Warga di Sikka Bangun Tanggul Penahan Gelombang Sendiri

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Ancaman abrasi yang terus terjadi membuat warga yang bermukim di pesisir pantai utara kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tepatnya di wilayah timur kota Maumere di kecamatan Kangae selalu mengalami abrasi setiap tahunnya.

Dalam setahun daratan tergerus minimal hingga 30 sentimeter sehingga rumah penduduk, kafe, hotel dan tempat usaha lainnya tanahnya semakin menyempit dan bangunannya terancam rubuh apabila tidak dibangun tanggul penahan ombak.

“Setelah adanya pembangunan tanggul tahun 2018 kami sudah bisa tidur nyenyak saat musim angin kencang dan gelombang tinggi,” kata Wenefrida Efodia Susilowati, warga desa Habi, kecamatan Kangae, kabupaten Sikka, provinsi NTT, Selasa (11/2/2020).

Wenefrida Efodia Susilowati, warga desa Habi, kecamatan Kangae, kabupaten Sikka, provinsi NTT yang membangun sendiri turap pengaman pantai di pesisir pantai rumahnya saat ditemui, Selasa (11/2/2020). Foto: Ebed de Rosary

Susi sapaannya mengatakan, pihaknya terpaksa merogoh uang dari kocek pribadi sebab ancaman abrasi semakin mengkhawatirkan karena saat gelombang tinggi terjangan ombak bisa masuk ke dalam rumahnya.

Padahal kata dia, jarak rumahnya dengan pesisir pantai dahulu 10 meter tetapi sejak 5 tahun terakhir mulai menyusut dan tersisa sekitar 8 meter saja karena terjangan ombak semakin besar.

“Dahulu di pantai ini banyak pohon kelapa dan waru tetapi sejak 5 tahun terakhir semuanya sudah tumbang karena terkena abrasi. Kami terpaksa membangun tanggul dan menimbun batu-batu berukuran besar di depan tanggul setinggi 2,5 meter,” tuturnya.

Untuk membangun tanggul semen dengan lebar sekitar 40 sentimeter dan panjang mencapai sekitar 30 meter Susi mengaku, menghabiskan anggaran hingga puluhan juta rupiah karena semuanya dibiayai sendiri.

Dirinya beralasan, lebih baik mengeluarkan uang untuk membangun tanggul sendiri sebab pihaknya juga menyediakan homestay yang penghuninya turis asing yang sedang bertamasya di kabupaten Sikka.

“Saya kan punya penginapan sebanyak 6 kamar dan juga kafe sehingga keamanan wisatawan asing harus terjaga. Sekarang kita sudah tenang tidur malam meskipun ombak besar,” ujarnya.

Fredinandus Nong, salah seorang nelayan yang perahunya biasa ditambatkan di pantai Lokaria desa Habi mengatakan, abrasi di pesisir pantai desa Habi dan wilayah kecamatan Kangae lainnya diakibatkan pembangunan turap pengaman pantai di kota Maumere.

Semua wilayah di pesisir pantai kota Maumere sejak dari pelabuhan Laurens Saya Maumere ke arah timur sudah dibangun tanggul pengaman pantai sehingga air laut akan menghantam wilayah yang belum dibangun turap pengaman.

“Kami juga kesulitan untuk menambatkan perahu karena semua wilayah di kelurahan Waioti yang menjadi kediaman kami sudah dibangun turap pengaman pantai. Maka perahu kami tambatkan di pesisir pantai desa Habi ini,” tuturnya.

Lihat juga...