Sosialisasi Reservasi Tiket ‘Online’ di Bakauheni Perlu Lebih Masif
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Bakauheni, meminta penerapan reservasi tiket online lebih disosialisasikan kepada pengguna jasa.
Warsa, ketua Dewan Gapasdap Bakauheni, menyebut pemberlakuan reservasi online secara wajib bagi pengguna kapal diterapkan PT ASDP Bakauheni sejak Minggu (1/3/2020).
Sosialisasi yang masih belum masif kepada pengguna jasa berimbas kebingungan. Saat pengguna jasa akan menyeberang, dominan merupakan masyarakat yang kurang paham sistem reservasi tiket berbasis online. Meski demikian, Gapasdap tetap mendukung langkah ASDP melakukan upgrade sistem pembelian tiket.

Edukasi kepada masyarakat, menurutnya harus terus dilakukan. Seperti migrasi sistem tiket pada 2019, pengguna jasa harus meninggalkan sistem pembelian tiket tunai ke nontunai.
Sistem nontunai (cashless) diterapkan dengan memakai uang elektonik himpunan bank negara (Himbara). Uang elektronik yang digunakan meliputi Tapcash, Brizzi, Blink dan Emoney.
“Migrasi penerapan pembelian tiket tahap pertama selama hampir setahun saja masih banyak pengguna jasa bingung, namun sekarang sudah beralih ke reservasi online, di mana sebagian pengguna jasa tidak bisa menggunakan gawai untuk pemesanan online,” ungkap Warsa, di Bakauheni, Selasa (3/3/2020).
DPC Gapasdap Bakauheni, menurut Warsa telah mengikuti regulasi yang diatur pemerintah. Namun sepanjang regulasi tersebut bisa diikuti dan memudahkan masyarakat, akan diterapkan. Namun dalam praktik penerapan reservasi tiket online, sebagian pengguna jasa bingung tidak memiliki smartphone. Imbasnya, masih banyak yang menggunakan pembelian tiket secara langsung (on arrival) dengan uang elektronik.
Warsa juga menegaskan, reservasi online tiket menjadi cara yang bagus untuk mengedukasi maayarakat. Dalam perjalanan menggunakan moda transportasi kapal, dianjurkan menggunakan uang elektronik. Pembelian dengan online sekaligus memudahkan pengguna jasa, tidak harus mengantre di loket kendaraan dan pejalan kaki.
“Tujuan jangka panjang tentu sangat bagus, namun sepanjang belum ada Peraturan Menteri Perhubungan, sistem pembelian dengan uang elektronik tetap dilayani,” tegas Warsa.
Reservasi online, menurutnya masih perlu gencar disosialisasikan kepada masyarajat. Meski zaman teknologi sudah jamak di masyarakat, namun sebagian tidak bisa menggunakan aplikasi reservasi online. Sebagian pengguna jasa menurutnya masih memiliki animo tinggi menyeberang menggunakan kapal laut, meski apa pun sistem diterapkan.
Sebagian pengguna jasa, bahkan disebutnya mengira reservasi online hanya untuk kapal eksekutif. Sebab, selama ini disediakan seiutar 4 kapal eksekutif di terminal eksekutif anjungan agung, dan sebagian dilayani kapal reguler.
Sebagian pengguna jasa yang memilih kapal reguler bagi pejalan kaki dengan tiket hanya Rp15.000, .masih memakai pembelian langsung dengan uang elektronik.

“Pada tahap sosialisasi, beruntung pelayanan dengan uang elektronik masih boleh digunakan dan ada fasilitas top up,” cetus Warsa.
Susianti, pengendara kendaraan pribadi mengaku masih bingung dengan sistem reservasi online. Ia menyebut tidak melakukan reservasi online, karena tidak memiliki saldo cukup di ATM. Ia bahkan memilih menggunakan uang elektronik yang juga berfungsi sebagai E-toll. Menggunakan fasilitas jalan tol, diakuinya lebih praktis memakai uang elektronik yang bisa digunakan membeli tiket kapal.
“Reservasi online cukup mudah, karena jadwal bisa diatur, namun karena belum terbiasa saya masih gunakan uang elektronik,” cetusnya.
Ia juga mendukung migrasi sistem reservasi online untuk memudahkan pengguna jasa. Sebab, akan sangat menguntungkan ketika masa liburan panjang. Setelah membeli tiket secara online, ia bisa masuk ke area pelabuhan tanpa harus mengantre. Kode pemesanan dengan barcode akan digunakan untuk mencetak tiket di pelabuhan Bakauheni, tanpa harus mengantre.
Sementara itu, Humas PT ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni, Saifulail Maslul, menyatakan, reservasi online pada awal Maret sudah disosialisasikan sejak lama. Sistem baru tersebut merupakan penyempurnaan sistem lama. Sebab, tren penggunaan uang digital dengan uang elektronik mulai diterapkan pada jalan tol, bandara.
“Reservasi online tentunya sudah umum di kereta api, pesawat, namun baru dalam transportasi kapal, masih terus akan disosialisasikan,” terangnya.
Namun bagi pengguna jasa yang akan menyeberang, Saifulail Maslul menyebut pembelian tiket dengan uang elektronik masih dilayani. Sejumlah vendor penyedia top up atau isi saldo uang elektronik masih tersedia di pelabuhan Bakauheni.
Vending machine untuk membeli tiket dengan uang elektronik juga disediakan memudahkan pengguna jasa. Sosialisasi secara masif akan dilakukan, agar penguna jasa beralih ke reservasi online.