Cerita Kampung-kampung di Flotim Dikemas dalam ‘Asal Usul Lewo’

Editor: Makmun Hidayat

LARANTUKA — Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur (Flotim) secara resmi meluncurkan buku Asal Usul Lewo  seri pertama ditulis oleh Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena).

“Buku ini berisi 31 ceritera asal usul lewo (kampung) yang berada di Kabupaten Flores Timur,” kata Maksimus Masan Kian, ketua Agupena Cabang Flores Timur, Minggu (22/12/2019).

Dikatakan Maksi sapaannya, 31 kampung tersebut yakni  Lamahala, Terong Aukoli, Lewotala, Watowiti, Mudakeputu, Lewomuda, Lamatou, Lewolere, Lewotobi, Lewouran, Nobo dan Boru.

Juga ada Leworook, Lewoingu, Lewo Hajong, Lewobele, Lamakera, Lewopao, Balaweling, Witihama, Lewoengat, Lamanele, Nihaone, Ape Lamen, Lamalewa, Wewit, Kenotan, Bui Bayu Wua, Waibreno, Horowura serta Adobala.

“Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur, telah memberi teladan dan inspirasi tentang bagaimana saling mengapresiasi dan menghargai karya,” katanya.

Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Cabang Flores Timur, NTT, Maksimus Masan Kian, saat ditemui Minggu 922/12/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Lewat program penulisan buku Asal Usul Lewo di Flores Timur tambah Maksi, mampu menghasilkan satu referensi budaya bagi generasi Flores Timur yang akan datang.

Tutur lisan sebut dia, bisa jadi terlupakan, tulisan akan kekal sehingga Agupena Flores Timur sebagai pihak yang dipercayakan menulis buku ini, turut berbangga dengan lahirnya karya monumental ini.

“Kiranya buku syarat nilai Lamaholot ini, bermanfaat bagi segenap pembaca. Jadi referensi bagi generasi yang akan datang,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur, Apolonia Corebima menyampaikan terima kasih kepada semua komponen yang berkolaborasi menyelesaikan buku Asal Usul Lewo.

Proses penulisan buku Asal Usul Lewo, tidak mudah kata Nia sapaannya karena sejak informasi dibuka April 2019, minat orang untuk menulis sangat kurang sekali.

“Batas akhir penulisan hingga bulan Juni, dan diperpanjang hingga Agustus belum juga memberikan hasil yang memuaskan. Belum ada tulisan yang masuk,” tuturnya.

Awal Oktober 2019 lanjut Nia, diambil keputusan untuk menghubungi Agupena Flotim karena waktu yang sudah mepet dan Agupena Flotim menunjukan tanggung jawabnya hingga buku dapat diselesaikan.

Buku ini pun, ucap dia,  dicetak sebelum batas akhir yang disepakati bersama sehingga pihaknya sangat berterima kasih atas karya yang dihasilkan ini meskipun waktunya terbatas.

“Ke depannya, kepercayaan yang sama akan kami berikan kepada Agupena Flotim, termasuk beberapa hal lain dalam hubungan dengan promosi objek wisata dan budaya, “ kata Nia.

Buku Asal Usul Lewo sesungguhnya ungkap Nia, mengajak kita semua sebagai anak Lamaholot untuk melihat kembali eksitensi sebuah lewo atau kampung sebagai sebuah persekutuan awal yang kecil lalu berkembang.

Karena proses pernikahan dan juga adanya pendatang, katanya, membina kerukunan dalam sebuah tantanan sosial yang sederhana namun tetap ditaati, membangun relasi dan interaksi dengan lewo lainnya dalam memenuhi kebutuhan.

Lewo sebagai cikal bakal desa dan kelurahan yang ada sekarang sesungguhnya adalah tempat tumbuh dan berkembangnya kesadaran kehidupan bersosial dan mencari solusi atas persoalan-persoalan yang ada, “ ungkapnya.

Di Lewo atau kampung tandas Nia, juga digiatkan ritual-ritual demi menjunjung dan memuliakan Lera Wulan Tanah Ekan, Tuhan sebagai pencipta langit dan bumi yang selalu disembah.

Buku ini lanjutnya, belum mengakomodir cerita asal usul kampung-kampung lainnya secara keseluruhan di Kabupaten Flores Timur. Untuk itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flotim berharap agar ke depan dapat disusun kembali buku cerita Asal Usul Lewo yang lebih lengkap pada edisi selanjutnya.

“Buku ini mengajak dan mengajarkan kita untuk selalu merasa kuat dan yakin saat niku kola (melihat ke belakang, ke budaya kita) dengan ke kewaat (kekuatan) dari lewo kita, untuk secara optimis lage ae (melangkah maju) membangun lewo belen (kampung besar) Flores Timur, “ pesannya.

Lihat juga...