Unsoed juga sudah menerapkan teknologi pompa air bertenaga surya di desa tersebut, yang telah diaplikasikan mulai tahun 2019. Pompa air bertenaga surya ini untuk menaikkan air dari Sungai Serayu dan mengalirkannya ke lahan-lahan pertanian.
“Peluang panen pada musim tanam II ini hanya sekitar 50 persen, berdasarkan laporan para petani. Semoga dengan teknologi superbodi yang diterapkan, bisa menambah peluang panen menjadi lebih besar,” pungkasnya.