Dampak COVID-19, Usaha Kuliner di Lamsel Terpaksa Kurangi Karyawan

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) secara tidak langsung ikut berpengaruh pada sektor usaha kuliner. Untuk menekan kerugian akibat sepinya pelanggan, pengusaha terpaksa mengurangi karyawan.

Agustin, pemilik kantin Jatra di pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) menyebutkan, pihaknya terpaksa memilih mengurangi karyawan. Keputusan tersebut dilakukan imbas sepinya pembeli makanan, minuman pada kantin miliknya.

Pada kondisi normal ia mempekerjakan sebanyak enam karyawan yang dibagi dalam dua shift per hari dan bisa menghabiskan sekitar 30 kilogram beras. Imbas Covid-19 dengan berkurangnya jumlah penumpang dari Bakauheni ke Merak dan sebaliknya ikut mengurangi bahan yang dimasak. Semenjak awal Maret hingga jelang berganti April ia maksimal hanya memasak 10 kilogram beras.

“Stok beras rata rata dua sak perhari atau sebanyak 30 kilogram dengan satu karung berisi 15 kilogram habis dalam sehari, kini hanya tidak habis setengahnya karena pembeli mengalami penurunan yang cukup dratis,” terang Agustin saat ditemui Cendana News di kantin miliknya, Selasa (31/3/2020).

Agustin menambahkan kini hanya mempekerjakan 2 karyawan untuk shift pagi dan sore. Sebagai efesiensi pengeluaran biaya operasional ia dan sang suami kembali bekerja menjaga kantin.

Pengurangan karyawan diakui Agustin dilakukan agar ia tetap bisa menjalankan usaha kantinnya. Sebab biaya sewa mencapai hampir Rp10juta per tahun tetap harus dibayarkan setiap bulan dengan cara mengangsur.

Selain Agustin, pemilik kantin di dermaga dua pelabuhan Bakauheni, Marniati mengaku ikut alami penurunan omzet. Bersama suami, ia memilih mengatur waktu berjualan agar operasional warung berjalan 24 jam.

“Pelayanan pelabuhan buka selama 24 jam sehingga warung tetap buka, hanya saja pelanggan berkurang,” cetusnya.

Marniati menyebut menjual makanan dan minuman disiasati dengan mengurangi stok. Dalam sehari ia menyiapkan beras untuk dimasak sebanyak 20 kilogram kini dikurangi menjadi 10 kilogram. Cara tersebut dilakukan agar ia tetap bisa melayani pelanggan yang akan makan di kantin miliknya.

Meski sebagian pelanggan makan dengan cara berhutang ia tetap melayani pesanan terutama sejumlah pekerja kapal. Sebab dalam kondisi situasi ekonomi yang sulit ia juga melihat berkurangnya penghasilan sejumlah pekerja kapal dan pengurus jasa penyeberangan.

Lihat juga...