Penggunaan Motor Knalpot Racing di Sikka Ganggu Beribadah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Penggunaan knalpot racing sepeda motor yang kian marak di masyarakat baik di kota Maumere maupun di pelosok kecamatan bahkan desa membuat resah.

Pihak Polres Sikka sejak tiga tahun terakhir selalu melakukan razia dan pemusnahan knalpot racing namun penggunaannya pun kian marak padahal tidak sesuai standar.

“Saya tidak menggunakan sepeda motor dengan knalpot racing karena pasti akan kena tilang oleh polisi dan sangat menganggu orang yang sedang beribadah,” kata Pankrasio Raul Darma Putra, siswa kelas XI Mipa 1, SMAK Bhaktyarsa Maumere, kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (3/2/2020).

Raul sapaannya mengatakan, dirinya bersama teman pelajar lainnya diundang hadir oleh Polres Sikka untuk bisa menyaksikan pemusnahan knalpot racing di halaman Markas Polres (Mapolres) Sikka.

Ketua OSIS SMAK Bhaktyarsa ini mengakui, kebetulan di sekolahnya yang berjarak tak jauh dari mapolres Sikka ini, hampir tidak ditemukan siswa yang mengendarai sepeda motor yang menggunakan knalpot racing ke sekolah.

“Untuk para pelajar saya meminta agar jangan menggunakan knalpot racing karena sangat mengganggu dan meresahkan orang lain. Selain itu, tidak ada manfaatnya bila digunakan,” imbaunya.

Menurut Raul, pelajar dan remaja yang mengendarai sepeda motor yang menggunakan knalpot racing hanya sekedar mencari sensasi karena agar terlihat keren kalau dipergunakan tetapi itu sangat mengganggu kenyamanan masyarakat.

“Paling hanya sekadar untuk gagah-gagahan saja agar terlihat keren di mata teman-temanya.T etapi ini sangat meresahkan dan bisa merugikan diri sendiri kalau kena razia polisi atau ditegur masyarakat saat melintasi jalan di kompleks perumahan,” tuturnya.

Hendro, salah seorang pelajar mengaku, kena tilang oleh polisi yang sedang melakukan razia di jalan raya saat hari Sabtu (1/2//2020) dan sepeda motornya diangkut ke Mapolres Sikka.

Dirinya mengaku membawa serta orang tuanya sebagai jaminan untuk meyakinkan polisi agar tidak menggunakan sepeda motor yang memakai knalpot racing serta membawa knalpot standar untuk ditunjukkan kepada polisi.

“Untuk mengambil sepeda motor, saya terpaksa harus mengikuti sidang tilang dan membayar denda. Saya harus membeli knalpot baru yang sesuai standar lalu membawanya ke Polres Sikka baru sepeda motornya bisa diambil,” ungkapnya.

Hendro mengaku, kejadian ini sebagai pelajaran buat dirinya karena menggunakan knalpot racing. Dirinya pun mengaku knalpot racing yang dipergunakannya dikasih oleh teman sekolahnya.

Seorang pelajar dibantu anggota Satlantas Polres Sikka Polda NTT sedang memotong knalpot racing menggunakan gergaji mesin saat proses pemusnahan di halaman Mapolres Sikka, Senin (3/2/2020). Foto: Ebed de Rosary

Disaksikan Cendana News di halaman Mapolres Sikka, para pelajar diundang untuk memotong knalpot racing menggunakan gergaji mesin serta menyaksikan pemusanahan knalpot tersebut.

Sebuah alat berat Tandem Roller dipergunakan untuk menggilas knalpot-knalpot racing yang diletakkan di aspal jalan di halaman Mapolres Sikka disaksikan puluhan pelajar SMP dan SMA serta segenap anggota Polres Sikka maupun pemilik sepeda motor.

Lihat juga...