Pengembangan Curug Gajah Mati Terkendala Akses Jalan

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Kawasan Gunung Goci, Desa Ruguk,Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) menyajikan keindahan alam yang mempesona. Salah satu spot menarik diantaranya air terjun atau dikenal dengan sebutan Curug Gajah Mati.

Meski menarik untuk dikunjungi akses jalan menuju ke objek wisata tirta tersebut masih menjadi kendala. Akses jalan yang sebagian jalan aspal, jalan onderlagh, rabat beton dan tanah harus dilalui. Akses jalan sepanjang empat kilometer untuk menuju spot air terjun masih sulit dilintasi terutama saat penghujan.

Sutrisno, salah satu pemuda di Dusun Gunung Goci Desa Ruguk Kecamatan Ketapang Lampung Selatan, anggota Karang Taruna yang akan mengembangkan Curug Gajah Mati untuk destinasi wisata, Minggu (9/2/2020) -Foto: Henk Widi

Sutrisno, salah satu pemuda anggota Karang Taruna setempat mengaku warga telah melakukan gotong royong memperbaiki kondisi jalan. Perbaikan akses jalan dimulai dari lahan perkebunan yang saat ini masih ditanami jagung oleh warga.

Akses jalan turun ke titik air terjun yang terletak di lembah melintasi tebing berbatu. Penataan akses jalan dilakukan dengan batu yang disusun memudahkan pengunjung turun. Rencananya jalan akan dibuat tangga berundak melalui pembangunan swadaya masyarakat dibantu desa.

“Curug Gajah Mati mulai dikenal masyarakat karena sering diunggah ke media sosial, namun akses masih sangat alami sehingga pengunjung dominan penyuka wisata petualangan alam, tapi warga berkomitmen melakukan penataan agar akses lebih mudah,” ungkap Sutrisno saat ditemui Cendana News, Minggu (9/2/2020).

Akses jalan menuju ke lokasi Curug Majah Mati menurut Sutrisno masih sangat alami. Saat akan turun ke bagian bawah air terjun pengunjung harus berpegangan pada akar gantung pepohonan. Keasrian alam yang sebagian merupakan pohon berusia ratusan tahun menurutnya menjadi daya tarik bagi pengunjung. Penambahan pagar pelindung pegangan dan dari bambu menurutnya terus dilakukan.

Penambahan fasiilitas toilet, kamar bilas, saung tempat bersantai juga ada dalam rencana pengembangan. Sutrisno menyebut gotong royong yang dilakukan oleh warga masih dilakukan sepekan sekali. Sebab aktivitas warga yang dominan sebagai petani masih disibukkan dengan kegiatan merawat tanaman jagung. Komitmen warga untuk menjadikan Curug Gajah Mati sebagai destinasi pilihan secara bertahap dilakukan.

“Keterbatasan sumber dana serta sumber daya manusia membuat kami selalu berkonsultasi juga dengan Dinas Parisiwata,” beber Sutrisno.

Pengunjung menurut Sutrisno masih enggan datang setelah melihat akses jalan. Sebab kendaraan roda dua dan roda empat yang akan menuju ke wisata tirta tersebut harus melintasi perbukitan. Akses jalan berbatu membuat jalan sepanjang empat kilometer yang bisa ditempuh selama seperempat jam harus ditempuh selama satu jam. Jika akses jalan mulus ia memastikan perjalanan akan semakin lancar.

Saiful, Kepala Desa Ruguk Kecamatan Ketapang Lampung Selatan berencana mengembangkan destinasi wisata Curug Gajah Mati dengan memaksimalkan peran serta masyarakat, Minggu (9/2/2020). -Foto: Henk Widi

Terkait pengembangan objek wisata Curug Gajah Mati, Saiful, Kepala Desa Ruguk menyebut pemerintah desa setempat telah memberi prioritas. Sebagai salah satu objek wisata yang dimiliki di wilayah pegunungan akan menambah koleksi objek wisata di wilayah itu diantaranya pantai alami yang lebih dahulu dikenal.

Saiful menyebut prioritas pengembangan destinasi wisata Curug Gajah Mati sekaligus menjadi bagian dari upaya menggerakkan ekonomi masyarakat. Akses jalan yang selama ini digunakan merupakan penghubung antara Desa Ruguk menuju ke Desa Hatta yang berada di Kecamatan Bakauheni. Pembangunan infrastruktur jalan menurutnya akan dibahas dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang).

“Sebagian akses jalan merupakan penghubung antar kecamatan sehingga harapannya bisa dibangun kabupaten,” tuturnya.

Saiful menyebut pada akses menuju ke Curug Gajah Mati penataannya akan melibatkan masyarakat. Sebab dengan semakin banyaknya kunjungan wisatawan akan ikut mendorong ekonomi masyarakat. Warga yang berprofesi sebagai petani bisa menjual hasil pertanian kelapa muda, jagung bakar kepada pengunjung. Penataan jalan menurutnya akan menjadi prioritas pembangunan pada tahun 2020 ini.

Penguatan kelembagaan pada destinasi wisata menurutnya juga akan dlakukan. Seperti sejumlah objek wisata lain yang dikelola masyarakat, ia mendorong agar dibentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Pengelolaan diakuinya bisa dilakukan oleh Karang Taruna yang merupakan warga setempat dan masyarakat. Pengelolaan yang baik akan menjadikan objek wisata Curug Gajah Mati diminati pengunjung.

Syaifuddin Djamilus,Kepala Bidang Pengembangan dan Destinasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan saat ditemui Cendana News, Minggu (9/2/ 2020). -Foto: Henk Widi

Syaifuddin Djamilus, Kepala Bidang Pengembangan dan Destinasi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamsel mendukung langkah Desa Ruguk. Penataan destinasi wisata menurutnya berkaitan dengan Atraksi, Amenitas dan Aksebilitas (3A).

Atraksi Curug Gajah mati menurutnya sudah cukup indah karena air yang alami. Amenitas atau fasilitas yang ada menurutnya perlu ditambah termasuk aksebilitas jalan.

“Tiga pilar utama sebuah objek wisata akan disukai pengunjung berupa 3A dan tambahan sapta pesona agar semakin lengkap,” tuturnya.

Syaifuddin Djamilus menambahkan, pengembangan curug gajah mati diakuinya akan memperkaya destinasi wisata di Lamsel. Sebab di kawasan pesisir pantai timur Lamsel, keberadaan curug merupakan hal yang langka.

Pengelolaan menurutnya bisa dikoordinasikan antara masyarakat, pemerintah desa. Pengelolaan oleh Pokdarwis, Karang Taruna disebutnya akan didukung oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamsel.

Keberadaan Curug Gajah Mati menurut Syaifuddin Djamilus akan memperkaya tujuan wisata air terjun di Lamsel. Sebab selama ini air terjun yang kerap dikenal meliputi Air Terjun Way Tayas, Curup Cugung di Kecamatan Rajabasa. Curug Way Kalam, Curug Jati di Kecamatan Penengahan dan sejumlah curug di Kalianda yang berada seluruhnya di kawasan Gunung Rajabasa.

Lihat juga...