Rayakan Paskah dalam Keprihatinan Keluarga Kristiani Gelar Among-among
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Puluhan tahun menjadi umat Katolik, kali pertama dalam sejarah Pekan Suci tidak dirayakan di gereja.
Imbas Coronavirus Disease (Covid-19) kerinduan akan suasana malam Paskah tetap ada di keluarga Kristiani di Lampung Selatan (Lamsel). Dalam keprihatinan tidak bisa merayakan Ekaristi ibadah malam Paskah tetap digelar dalam lingkup keluarga.
Aloysius Rukun Haryoto, salah satu kepala keluarga Kristiani menyebut tetap menjalankan ibadah keluarga.
Kelompok basis yang merupakan anggota keluarga menjalankan ibadah tuguran Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah. Meski tanpa hadir di gereja dan tidak mengikuti live streaming, ibadah malam Paskah tetap dijalankan.
Ia menyebut meski tanpa tata liturgi yang lengkap seperti di gereja, kekhusukan tetap dipertahankan. Keakraban anggota keluarga dengan tetap mengikuti protokol kesehatan tidak mengganggu suasana ibadah.
Mengenakan masker, menjaga jarak (physical distancing), cuci tangan dengan sabun tetap dilakukan usai ibadah.
“Sebagai rangkaian ibadah malam Paskah tanpa dilakukan dengan upacara cahaya namun nyanyian exultet sebagai syukur atas Paskah tetap dinyanyikan, bacaan Alkitab tetap dilakukan dan diisi dengan renungan singkat namun suasana ibadah tetap khusuk,” terang Aloysius Rukun Haryoto yang juga memimpin ibadah malam Paskah, Sabtu malam (11/4/2020).
Mengikuti edaran keuskupan Tanjungkarang bernomor : 013/SK/III/2020 ibadah dilakukan di rumah. Sebab masa tanggap darurat Covid-19 bagi gereja Katolik di Lampung akan berlangsung hingga 30 April 2020 mendatang.
Sejumlah gereja yang sementara waktu tidak melakukan perayaan Ekaristi menurutnya tidak menyurutkan umat untuk beribadah.
Keprihatinan rayakan Pekan Suci dengan tetap beribadah diakui Aloysius Rukun Haryoto dimaknai sebagai bagian dari iman.
Suasana ibadah di dalam rumah tanpa kehadiran Pastor dan juga suasana berbeda sekaligus menjadi refleksi iman. Refleksi yang ingin disampaikan diantaranya agar doa bersama keluarga tetap dilakukan. Meski tidak beraktivitas di luar rumah doa keluarga tetap diutamakan.
“Sebagai rangkaian ucapan syukur ibadah bersama keluarga kami akhiri dengan among among atau makan bersama,” cetusnya.

Makan bersama Paskah disebutnya sesuai dengan Alkitab dilakukan oleh bangsa Israel. Sebelum diselamatkan dari perbudakan di Mesir dan menuju tanah terjanji, makan bersama jadi bagian Paskah.
Sesuai dengan tradisi Jawa makan bersama menjadi simbol syukur masih tetap bisa beribadah bersama keluarga. Sebab dalam sejarah gereja Katolik Lampung pertama kalinya umat tidak gelar malam Paskah di gereja.
Menu makanan yang dihidangkan menurut Aloysius Rukun Haryoto cukup sederhana. Nasi putih, tempe bacem, gudangan atau urap urap, mie dan ayam goreng dinikmati bersama.
Sebelum makan doa dengan bahasa Jawa menjadi pembuka dan cuci tangan dengan air mengalir tetap dilakukan. Makan bersama menjadi simbol perjamuan sebelum Paskah kebangkitan Yesus Kristus.
Felix, salah satu anggota keluarga mengaku pertama kalinya tidak mengikuti Ekaristi Malam Paskah di gereja. Meski hanya beribadah dengan keluarga yang dihadiri oleh beberapa orang ia menyebut merasa lebih khusyuk.

Ekaristi yang bisa diikuti melalui live streaming menurutnya kurang bisa diikuti. Meski hanya ibadah keluarga malam Paskah disebutnya penuh makna.
“Dalam keprihatinan kami tetap bisa menjalankan ibadah keluarga merayakan Pekan Suci hingga malam Paskah,” cetusnya.
Among-among yang menjadi tanda syukur diakuinya jadi simbol keprihatinan. Meski dengan menu seadanya namun kebersamaan dengan keluarga jadi tujuan utama.
Malam Paskah yang dirayakan dengan ibadah menurutnya menjadi pengingat bagi anak cucu bahwa suasana Paskah tahun ini menjadi momen keprihatinan mengimani kebangkitan Yesus Kristus.