Pelaku Usaha Pairwisata di Lamsel Alih Profesi
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Sejulmah pelaku usaha pariwisata di Lampung Selatan, untuk sementara memilih beralih profesi, akibat sepinya wisatawan, menyusul mewabahnya Covid-19.
Sanuri, warga di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, bersama sang istri biasa berjualan di pantai Agro. Namun sejak dua pekan terakhir, ia beralih profesi menjadi pencari kerang.
Mencari kerang bulu, kerang putih, kerang darah dan jenis kerang lain dilakukan untuk tetap mendapat sumber penghasilan. Meski tidak ada perintah penutupan objek wisata, edaran pemerintah daerah melakukan kerja dari rumah, belajar di rumah, membuat warga enggan bepergian.

Menurut Sanuri, selain memukul sektor pariwisata, Covid-19 juga menyebabkan menurunnya jumlah pembeli kerang. Padahal, objek wisata bahari pantai Agro selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal dengan mengajak serta keluarga. Larangan bepergian berimbas tidak ada wisatawan berkunjung.
“Pengunjung ke pantai Argo sebelumnya merupakan warga asal luar kecamatan Ketapang, bahkan dari Lampung Timur, namun sejak ada upaya pencegahan Covid-19, banyak warga membatasi bepergian terutama ke objek wisata,” terang Sanuri, Minggu (22/3/2020).
Sebagian pengelola objek wisata yang ada di pantai Agro, menurutnya memanfaatkan sepinya kunjungan dengan pekerjaan lain yang menghasilkan uang. Selain mencari kerang, sebagian nelayan memilih membudidayakan kerang hijau dan rumput laut. Jenis rumput laut putih atau spinosum, menurutnya bisa dipanen usia 30 hari, sehingga ia bisa mendapat hasil selama wisatawan tidak datang.
Berjualan sejumlah makanan, minuman ringan ia bisa mendapat omzet Rp1juta per hari. Namun imbas wisatawan yang berkurang signifikan, ia hanya mendapat omzet sekitar Rp200ribu per hari. Omzet tersebut menurutnya karena pengunjung sebagian merupakan warga yang akan memancing ikan,mencari kerang. Mengajak serta keluarga, sebagian warga memesan makanan dan minuman ringan.
“Pada masa kegiatan belajar dan bekerja di rumah, warga tidak diperkenankan untuk bepergian, jadi berpengaruh bagi usaha pariwisata,” cetusnya.
Andik, warga setempat, mengaku meski objek wisata sementara tidak dikunjungi, warga bisa mendapat alternatif penghasilan. Sempat menjadi juru parkir untuk pengunjung objek wisata bahari pantai Agro, ia memilih memcari kerang bulu.
Hasil pencarian kerang bulu akan dijual dengan harga Rp10.000 per kilogram. Dalam sekali pencarian, ia bisa mendapatkan sekitar 20 kilogram, sehingga mendapat hasil Rp200ribu.
“Hasil bisa lebih banyak, namun harus bisa berendam dalam air laut selama berjam-jam,” bebernya.
Dampak bagi sektor pariwisata bahari imbas Covid-19, juga diakui Madroi, Camat Ketapang. Imbauan agar masyarakat bekerja dari rumah, belajar di rumah menurutnya harus dipatuhi. Sebab, kesempatan tersebut bukan menjadi waktu untuk berwisata. Namun, berkurangnya kunjungan wisatawan ke objek wisata bahari juga bisa berdampak positif.
“Lokasi objek wisata bisa melakukan pembenahan, sampah plastik bisa dikurangi,” beber Madroi.
Protokol kesehatan yang melarang warga bepergian, berwisata diakuinya bertujuan positif. Bagi para pelaku usaha pariwisata, berkurangnya kunjungan wisatawan harus disiasati dengan pekerjaan lain. Sebab, di sektor wisata bahari sebagian pelaku usaha bisa beralih mencari ikan, kerang dan budi daya. Usai virus Covid-19 berakhir, ia berharap objek wisata kembali ramai dikunjungi wisatawan.