Destinasi Wisata Pantai Tanjung Sembilang Terkendala Akses Jalan
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Pengembangan destinasi wisata Pantai Tanjung Sembilang di pesisir timur Lampung Selatan (Lamsel) terkendala akses jalan.
Samsul Anwar, Kepala Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi menyebut wisata berbasis konservasi mangrove tepat di Dusun Kuala Jaya tersebut berada sekitar tiga kilometer dari akses utama Jalan Lintas Timur.

Memiliki keindahan alam pantai, mangrove jenis api api, bakau bakau, perpek dan vegetasi pantai berlumpur membuat potensi objek wisata dikembangkan sejak 2019 silam. Mulai rutin dikunjungi wisatawan setiap akhir pekan membuat pengelola yang tergabung dalam kelompok sadar wisata (Pokdarwis) terus membenahi fasilitas. Treking mangrove dari kayu dan bambu sepanjang ratusan meter dibuat untuk akses pengunjung.
Sejumlah fasilitas menurut Samsul Anwar disiapkan untuk memanjakan pengunjung. Fasilitas tersebut meliputi tempat santai berupa kursi bambu,kursi warna warni terbuat dari ban mobil bekas, ayunan,sejumlah spot foto hingga toilet. Meski sejumlah fasilitas masih sederhana namun ia menyebut antusiasme wisatawan menikmati keindahan alami hutan mangrove terus meningkat.
Salah satu kendala yang disadari desa sebagai penghambat pengembangan Pantai Tanjung Sembilang adalah akses jalan. Saat penghujan akses jalan sepanjang lebih kurang tiga kilometer di sejumlah titik dipenuhi lubang berlumpur. Bagi pengendara mobil praktis akses jalan bagus hanya berada di jalan lintas timur. Selebihnya pengunjung harus rela merasakan sensasi jalan off road dipenuhi kubangan lumpur.
“Pengembangan destinasi wisata menjadi salah satu pendorong bagi pemerintah desa mempercepat upaya perbaikan jalan ke dinas Pekerjaan Umum karena kerusakan jalan belum diperbaiki semenjak belasan tahun silam,” ungkap Samsul Anwar saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (12/1/2020)
Usulan perbaikan jalan disebutnya telah disampaikan melalui musyawarah pembangunan desa (Musrembangdes). Sebab akses jalan darat menjadi jalur utama warga melakukan distribusi hasil pertambakan,mobilitas dan wisata mangrove. Akses jalan yang diperbaiki menurutnya akan mendorong peningkatan kunjungan wisatawan. Sebab destinasi pantai Tanjung Sembilang hanya ramai dikunjungi saat libur akhir pekan.

Samsul Anwar menyebut perbaikan akses jalan menurutnya bisa dimulai dari Dusun Kuala Jaya. Sebab akses jalan menuju ke objek wisata telah dibangun dengan memakai jalan rabat beton. Akses jalan rabat beton ratusan meter menurutnya hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua hingga ke lokasi parkir objek wisata Pantai Tanjung Sembilang. Usulan perbaikan jalan menurutnya sudah dilakukan sejak Lamsel berganti kepala daerah.
“Usulan perbaikan jalan sudah disampaikan selama beberapa kali pergantian kepala daerah meski belum terealisasi hingga kini,” ungkap Samsul Anwar.
Keindahan Pantai Tanjung Sembilang diakui oleh Ahmad Rizal, ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Hijau Lestari. Sebagai salah satu pengurus destinasi wisata pantai Tanjung Sembilang, ia menyebut keindahan di lokasi tersebut tidak bisa diragukan. Jajaran tanaman mangrove jenis api api,bakau bakau menjadi potensi habitat alami satwa. Bagi pecinta wisata petualangan pantai tersebut bisa jadi pilihan.
“Pengunjung kerap datang untuk menyalurkan hobinya dalam dunia fotografi karena spot foto berlatar belakang pantai sangat menarik,” beber Ahmat Rizal.
Sebagai destinasi berkonsep eko wisata edukasi, keberadaan tanaman mangrove bisa menjadi tempat belajar. Sebab mangrove di Bandar Agung merupakan satu kawasan yang masih memiliki vegetasi mangrove terbanyak. Memiliki luas sepanjang 500 hektare lebih,hanya seluas dua hektare wilayah di bawah pengelolaan dan pengawasan Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung dan Hutan Lindung (BPDASHL).

Berada di pantai timur Lamsel, kendala pengembangan destinasi Pantai Tanjung Sembilang ada pada akses jalan. Jalan berlumpur saat musim hujan berimbas sulitnya mencapai lokasi mengakibatkan pengunjung enggan datang saat musim penghujan. Upaya untuk perbaikan akses jalan disebutnya berpotensi untuk menjadikan objek wisata mangrove itu semakin dikenal luas.
“Kunjungan yang semula masih gratis menjadi daya tarik, namun selanjutnya berbayar untuk pemeliharaan fasilitas,” beber Ahmat Rizal.
Jupri, salah satu pengunjung menyebut akses jalan membuat ia sulit mencapai lokasi dengan motor. Jarak sekitar tiga kilometer ditempuh selama setengah jam. Padahal jika akses jalan lebih baik waktu tempuh bisa lebih cepat. Laki laki yang menyukai pengamatan burung (birdwatching) membuat ia memilih pantai Tanjung Sembilang. Vegetasi mangrove yang alami membuat tanaman tersebut menjadi habitat alami burung.
Kunjungan ke destinasi Pantai Tanjung Sembilang menurutnya bisa semakin meningkat jika akses jalan bagus. Selain itu dengan akses jalan yang lebih baik masyarakat bisa lebih mudah mendistribusikan hasil budidaya perikanan.
Menurut Jupri, selama ini masyarakat memanfaatkan akses jalan laut dan Sungai Way Sekampung untuk transportasi. Sebab akses jalur darat yang rusak berimbas meningkatnya biaya operasional bagi kendaraan. Akses jalan yang ditingkatkan menurutnya bisa mendorong wisatawan berkunjung saat akhir pekan dan libur panjang.