Wedang Uwuh, Minuman “Sampah” Kaya Manfaat
Editor: Makmun Hidayat
YOGYAKARTA — Siapa yang tak mengenal minuman khas asal Yogyakarta, bernama wedang uwuh? Minuman rempah berwarna merah menyala ini belakangan begitu populer di kalangan masyarakat.
Terlebih setelah pandemi virus corona merebak, tak sedikit masyarakat berbondong-bondong mengonsumsi minuman yang berasal dari Imogiri Bantul ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Wedang uwuh sendiri dalam bahasa Jawa berarti minuman (wedang) sampah (uwuh). Disebut demikian karena secara kasat mata minuman ini diramu dari aneka dedaunan rempah sehingga menyerupai sampah.
Wedang uwuh memiliki warna merah menyala dengan rasa manis dan sedikit pedas. Warna merah pada minuman ini berasal dari kulit pohon Secang, sejenis pohon berduri yang memiliki ukuran daun kecil.
Sementara rasa pedas pada wedang uwuh berasal dari jahe merah. Tak hanya itu wedang uwuh juga memiliki aroma harum yang khas. Aroma itu berasal dari cengkeh, pala serta kayu manis.

Salah seorang pembuat wedang uwuh asal Pajimatan Imogiri Bantul, Nurul, menyebut untuk membuat wedang uwuh sangatlah mudah. Cukup dengan merebus sejumlah bahan rempah seperti jahe merah, cengkeh, kayu manis, pala, dan secang.
Untuk menambah rasa manis bisa ditambahkan gula batu sesuai selera. Setelah mendidih saring lalu tuang dalam gelas. Wedang uwuh pun siap disajikan dalam kondisi hangat.
“Secang memiliki khasiat dapat menghangatkan tubuh. Begitu juga dengan jahe. Selain itu ditambah sejumlah campuran bahan seperti pala, cengkeh dan lain-lain. Wedang uwuh, memiliki khasiat dapat meningkatkan nafsu makan, melancarkan pencernaan, mengatasi peradangan, anti kanker, dan sebagainya,” ungkapnya.
Kini untuk dapat mengkonsumsi wedang uwuh masyarakat dapat dengan mudah membeli paket instan minuman kaya manfaat ini. Harganya pun relatif murah. Satu bungkus wedang uwuh instan berkisar Rp2000-3000 per bungkusnya.