Fadli Zon: PKI Memberontak Karena Mereka Iri

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

JAKARTA — Sebelum mengambil sikap terhadap PKI, Politisi Fadli Zon menyebutkan buku karya Aminudin Kasdi yang berjudul PKI Dalang dan Pelaku Kudeta G30SPKI bisa menjadi salah satu sumber pengetahuan akan sejarah kelam  di Indonesia.

Fadli Zon mengapresiasi cara Aminudin Kasdi yang menyatakan secara langsung bahwa PKI adalah dalang dan pelaku kudeta G30SPKI tahun 1965 dalam bukunya.

“Jadi dalam buku ini secara struktur dan argumentasi menyatakan secara to the point PKI adalah dalang dan pelaku. Saya juga mengapresiasi, argumentasi ini bisa memperkaya diskursus kita karena belakangan ini ada upaya mengaburkan sejarah dan jejak sejarah yang membuat masyarakat dan generasi muda bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi,” kata Fadli Zon saat menjadi pembicara dalam Bedah Buku dan Diskusi Panel PKI Dalang dan Pelaku Kudeta G30SPKI tahun 1965 di Lemhanas Jakarta, Sabtu (23/11/2019).

Salah satu yang paling ekstrim terkait upaya pengaburan sejarah ini, ada pada tulisan Kudeta Perangkap yang ditulis oleh tokoh dengan argumentasi yang lemah dan sumir.

“Saya pernah ikut meneliti tentang kesaksian kekejaman PKI tahun 1948. Saya banyak mewawancarai tokoh-tokoh dan anggota keluarganya yang menjadi korban tapi masih hidup dan yang diculik serta dibunuh. Saya membaca kembali di buku ini,” ujarnya.

Dalam pengamatan Fadli Zon, yang dasar dari ajaran komunis adalah revolusi. Sehingga memang sudah keharusan bagi mereka untuk mengambil alih kekuasaan.

“Merebut alat produk dengan alat revolusioner dan membentuk pemerintahan diktator proletariat, yang akhirnya membentuk masyarakat tanpa kelas,” urainya.

Tujuan komunis ini tidak pernah tercapai. Yang tercipta hanyalah korban manusia berjumlah jutaan. Salah satunya yang terjadi di Museum Kekejaman Kamboja oleh Pol Pot.

“Kenapa mereka harus memberontak? Karena mereka iri karena tidak memiliki peran layaknya kaum nasionalis dan Islam di Indonesia. Akhirnya mereka mengkritik keras dan menyebutkan bahwa revolusi yang dilakukan oleh Indonesia adalah revolusi borjuis, revolusi 45 yang gagal dan ini adalah titik mula mereka mencoba membenarkan,” ujar Fadli Zon.

Tapi karena euforia kemerdekaan yang menyelimuti masyarakat Indonesia saat itu mereka tidak berhasil mempengaruhi masyarakat.

“Baru beberapa tahun kemudian mereka beradaptasi. Saat kabinet Amir Syarifudin pascaperjanjian Renville, jatuh karena keluarnya Masyumi dan PNI  dari kabinet membuat mereka tidak berkuasa. Karena itu adalah tools bagi mereka untuk berkuasa,” papar Fadli Zon.

Pada Januari, akhirnya kelompok komunis membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan menyusun kekuatan revolusioner yang berpuncak pada datangnya Muso yang membuat pamflet Jalan Baru Indonesia.

“Muso mendatangi Soekarno Hatta dan menyatakan akan mengoreksi jalan Indonesia. Tepat sebulan, terjadilah pemberontakan PKI. Tepatnya 18 September 1948. Diawali dengan aksi provokasi, pembunuhan dan pembantaian tokoh agama, ulama, pesantren dan tokoh pemerintahan di wilayah karesidenan Madiun dan sekitarnya,” urai Fadli.

Fadli Zon menyebutkan bahwa tindakan ini sudah direncanakan dalam waktu lama dan menjadi suatu doktrin dan bagian sejarah dari komunisme bahwa mereka harus memberontak.

“Mereka itu berusaha merebut kekuasaan dengan revolusi dan kudeta. Fakta inilah yang menunjukkan bahwa mereka sudah merencanakan kudeta ini,” tandasnya.

Sehingga, Fadli menyatakan, dengan hadirnya buku ini akan bisa memberikan pengetahuan mengenai sejarah untuk diketahui oleh generasi muda dan bukti bahwa PKI adalah dalang dan pelaku kudeta.

“Bagi negara lain, mungkin komunis bukan ancaman. Tapi dalam sejarah Indonesia, sudah memberikan trauma politik yang sangat besar dan meninggalkan korban jiwa dan konflik horizontal sangat besar. Bahkan hampir menjadikan kita menjadi negara komunis. Ini menjadi bukti bahwa mereka sudah merencanakan dan melakukan kudeta,” pungkasnya.

Lihat juga...