SKB Sikka Kekurangan Laboratorium Komputer
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
MAUMERE — Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sikka yang berada di samping kantor Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih kekurangan laboratorium komputer.
Akibat ketiadaan ruangan laboratorium komputer menyebabkan para murid di sekolah tersebut harus menumpang ujian nasional di sekolah lainnya di kota Maumere.
“Kalau ujian nasional kami harus menumpang di SMKN1 Maumere karena hingga sekarang belum memiliki ruangan laboratorium,” kata Kortensia Dou, kepala sekolah SKB Sikka, provinsi NTT, Kamis (9/1/2020).
Dikatakan Kortensia, pihaknya sudah mengajukan proposal kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar bisa dialokasikan dana pembangunan laboratorium komputer untuk 2020 ini.
Disebutkan, kondisi sekolah sudah jauh lebih baik dibandingkan 4 tahun lalu karena tahun anggaran 2019 lalu, sekolah ini mendapatkan rehab serta pembangunan 2 ruang kelas baru, gedung PAUD serta MCK.
“Meskipun menampung murid untuk paket A, B dan C namun para murid bersekolah sama dengan sekolah formal lainnya. Lulusannya pun banyak yang melanjutkan pendidikan ke sekolah formal,” terangnya.
Untuk tahun ajaran 2019/2020 ini, kata Kortensia, jumlah murid paket A sebanyak 36 orang, paket B 133 serta paket C berjumlah 92 orang, ada remedial khusus untuk murid yang sudah kelas 3 dan memiliki rapor.
SKB Sikka juga membuka bimbingan belajar sore hari pukul 14.30 sampai 17.30 WITA setiap harinya dan para murid remedial juga saat ujian nasional tahun 2020 mereka sudah bisa langsung mengikuti.
“Kami juga mendidik anak murid untuk memiliki keterampilan karena tahun lalai juga sudah dibangun bengkel las dan ruangan untuk pelatihan menjahit. Jadi setelah tamat dan tidak melanjutkan kuliah mereka bisa berwiraswasta,” jelasnya.
Saat ini papar Kortensia, SKB Sikka memiliki tenaga pengajar berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) sebanyak 7 orang dan 25 tenaga pengajar lainnya berstatus guru honor, termasuk dengan sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
“Sekolah kami ini dulu tidak diperhitungkan dan dianggap tidak bermutu. Tapi sekarang banyak yang bisa diterima di sekolah bermutu bahkan rata-rata masuk rangking 10 besar di sekolahnya,” ungkapnya.
Ludgardis Nona salah seorang warga kota Maumere kabupaten Sikka yang ditemui mengaku SKB Sikka pendidikannya sudah lebih baik dibandingkan dengan sekolah kejar paket A, B dan C lainnya di Sikka.
Ludgardis mengaku dulu anak tetangganya yang tidak tamat SMP bersekolah di sekolah tersebut dan ternyata anak tersebut kini sudah berkuliah, padahal dulunya malas sekolah.
“Memang rata-rata banyak anak orang miskin yang putus sekolah dan bersekolah disana. Namun kualitasnya sama dengan sekolah formal, termasuk gurunya pun sarjana semua,” sebutnya.