Mengenal Beatleguese, Bintang Paling Terang Kedua di Orion

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

JAKARTA — Bintang Beatleguese yang menjadi bagian dalam konstalasi Orion diprediksi akan meledak dalam kurun waktu 100 ribu tahun mendatang dan akan menjadi ledakan supernova.

Staf Astronomi POJ Mohammad Rayhan saat menjelaskan tentang fenomena meledaknya Beatleguese di Gedung POJ Cikini Jakarta, Jumat (10/1/2020) – Foto Ranny Supusepa

Staf Astronomi Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ) Mohammad Rayhan menjelaskan, Beatleguese atau Alpha Orionis adalah bintang paling terang kedua dalam konstalasi Orion. Susunan Orion ini dikenal sebagai bintang waluku atau bintang bajak di masyarakat Indonesia.

“Beatleguese ini adalah red supergiant star dan termasuk dalam kelompok bintang terbesar, yaitu nomer 9 terbesar dan memiliki lumonisitas yang besar, yaitu 140 ribu kali dari Matahari. Jaraknya dari Bumi itu sekitar 640 tahun cahaya,” kata Rayhan saat ditemui di Gedung POJ Cikini Jakarta, Jumat (10/1/2020).

Umur Beatleguese diperkirakan 10 juta tahun tahun dan diamati mengalami peredupan mulai tahun 1970-an.

“Bintang bisa diperkirakan kapan matinya saat dia lahir. Karena masa hidup bintang bergantung pada ukurannya. Semakin besar bintang, maka akan semakin pendek umur bintang tersebut. Karena semakin besar, maka akan semakin banyak bahan bakar yang dipergunakan,” urai Rayhan.

Meledaknya suatu bintang menjadi nova atau supernova, bisa diukur dari massa bintang tersebut.

“Beatleguese yang lahir sebagai bintang bermassa besar, termasuk bintang yang boros. Dalam artian, banyak menggunakan bahan bakar. Saat mati, kondisinya tidak stabil sehingga akan terjadi ledakan. Dilihat dari massa-nya, yang 200 kali dari Matahari, kemungkinan Beatleguese akan meledak sebagai supernova merah,” ujar Rayhan.

Proses peredupan Beatleguese yang saat ini diributkan oleh pengamat langit, menurut Rayhan, bisa merujuk pada dua fenomena. Fenomena pertama, bahwa memang Beatleguese mulai meredup untuk meledak. Fenomena kedua, bahwa peredupan ini hanya bagian dari gerakan fisis bintang.

“Alasan fenomena kedua adalah karena Beatleguese merupakan salah satu bintang variabel. Yaitu bintang yang berdenyut,” ujarnya.

Bintang variabel ini memiliki gerak mengembang dan mengempis sebagai akibat reaksi fusi yang tidak stabil.

“Modelnya kayak paru-paru manusia tapi dalam rentang waktu yang panjang. Misalnya, seminggu dia mengembang, seminggu lagi mengempis,” papar Rayhan.

Efek meledaknya Beatleguese ini menurut Rayhan, tidak akan terasa hingga ke tata surya kita.

“Hanya memang karena dia meledak sebagai supernova maka akan menjadi objek pengamatan yang sangat bagus bagi pengamat langit yang menggunakan teleskop kapasitas tinggi,” pungkasnya.

Lihat juga...